HeadlineOPINI

OPINI: Logika Internet

OLEH:

Br. Ign. Heri Satrya Wangsa SCJ *)

*) Dosen Manajemen Kreatif, Program Studi Manajemen, Universitas Katolik Musi Charitas

 

Obyek yang disakralkan

Histeria popularitas internet menarik perhatian dalam bentuk logika yang dihasilkan, sekaligus isi (content) dari logika yang demikian mudah diadopsi. Dan, logika itu kini telah menjadi bagian dari keseharian (baca: hidup).

Ketika popularitas internet secara revolusioner merubah gaya dan pandangan hidup, muncul obyek-obyek seperti waktu (time), konektivitas (connected-ness), kreatifitas (creativity) dan informasi (information) yang ditempatkan bahkan dikenakan, dipakai secara sakral.

Dunia baru itu telah terbentuk. Kemudahan dan kecepatan merupakan generalisasi efektivitas waktu, terbentuklah masyarakat yang berorientasi waktu (time-oriented society). Mereka mengadopsi nilai-nilai efektivitas waktu. Ukurannya adalah kepraktisan secara ekonomis. Waktu adalah sumber daya (resources).

Pada saat yang sama terjadinya pergeseran budaya individualistis ke arah kolektifitas merupakan wajah baru egoisme konektivitas. Kebutuhan konektivitas adalah ketergantungan konektivitas yang dipicu oleh sentimen loyalitas kolektif, kepentingan bersama yang mengikat dan memberi konsekuensi bagi siapapun yang lepas dari ikatan itu.

Obyek lainnya adalah kreatifitas yang telah menjadi kata kunci. Kreatifitas tak terbendungkan, mengalir begitu cepat(rapid flow of creativity) memunculkan subyek buatan yang tak lain merupakan obyek bermuatan nilai-nilai ideal atau impian, dipoles melalui kosmetika komersial supaya laku dijual. Ruang yang tak terbatas bagi kreatifitas membentuk lingkungan kreatif yang seringkali dilakukan melalui eksperimen kekacauan (chaotic)artifisial ataupun permainan kesenjangan. Kontradiksi diciptakan untuk menemukan ide atau gagasan berorientasi kebaruan(newness).

Informasi bebas akses (free access information) menjadikan konsumsi tak mengenal batas (unlimited consumption). Konsumsi informasi adalah tuntutan emosional terhadap kebaruan dan sosial. Dalam perspektif ini budaya isi (content culture) telah hilang.

Kemudahan dan kecepatan

Teknologi dalam konteks masyarakat industrialis menawarkan berbagai kemudahan dan kecepatan proses. Kecenderungannya adalah pemendekan proses. Analogi ini dapat dipakai memberi gambaran masyarakat modern yang mengalami “sakit ketergesa-gesaan” (hurry sickness). Kerangka waktu tidak mampu dimaknai dan dihargai sebagai bagian dari kehidupan pribadi (private life), tapi rutinitas mekanistis yang sarat bermuatan nilai-nilai ekonomis. Konsepsi waktu yang dikaitkan dengan nilai ekonomis adalah nilai setiap gerakan dan mobilitas fisik terhadap tujuan yang ingin dicapai.

Frederick W Taylor mengemukakan teori waktu dan gerakan (time and motion), yaitu setiap gerakan (fisik) memiliki nilai ekonomis diukur dari lama waktu yang diperlukan untuk melakukan gerakan tersebut. Efisiensi waktu adalah upaya mengalokasikan waktu normal bagi penyelesaian sebuah gerakan. Efisiensi sebagai nilai ekonomis berarti penggunaan waktu secara cepat dan tepat untuk mencapai sebuah tujuan. Semakin cepat dan tepat semakin efisien. Kenyataannya, konsepsi efisien seringkali diintervensi oleh nilai-nilai lebih (excess of values), yaitu upaya melakukan efisiensi secara berlebihan untuk mencapai surplus. “Kelebihan” itupun akhirnya tak terpakai karena kapasitas (untuk menggunakan kelebihan tersebut) yang terbatas.

Steve Taylor (2007) dalam bukunya Making Time menyebut sebagai tyranny of linear time, yaitu sebuah keadaan dimana waktu dirasa begitu cepat berlalu dalam “ketergesa-gesaan” serta rutinitas yang tidak pernah mampu disadari esensi kehadirannya.

Ketika kemudahan dan kecepatan dirasionalisasi secara ekonomis, yang terjadi adalah irasionalisasi waktu, yaitu waktu yang selalu menghabiskan, mengkonsumsi wilayah privat. Eva Hoffman (2009) dalam Time mengaitkan waktu dan ruang dengan pemaknaan terhadap kebebasan (freedom). Irasionalitas gerak dan aksi adalah keterikatan individu terhadap ruang dan waktu ketidaksadarannya (unconsciousness). Disitulah individu tidak lagi mengenal kebebasan. Dengan demikian kemudahan dan kecepatan yang ditawarkan melalui logika internet akan mengintervensi kebebasan apabila itu adalah permasalahan pemendekan proses yang tanpa disadari merepresentasikan akumulasi kepentingan ekonomis more is better. Lagi-lagi dominasi ekonomi material tak dapat dihindari.

Individualistis ke kolektifitas

Kolektifitas berawal dari konektifitas (connected-ness). Konektifitas menghubungkan keberagaman karakter dan kepentingan individual, menjadi karakter dan kepentingan kolektif. Logika internet menyediakan itu. Dalam tataran tertentu konektifitas adalah keterikatan secara sukarela terhadap kekuatan komunal. Oleh karena konektifitas lebih dekat dengan persoalan pasar potensial, maka seringkali konektifitas di-komunitas-kan. Konektifitas adalah komunitas yang kemudian sarat bermuatan egoisme ekonomis, dimanipulasi dan dijual.

Individu membawa karakter spesifik. Harga identitas melekat secara jelas, dimiliki dan diakui. Namun ini mesti dilepaskan sebagai konsekuensi kepentingan kolektif. Nilai-nilai otentik individual dikompromikan dengan nilai-nilai kolektif. Titik temunya lebih sering memihak kepentingan kolektif, kesepakatan kolektif.

Kematian subyek

Logika internet adalah pengalaman kreatifitas, yaitu kesempatan berinteraksi dalam lingkungan kreatif. Pengalaman kreatifitas adalah mengalami kreatifitas secara sadar. Mengalami kreatifitas melalui dunia virtual misalnya, merupakan kesempatan berinteraksi dengan obyek-obyek ideal produk kreatifitas. Karena kreatifitas, obyek-obyek tersebut menjadi subyek, yaitu kemampuan mengatur dirinya sendiri, menyeleksi, memilih, memutuskan. Dunia virtual menyediakan banyak subyek buatan (artificial).

Apabila dunia virtual banyak menyediakan subyek artifisial, maka atas nama kreatifitas, dunia virtual telah menjadi dunia alternatif ideal (ideal alternative world). Kekalahan subyek terjadi ketika perannya tergantikan. Dalam dominasi kolektifitas terhadap “aku”, yang terjadi adalah “aku ketika bersama orang lain”. Hadirnya dunia virtual secara tidak langsung juga menciptakan wilayah nyaman (comfort zone) yang sangat diminati. Konsekuensinya adalah tiadanya kesempatan untuk memilih dan membuat pertimbangan. Keadaan itu diperparah dengan atribut kemudahan dan kecepatan yang selalu mengalahkan siapa saja yang tertinggal.

Konsekuensi konektifitas adalah keterikatan kebenaran (truth), yaitu kebenaran yang dipaksakan untuk diakui secara kolektif (collective-shared truth). Kebenaran yang tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk dikritisi berpotensi menghadirkan sesat pikir. Sesat pikir kehadiran teknologi digital yang selalu dipersepsi “diprioritaskan”, bahkan diklaim sebagai kebenaran absolut, tanpa pernah mempertimbangkan nilai-nilai fungsionalynya. Artinya, internet harus selalu hadir dan ada dalam keseharian. Tanpa pernah dipahami bahwa internet hanyalah medium. Esensi medium idealnya tidaklah melebihi isi (content).

Kebenaran individual (individual-perceived truth) seringkali mengalami konflik dengan kebenaran kolektif. Kreatifitas baru muncul melalui konflik semacam itu, namun dapat juga dikatakan bahwa konflik yang disebabkan oleh ide, gagasan, “kebenaran” yang disamakan, diseragamkan tersebut menjadi penyebab lingkungan polutif. Bentuk lain akar kekalahan subyek, bahkan kematian subyek (death of subject).

Kreatifitas menciptakan detil produk

Meminjam analogi Rowena Murray (2009) yang memberi “resep” kekuatan sebuah karya tulis tidak melalui pengulangan (repetition) namun kemampuan mengambil sudut pandang baru (take another new angle). Demikian juga kreatifitas tidak pernah melakukan “pengulangan” tapi kemampuan untuk mengambil kebaruan (newness) dari sisi lain. Ini berbeda dengan kreatifitas konvensional sekedar menciptakan polarisasi dan konflik.

Logika internet adalah logika pasar. Oleh karena ada obyek yang dicari dan dibutuhkan, maka obyek itu ditawarkan dan dijual. Dia adalah budaya produk dengan segala atributnya. Budaya produk berurusan dengan persoalan kosmetik nilai jual, selalu harus menyediakan kelebihan (excess) serta ruang kebebasan (space of freedom). Ruang kebebasan disediakan secara terbatas dalam lingkup ruang dan waktu supaya terus diminati, dibutuhkan dan dikonsumsi. Ruang kebebasan memang disediakan, tapi tidak pernah “membebaskan” dalam arti memberi ruang dan waktu nyaman yang cukup untuk membuat pertimbangan sekaligus menentukan pilihan.

Dalam keadaan serba produk, maka semua obyek fisik maupun non-fisik memiliki kesempatan yang sama untuk dapat dijual. Hamish Pringle (2004) dalam Celebrity Sells menjelaskan bagaimana pengakuan (confession) – obyek non-fisik dalam bentuk pernyataan afirmatif seorang selebriti mampu memiliki nilai jual. Dikatakan oleh Hamish, terdapat kecenderungan semakin tipis atau kaburnya batas perbedaan antara selebriti sebagai human dengan selebriti sebagai sosok produk atau manufactured.

Hilangnya budaya isi (content culture)

Harold James (2009) dalam The Creation and Destruction of Value menjelaskan keterkaitan antara globalisasi dan perpindahan ide. Mobilitas perpindahan ide menjadi sangat memungkinkan ketika terjadi konektifitas (connected-ness). Perpindahan ide termasuk didalamnya adalah pertukaran ide. Logika internet dan logika globalisasi menempatkan informasi sebagai entitas yang dengan mudah dapat diakses, dipilih dan dikonsumsi. Namun esensi kemudahan ternyata dipahami sebatas mengakses, memilih dan mengkonsumsi kebaruan (newness). Pertukaran ide dimotivasi oleh keinginan mengakses, memilih dan mengkonsumsi kebaruan. Disitulah nilai-nilai isi (content) dihilangkan, diabaikan melalui irasionalitas konsumsi “kemasan” (packaging) yang tidak lain adalah kebaruan.

Menurut Fisher & Shipton (2010) dalam Designing for Re-use and the Life of Consumer Packaging kemasan secara material merepresentasikan isi. Kemasan dibuat memiliki nilai menurut isi yang ada di dalamnya. Ketika isi habis dikonsumsi, tidak berarti nilai yang ada juga habis atau hilang. Nilai itu tetap melekat dalam bentuk barunya setelah melalui proses penggunaan kembali (re-use) maupun daur ulang (recycling). Dalam proses penggunaan kembali (re-use), bentuk baru ditentukan oleh cara penggunaan (how) serta siapa yang menggunakan (who). Sedangkan proses daur ulang (recycling) lebih banyak memberipenekanan pada komitmen nyata terhadap lingkungan (pro-environmental actions). Fisher & Shipton yang lebih banyak menekankan kemasan dalam konsepsi penggunaan kembali (re-use) menjelaskan lebih lanjut bahwa melalui kreatifitas kemasan dapat dibuat memiliki nilai kebaruan (newness) yang sama ketika produk dikonsumsi dalam bentuk aslinya (original form). Hanya saja nilai kebaruan disini berbeda dalam hal cara dan siapa pemakainya (lead users) (Lihat Von Hippel, 1986 & 1988 dalam Fisher & Shipton, 2010). Melalui analogi ini dapat dilihat betapa kreatifitas “memprioritaskan” kemasan. Kreatifitas mampu melakukan banyak eksperimen untuk membuat kebaruan kemasan secara konsisten dan berkelanjutan (sustainable). Kemasan selalu dibuat baru karena kemasan adalah obyek yang mudah dikonsumsi.

Logika internet adalah menikmati lingkungan kreatif melalui wisata dunia virtual. Namun perlu dicermati bahwa kreatifitas (hanya) memprioritaskan kemasan supaya mudah laku.

Upaya penyadaran

Popularitas virtualisasi merupakan realitas kemenangan era baru. Menjadi virtual adalah jalan baru memenuhi kebutuhan untuk dapat diterima dan diakui. Keterikatan kolektif emosional adalah kesadaran hakikat human-ness manusia sebagai makhluk sosial. Motif ini kemudian memunculkan temuan-temuan baru yang menyediakan tempat, sarana dan ruang.

Sadar atau tidak bahwa logika internet mampu memenuhi motif-motif itu sebagai …. the material existence of a thing precedes its immaterial essence….. Aliran eksistensialisme yang muncul di Eropa akhir abad ke-19 menempatkan gagasan “eksistensi material mendahului esensi non-materialnya” (Lihat Marinoff, 2004:34). Pandangan tersebut tepat untuk menggambarkan era baru ditandai munculnya temuan-temuan baru yang nilai-nilai materialnya sangat dominan dibanding esensi non-materialnya. Temuan-temuan itu muncul mendahului esensinya.

Menurut pandangan Marinoff, sisi positif dari eksistensialisme adalah pengakuan manusia sebagai agen bebas (free agent) untuk menentukan yang terbaik bagi dirinya sendiri. Nilai itu muncul melalui aksi. Namun dia juga mempertanyakan apakah setiap orang bisa melakukan itu. “Its main weakness is that not everyone is ready to accept the personal responsibility that liberty confers, and the accountability that freedom demands. Many are tempted to wield more power than they can responsibly hold.” (Marinoff, 2004:36)

Dominasi eksistensi material adalah wajah baru dunia saat ini yang kehadirannya ditandai dengan kontinuitas serta konsistensi temuan-temuan revolusioner. Dalam perspektif mayoritas fenomena ini secara tidak langsung mempromosikan cara dan pandangan hidup baru yang membawa ke arah penyadaran datangnya peradaban baru berikut segala konsekuensi yang mesti ditanggung. Konsekuensi yang paling memprihatinkan adalah ketika wilayah nyaman (comfort zone) tidak mampu memberi gambaran yang lebih lengkap (wholeness) karena terlalu banyak dihalangi oleh visualisasi materialisme.

Sepertinya pandangan Halliman (2009:12) berikut ini  dapat menjadi refleksi: “the part of the visual field that can be seen clearly at any given time is only a fraction of the total.”*)

 

Referensi:

[1] Fisher, Tom & Shipton, Janet (2010). Designing for Re-Use. The Life of Consumer

Packaging. London: Earthscan

[2] Halliman, Joseph T (2009). Errornomics. UK: Ebury Publishing

[3] Hoffman, Eva (2009). Time. London: Profile Books Ltd.

[4] James, Harold (2009). The Creation and Destruction of Value. USA: Harvard University Press

[5] Marinoff, Lou (2004). The Big Questions. London: Bloomsburry Publishing Plc.

[6] Murray, Rowena (2009). Writing for Academic Journal (2nd edition). England: McGraw-Hill Ed.

[7] Pringle, Hamish (2004). Celebrity Sells. England: John Wiley & Sons Ltd.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *