OPINI: Money Attitude: Cermin Sikap Kita terhadap Uang
Oleh: Anastasia Sri Mendari,S.E.,M.M
Dosen Program Studi Manajemen Fakultas Bisnis dan Akuntansi Universitas Katolik Musi Charitas
Kenaikan penghasilan pejabat publik akhir-akhir ini menjadi bahan perdebatan di masyarakat. Perdebatan tidak hanya soal angka gaji, tetapi juga kekayaan yang mereka miliki. Fenomena tersebut memunculkan pertanyaan lebih mendalam: mengapa sebagian orang tampak terus ingin menambah penghasilan meskipun sudah berlimpah? Apakah manusia memang cenderung tidak pernah merasa cukup? Uang selalu menjadi topik hangat, dari warung kopi, media sosial, hingga ruang diskusi ekonomi. Kita semua membutuhkan uang untuk hidup. Namun, obsesi terhadap uang sering menimbulkan perdebatan etis dan psikologis. Uang merupakan sistem kepercayaan universal.
Fungsinya sama bagi siapa saja, lintas budaya, dan usia. Namun, makna uang bisa sangat berbeda bagi setiap individu. Ada yang memandangnya sebagai kunci kebebasan, ada yang melihatnya sebagai simbol status, dan ada pula yang merasa cemas bila tidak memiliki cukup uang. Uang itu netral, tetapi sikap kitalah yang membuatnya menjadi sahabat atau justru masalah.
Memahami Money Attitude
Attitude dapat dipahami sebagai kombinasi pikiran, perasaan, dan kecenderungan bertindak terhadap suatu objek . Jika dikaitkan dengan uang, money attitude berarti bagaimana seseorang memandang, merasakan, dan bertindak terhadap uang. Dengan kata lain, money attitude mencakup tiga hal: bagaimana seseorang berpikir tentang uang (kognitif), merasakan atau bersikap secara emosional terhadap uang (afektif), dan niat atau dorongan untuk bertindak terkait uang (konatif). Misalnya, seseorang bisa berpikir menabung itu penting ( kognitif), merasa aman bila punya tabungan cukup (afektif), dan berniat menyisihkan sebagian gaji setiap bulan (konatif) .Sikap ini memengaruhi hampir semua keputusan finansial yang kita ambil: dari membuat anggaran, menabung, hingga memutuskan berutang.
Beberapa penelitian mendukung pentingnya memahami money attitude. Mahapatra & Mishra (2020) menemukan bahwa money attitude yang positif, bila disertai pengendalian diri, mendorong perilaku perencanaan keuangan yang sehat. Aydın & Akben-Selçuk (2019) menunjukkan bahwa orang dengan sikap positif terhadap anggaran lebih disiplin menabung dan membayar tagihan tepat waktu. Sebaliknya, Fenton O’Creevy & Furnham (2021) menemukan bahwa individu yang memandang uang hanya sebagai sarana status atau kekuasaan lebih rentan mengalami stres keuangan, sementara mereka yang memandang uang sebagai sumber keamanan cenderung memiliki kesejahteraan finansial dan emosional yang lebih tinggi.
Ketika Uang Jadi Cermin Diri
Jika kita kembali pada pertanyaan di awal—mengapa sebagian orang selalu ingin menambah penghasilan—salah satu jawabannya dapat ditemukan pada dimensi money attitude. Yamauchi dan Templer (1982) menyebutkan bahwa ada orang yang memandang uang sebagai power-prestige, yaitu simbol status sekaligus ukuran keberhasilan. Sederhananya, bagi mereka uang adalah cara menunjukkan siapa mereka dan sejauh mana pencapaian yang diraih.
Akibatnya, ketika penghasilan naik, standar gaya hidup juga ikut naik. Rasa “cukup” pun menjadi relatif. Begitu gaji bertambah, banyak orang langsung memperbarui ponsel, membeli
kendaraan baru, atau merencanakan liburan yang lebih mewah. Fenomena ini disebut lifestyle inflation—pengeluaran ikut naik seiring pendapatan, sehingga meskipun gaji naik, kita sering
tidak merasa hidup kita jadi lebih sejahtera.Dimensi lain yang relevan adalah anxiety atau kecemasan, yaitu keadaan ketika seseorang terus-menerus merasa khawatir uangnya tidak
cukup, cemas menghadapi masa depan, dan takut tabungannya akan habis. Kecemasan seperti ini mendorong orang bekerja lebih keras tanpa henti demi menambah penghasilan, meskipun
kebutuhan pokok sebenarnya sudah terpenuhi. Banyak orang rela mengambil lembur, pekerjaan sampingan, bahkan mengorbankan waktu istirahat demi menambah pemasukan
karena merasa baru aman bila saldo tabungan mencapai jumlah tertentu.
Kedua dimensi ini sering berjalan beriringan. Durvasula dan Lysonski (2010) menemukan bahwa individu dengan kecenderungan power-prestige dan anxiety memiliki tingkat materialisme yang lebih tinggi. Mereka cenderung membeli lebih banyak untuk menunjukkan keberhasilan, tetapi sekaligus sulit merasa puas. Akibatnya, keinginan untuk memiliki lebih banyak harta terus berulang dan jarang benar-benar terhenti.
Sebagai kontras, dimensi retention-time menggambarkan sikap yang lebih tenang dan terencana. Mereka yang memiliki kecenderungan ini biasanya membuat anggaran, menyisihkan tabungan secara rutin, dan memikirkan masa depan. Penelitian Mahapatra dan Mishra (2020) menunjukkan bahwa individu dengan sikap positif seperti ini cenderung lebih disiplin dan tidak impulsif dalam mengambil keputusan finansial, sehingga rasa aman mereka tidak hanya bertumpu pada jumlah uang yang dimiliki, tetapi juga pada keyakinan bahwa mereka mampu mengelolanya dengan baik. Dengan kata lain, mereka tidak merasa perlu
“membuktikan diri” melalui pengeluaran konsumtif.
Dengan memahami dimensi-dimensi ini, kita menjadi lebih paham mengapa ada orang yang selalu merasa “kurang” meskipun sebenarnya sudah lebih dari cukup. Yang dikejar bukan lagi sekadar uang, melainkan rasa aman, pengakuan sosial, dan pembenaran atas keberhasilan diri.
Sikap terhadap Uang Dibentuk Sejak Kecil
Kesadaran tentang uang mulai terbentuk bahkan sejak usia dini. Studi dari University of Michigan (2018) menemukan bahwa anak berusia lima tahun sudah mulai menunjukkan preferensi emosional terhadap uang—apakah mereka lebih suka segera membelanjakannya atau justru menabung untuk nanti. Anak-anak yang cenderung boros merasa lebih santai saat mengeluarkan uang, sedangkan anak-anak yang hemat lebih berhati-hati dan merasa “sakit” ketika harus membelanjakan uang.
Faktor keluarga memainkan peran penting dalam tahap ini. Anak yang sering melihat orang tuanya terbuka membahas keuangan cenderung memiliki sikap lebih sehat terhadap uang (Alsemgeest, 2014). Sebaliknya, tabu membicarakan uang di rumah dapat menurunkan kemampuan anak membuat keputusan finansial di masa depan. Dengan demikian, money attitude terbentuk dari kombinasi pengalaman sejak kecil, pola asuh keluarga, serta lingkungan sosial.
Menempatkan Uang di Posisi yang Tepat
Pikiran seseorang terhadap uang dapat memengaruhi perilaku keuangannya. Ada orang yang melihat uang sebagai sarana mencapai tujuan, merencanakan penggunaannya dengan tenang, dan merasa cukup sehingga lebih mudah menjaga keuangan tetap sehat. Ada pula yang menganggap uang sebagai sumber masalah, selalu khawatir kekurangan, atau enggan mengatur keuangan sehingga justru mudah terjebak dalam kesulitan finansial. Dengan kata lain, uang hanyalah alat; sikap kitalah yang menentukan apakah alat itu menolong atau menjerat.
Melihat uang sebagai cermin membantu kita memahami hubungan kita dengannya.
Apakah kita cenderung memandang uang sebagai sarana untuk meraih kebebasan dan keamanan, atau justru sebagai simbol status dan sumber kecemasan? Refleksi ini penting karena sikap terhadap uang akan memengaruhi cara kita menabung, membelanjakan, dan bahkan berutang.
Money attitude yang sehat membantu kita menempatkan uang pada posisi yang tepat: sebagai alat untuk mencapai tujuan hidup yang lebih bermakna. Dengan kesadaran ini, kita dapat mengelola uang secara lebih bijak—tidak berlebihan dalam mencarinya, tetapi juga tidak lalai merencanakan masa depan. Kita bisa mulai dengan membuat anggaran sederhana, memisahkan dana tabungan, dan mengevaluasi apakah setiap pengeluaran membawa kita lebih dekat pada tujuan hidup. Dengan cara ini, uang benar-benar menjadi sahabat, bukan sumber masalah. (*)



