HeadlineOPINIPalembangSUMSEL

OPINI: Citra Kewibawaan dan Masa Akhir Kehidupan Perdano Menteri Kramo Jayo

Oleh: Vebri Al Lintani
Ketua Aliansi Masyarakat Peduli Cagar Budaya

Saya menduga, Pangeran Perdano Menteri Kramo Jayo wafat di Palembang, bukan di pengasingan sebagaimana informasi yang beredar selama ini. Hal ini terungkap dalam catatan perjalanan Murray Gibson berikut ini:
Doa saja tak cukup, kata, Gibson. Maka ada sekitar ratusan ribu rupe (rupiah, pen.) disimpan di tangan yang aman, di Singapura. Uang itu akan dibayarkan kepada Tchoon Long yang akan berlayar dengan kapal bersama sejumlah lelaki pemberani guna membawa sang Ferdano Mantri kembali ke Palembang. Satu kisah yang mengharukan, seorang hebat yang dicintai ratusan ribu orang, Melayu, Arab, dan Cina, bahu membahu mereka hendak membebaskan orang baik yang bernama Pangeran Krama Jaya. (Dikutip dari artikel Doedi Oskandar yang berjudul “Pangeran Krama Jaya dari Palembang Catatan Murray Gibson” (Berita Pagi, 03/07/2018) yang mengutip buku
“Prison of Weltevreden: and a Glance at East Indian Archipelago” terbit dalam bahasa Inggris (JC Riker, 1855) karya seorang petualang Amerika, Walter Murray Gibson).

Mengawali tulisan ini, saya ingin menyoal bagaimana seharusnya nama (atau lebih tepat gelar) seorang pangeran Palembang ini ditulis; Kramadjaya, Kramajaya, Krama Jaya, Kromo Joyo atau Kramo Jayo. Menurut saya, akan lebih tepat jika ditulis dengan “Kramo Jayo”. Sebab, dalam kecirian atau kekhasan penyebutan dialek Palembang,
bunyi vocal “o” selalu dijumpai pada akhir kata bukan pada tengah kata. Contoh lain umpamanya, “nato dirajo” bukan “noto dirojo” seperti dialek Jawa atau “nata diraja” dalam dialek Sunda. Hal ini penting sebagai pembeda antara nama atau gelar Pangeran Perdano Menteri Kramo Jayo adalah dari Palembang, bukan dari daerah lain. Sudah saatnya pula Palembang menunjukkan kekhasannya sebagai satu suku yang memiliki identitas budaya tersendiri.
Nama asli Kramo Jayo adalah Raden Abdul Azim bin Pangeran Nato Dirajo Raden Muhammad Hanafiah yang zuriyatnya bersambung dengan Sultan Palembang Darussalam ke-1 dan ke-2, yakni: Sultan Muhammad Mansyur Jayo Ing Lago bin Susuhunan Abdurrahman Khalifatul Mukminim Syaidul Imam. Beliau dilahirkan
di Palembang, pada 1207 Hijriah atau 1792 Masehi. Kramo jayo menikahi Raden Ayu Khotimah, salah seorang anak dari Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II. Dari pernikahannya ini, Kramo Jayo dikaruniai lima putri
dan dua putra yakni, R A Azimah, R A Syaikho, R A Zakiah, R.A. Fatimah, R A Zubaidah, Pangeran Nata Diraja Abdul Hafiz, dan Pangeran Wira Menggala Abdur Roqib. Sedangkan dari istri yang lain, Pangeran Kramo Jayo mendapat 18 orang anak. Gelar Pangeran Kramo Jayo yang diberikan SMB II bukanlah gelar sembarangan.
Pemilihan gelar dalam tradisi Palembang tentulah berdasarkan penilaian dan pengamatan atas prilakunya sehari-hari. Begitu pula gelar Kramo Jayo yang disandang oleh Raden Abdul Azim. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Krama berarti beradat; akhlak; sopan santun; basa basi. Sedangkan jaya berarti keberhasilan atau
kemenangan. Maka, pangeran Krama Jaya dapat diartikan sebagai orang yang berprilaku baik, beradat dan berakhlak mulia.
Bagi masyarakat uluan di wilayah sindang seperti Besemah dan Empatlawang, Kramo Jayo adalah sosok yang dapat mewakili kewibawaan SMB II yang sangat dicintai oleh masyarakat. Namun SMB II telah diasingkan ke Ternate pada tahun 1821.
Semasa kekuasaan SMB II, Kramo Jayo menempati posisi penting. Pada 1819, beliau dipercaya sebagai Komandan Buluwarti Timur di Benteng Kuto Besak dalam perang Menteng, dan Komandan Benteng Tambakbaya di muara Sungai Komering Plaju dengan senjata pusaka yang paling ampuh yaitu ‘Meriam Sri Palembang’. Oleh karena itu, Belanda mengangkat Kramo Jayo sebagai Perdana Menteri sebagai taktik untuk meredam gejolak masyarakat uluan yang setia dengan SMB II.
Menurut catatan Wolders dalam “Het Sultanaat Palembang”, Kramo Jayo telah diangkat sebagai Perdana Menteri sejak masa kepemimpinan Sultan Prabu Anom. Kramo Jayo menggantikan pangeran Perdana Menteri Adi Wijayo yang merupakan menantu Sunan Husin Diauddin. Adi Wijayo diberhentikan karena dilaporkan oleh salah seorang
pangeran atas perbuatannya hendak membunuh salah seorang selir Sunan Husin Diauddin. Setelah diperiksa oleh komisaris Belanda, maka Pangeran Adi Wijayo diberhentikan dan kemudian digantikan oleh Kramo Jayo.
Pada tahun 1823, Belanda mengasingkan Sunan Husin Diauddin ke Krukut. Namun demikian, Jabatan sebagai Perdana Menteri tetap dipegang oleh Kramo Jayo yang diangkat sumpah selaku pelaksana tugas harian kesultanan di hadapan komisaris Sevenhoven pada 5 September 1823. Pada 15 oktober 1825 dan membuang ratusan
bangsawan Palembang dalam rangka menghilangkan jejak-jejak dan pengaruh kesultanan atas warga Palembang. Jabatan Perdana menteri pun ditiadakan. Walau demikian, Belanda tetap memberikan posisi penting lainnya bagi Kramo Jayo, termasuk memberikan jabatan Perdana Menteri lagi pada tahun 1838.
Belanda lalu mengganti status kesultanan menjadi kresidenan dengan sistem administrasinya sendiri, mengangkat residen dan seperangkat pembantu residen. Pada tanggal 2 Januari 1838 Belanda mengangkat Kramo Jayo menduduki ‘Rijksbestuur’, jabatan yang baru dibentuk, yang kurang lebih setara dengan bupati, setingkat
dibawah Residen, dan menguasai seluruh daerah yang dahulu berada di bawah
pengaruh negeri Palembang. Kramo Jayo diberi gelar khusus, yaitu: Pangeran Bupati Perdana Menteri Kramajaya Pangeran Mangkunegara Cakrabuana Sultan Agung Alam Kabir Sri Maharaja Mutar Alam Senopati Martapura Ratu Mas Penembahan Raja Palembang.
Dengan kembali diangkatnya Kramo Jayo, Belanda berharap akan muncul kembali kepercayaan warga Palembang kepada Belanda, setelah 13 tahun membubarkan Kesultanan Palembang Darussalam. Selama menjadi Rijksbertuur, nama Pangeran Kramo Jayo semakin terkenal hingga ke pedalaman, terutama di Pasemah. Bagi
Belanda, kondisi seperti merupakan ancaman akan adanya pemberontakan. Pada tahun 1849 Pangeran Kramo Jayo dituduh terlibat dalam usaha menentang Pemerintah Belanda (pemberontakan) sehingga dipecat (1850). Kemudian beliau diasingkan ke Jawa pada tahun1851, ada yang menyebut ke Purbalingga (Banyumas),
namun Muray Gibson Kramo Jayo menulis ke Kerawang.
Berdasarkan informasi yang tersebar saat ini, pada 1862 dalam usianya 70 tahun, Kramo Jayo wafat di Purbalingga, lalu, makamnya dipindahkan ke Palembang. Namun informasi ini masih belum lengkap dan memunculkan pertanyaan, pertama, tahun berapa makamnya dipindahkan; kedua dipindahkan dari pemakaman apa. Kedua pertanyaan ini masih belum bisa dijawab, karena belum bertemu referensi yang jelas.
Apabila dikatakan jenazahnya dibawa ke Palembang, tentu lebih tidak masuk akal lagi mengingat alat transportasi pada waktu itu hanya menggunakan kapal laut yang memakan waktu yang lama.
Sepanjang sejarah, tidak ada makam para tokoh yang diasingkan dipindahkan ke tempat asalnya di masa kekuasaan Belanda. Makam SMB II, Pangeran Ratu di Ternate, Sunan Husin Diauddin yang dipindahkan ke Krukut dan Sultan Prabu Anom ke Manado serta makam-makam para pangeran lainnya tidak ada yang dipindahkan pada masa Belanda. Oleh karena itu, informasi tentang wafatnya Kramo Jayo di
Purbalingga masih diragukan kebenarannya. Namun demikian, ada satu informasi dari Walter Murray Wibson yang memberikan titik terang tentang wafatnya Kramo Jayo. Gibson berkunjung ke Palembang pada
1852, satu tahun setelah Kramo Jayo diasingkan. Diceritakan oleh Gibson, ketika dia menghadiri resepsi pernikahan anak perempuan seorang saudagar Palembang bernama Oey Tsee Yang, dia bertemu Tchoon Long, yang duduk satu meja dengannya. Tchoon Long adalah seorang keturunan China, berusia laki-laki paruh baya
yang bertubuh tegap, rambut tebalnya tidak dikepang panjang seperti gaya Manchu namun digelung tinggi ke belakang.
Tchoon Long yang sebelumnya terlihat murung kemudian mendekatinya dan bercerita tentang orang hebat dari Palembang, Ferdano Mantri (Perdana Menteri) Krama Jaya. Mantan wazir Sultan Badroodin (Mahmud Badruddin II) yang gagah berani melawan Belanda hingga tuannya tertangkap. Semasa pertempuran melawan Belanda tahun 1819. Pangeran Krama Jaya adalah salah satu nama terpenting di samping Pangeran Ratu, Pangeran Prabu dan Pangeran Kramadiraja. Pangeran Krama Jaya digambarkan sebagai sosok yang dicintai rakyat, khususnya
masyarakat Palembang dan Passumah (Pasemah). Badannya tinggi dan kuat, wajahnya bersih (terbuka/ramah) dan hatinya ‘putih’ (jujur). Ia memberi makan 2000 orang (laki-laki, perempuan, maupun anak-anak) setiap harinya. Rakyat banyak memuji serta memujanya sebagai orang yang baik hati dan terkenal di laut barat hingga timur dan rakyat pulau Sumatera. “Figur baik hati yang dicintai rakyat Palembang itu ditawan Belanda karena si
penjajah tak senang dengan orang hebat, kecuali orang hebat buatan Belanda sendiri. Putra-putri, sanak saudara maupun ratusan ribu rakyat mendoakan agar Krama Jaya kembali dari tahanan di Karawang (Jawa)”, tulis Walter Murray Gibson. Doa saja tak cukup, kata, Gibson, maka ada sekitar ratusan ribu rupe (rupiah, pen.)
disimpan di “tangan yang aman” di Singapura. Uang itu akan dibayarkan kepada Tchoon Long yang akan berlayar dengan kapal bersama sejumlah lelaki pemberani guna membawa sang Ferdano Mantri kembali ke Palembang. Sebuah kisah yang mengharukan, seorang hebat yang dicintai ratusan ribu orang, Melayu, Arab, dan Cina,
bahu membahu mereka hendak membebaskan orang baik ini, bernama Pangeran Krama Jaya.
Informasi yang ditulis Gibson ini mengubah persepsi yang menyatakan bahwa Kramo Jayo di pengasingan. Memang lebih logis apabila dinyatakan Kramo Jayo meninggal di Palembang setelah dia ditebus dan dibawa kembali ke Palembang. Hal lain yang lebih mengejutkan adalah kehadiran Tchoon Long, seorang keturunan China
yang juga ikut menginginkan dan berupaya agar Kramo Jayo pulang ke Palembang. Berbanding terbalik dengan masalah perusakan makamnya sekarang yang diduga dlakukan oleh Asit Chandra, seorang oknum keturunan China pula.
Selain itu, perhatian warga Palembang dari berbagai etnik membuktikan bahwa Kramo Jayo memiliki kewibawaan yang sangat luhur. Kewibawaan yang muncul dari sifat yang baik dan dermawan. Maka akan sangat sangat wajar apabila masyarakat bahu membahu mengumpulkan uang untuk kembali menebus Kramo Jayo dari pengasingan. Sudah menjadi hukum alam bahwa siapa yang menanam dia akan menuai. Kramo Jayo telah menanam budi kepada masyarakat, maka diapun pantas mendapatkan balasan kebaikan pula.
Palembang, 14 mei 2023

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *