OPINI: Kepungan Kabut Asap Mengusik Ruang Kelas di Palembang Sumatera Selatan
Teks foto: Kabut asap yang melanda kota Palembang dan Sumatera Selatana dampak dari kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

Oleh: Santi Mayasari
Doctoral Program, Universitas Negeri Semarang
KABUT asap yang disebabkan baik ulah manusia maupun alam merupakan kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Palembang, Sumatera Selatan telah mendorong kegelisahan terkait kesehatan dan pendidikan. Hal ini karena kualitas udara telah benar-benar mengganggu kesehatan dan kegiatan pembelajaran di kota Pempek ini. Sejumlah lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi terdampak atas kondisi karhutla ini sehingga dipersyaratkan untuk dapat menyelaraskan kegiatan pembelajaran guna meminimalisir kegiatan di luar ruangan. Hal ini memaksa kegiatan pembelajaran berubah dari moda tatap muka menjadi moda tatap layar (pembelajaran daring) bagi siswa dan mahasiswa.
Kebijakan ini diterapkan untuk membatasi paparan udara tercemar bagi anak-anak dan mahasiswa yang dapat menyebabkan gangguan pernapasan, iritasi mata, serta masalah kesehatan lainnya. Para pembelajar merupakan kelompok yang paling terdampak atas kualitas udara yang sangat buruk dan berbahaya. Paparan asap dalam jangka waktu lama ini menyebabkan berbagai penyakit umum, seperti batuk, sakit tenggorokan, kesulitan bernapas, serta penurunan performa fisik. Kondisi kesehatan tersebut dapat mengganggu konsentrasi para pembelajar selama proses pembelajaran. Berdasarkan data dari Kantor Kesehatan Kota Palembang, kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) telah meningkat seiring semakin memburuknya kondisi kabut asap.
Berdasarkan informasi dari Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan mencatat sebanyak 52.483 kasus ISPA selama September 2026, meningkat 11,62 persen dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 47.020 kasus, https://sumbar.antaranews.com/berita/782616/dinkes-sumsel-catat-52483-kasus-ispa-selama-september-2026.
Kondisi kualitas udara yang sangat berbahaya ini telah berdampak tidak hanya terbatas pada kegiatan pembelajaran di dalam kelas, tetapi juga pada kegiatan di luar ruangan, seperti upacara bendera dan program ekstrakurikuler. Kegiatan-kegiatan di luar ruangan tersebut juga ditangguhkan karena kualitas udara yang semakin memburuk serta menjadi berbahaya.
Kekeringan yang berkepanjangan telah menciptakan kondisi sangat kering yang meningkatkan risiko penyebaran kebakaran hutan dan lahan. Wilayah Palembang, Sematera Selatan ini berpotensi terus menghadapi risiko kebakaran hutan serta masalah kabut asap selama beberapa minggu ke depan yang semakin berbahaya. Tentunya, Hal ini akan berdampak pada proses pengajaran dan pembelajaran di sekolah. Para guru menyatakan bahwa gangguan akibat kabut asap telah mendorong mereka untuk secara spontan menciptakan alternatif pembelajaran yang dapat membantu mencapai tujuan pembelajaran. Durasi jam sekolah yang lebih singkat serta ketidakhadiran siswa dapat mengurangi jumlah materi pembelajaran yang diselesaikan di kelas, sehingga menuntut guru untuk merancang kembali rencana pembelajaran serta menetapkan prioritas pada mata pelajaran yang paling penting.

Teks foto: Ilustrasi pembelajaran daring mahasiswa.
Selain itu, Pembelajaran daring juga menghadapi sejumlah tantangan, salah satu di antaranya yaitu banyak siswa mengalami keterbatasan akses internet untuk menggunakan perangkat digital, mengingat koneksi internet yang tidak stabil serta tidak adanya lingkungan belajar yang memadai di rumah. Fenomena ini justru memperlebar kesenjangan belajar antar siswa.
Gangguan akibat kabut telah menunjukkan adanya keterkaitan antara permasalahan lingkungan dan pendidikan. Sekolah tidak dapat secara efektif menyelenggarakan kegiatan pembelajaran di dalam maupun di luar ruangan dikhawatirkan siswa dan guru akan terpapar kondisi udara yang tidak sehat. Oleh karena itu, otoritas setempat, kepala sekolah, serta orang tua diwajibkan untuk melakukan komunikasi dan koordinasi secara intensif terkait kondisi kualitas udara. Sekolah dapat membatasi kegiatan di luar ruangan, mendorong penggunaan masker, serta menyediakan pengaturan pembelajaran yang fleksibel jika diperlukan.
Pada saat yang sama, pencegahan kebakaran hutan dan lahan tetap menjadi hal yang sangat penting. Tanpa upaya pencegahan dan penegakan hukum yang lebih kuat, gangguan akibat kabut asap dapat terus membahayakan tidak hanya kesehatan masyarakat dan aktivitas ekonomi, tetapi juga akses anak-anak terhadap pendidikan yang aman dan konsisten. Pemerintah Sumatera Selatan pun terus bekerja keras guna memadamkan Karhutla dan meminimalisir kondisi yang semakin memburuk.
Untuk menghindari kabut asap, Kita dapat mengurangi dampaknya yaitu terutama saat kualitas udara menjadi tidak sehat. langkah-langkah yang dapat diambil adalah berikut: mengurangi aktivitas di luar ruangan; menghindari aktivitas fisik berat atau olahraga di luar ruangan jika tingkat kabut asap sangat tinggi; membatasi durasi waktu di luar ruangan, terutama saat konsentrasi asap tinggi; dan jika terpaksa keluar rumah, gunakan alat pelindung yang tepat, seperti masker. Jangan lupa untuk memakai masker yang tepat, serta pastikan masker tersebut menutupi hidung dan mulut dengan rapat. Jaga kualitas udara dalam ruangan dengan menutup pintu, jendela dan Ventilasi udara saat kabut asap semakin menebal. Hindari aktivitas yang menghasilkan asap di dalam ruangan, seperti membakar sampah atau merokok. Jaga kesehatan dengan minum cukup air putih serta mengonsumsi makanan bergizi untuk memperkuat sistem imun tubuh. Pastikan kita mendapatkan istirahat yang cukup, cuci wajah dan tubuh setelah beraktivitas di luar ruangan, serta berikan perlindungan bagi kelompok rentan. Kurangi sumber kabut asap dengan tidak membakar sampah atau membersihkan lahan menggunakan api, bantu melindungi lingkungan, laporkan kejadian kebakaran hutan atau lahan, serta dukung upaya reboisasi dan konservasi lingkungan.
Di Sumatera Selatan, gangguan kabut menjadi pengingat bahwa perlindungan lingkungan juga merupakan bagian dari pendidikan. Menjamin kualitas udara yang bersih berarti memastikan siswa dan Mahasiswa dapat terus belajar secara aman, nyaman, dan tanpa gangguan berulang kali. Jadi, jangan lupa memakai masker saat masih berada di luar ruangan, serta tetap menjaga keselamatan dan kesehatan. (*)




