OPINI: Bangkit Bersama, Wujudkan Indonesia Kuat Menuju Indonesia Emas 2045

OPINI : Oleh Andreas Daris Awalistyo, S.Pd, M.I.Kom
Pendidik dan Jurnalis tinggal di Palembang
Peringatan Hari Kebangkitan Nasional pada 20 Mei 2025 bertepatan dengan perayaan Harkitnas yang ke-117. Mengangkat tema “Bangkit Bersama, Wujudkan Indonesia Kuat”, acara ini menjadi momen yang reflektif dan menginspirasi bagi semua lapisan masyarakat. Ini merupakan peristiwa penting yang menandai mulainya gerakan nasional bangsa Indonesia untuk meraih kemerdekaan. Tanggal ini merujuk hari berdirinya organisasi Budi Utomo pada tahun 1908, yang menjadi lambang kebangkitan kesadaran kolektif bangsa dalam bersatu dan memperjuangkan kedaulatan serta martabat bangsa Indonesia.
Realisasi Indonesia yang kuat adalah harapan bagi negara yang tidak hanya pulih, tetapi juga menolak krisis dan unggul dalam inovasi dan pengembangan yang adil. Kekuatan suatu bangsa diukur tidak hanya oleh aspek ekonomi atau pertahanannya, tetapi juga oleh kualitas daya saingnya dan integritas sumber daya manusia. Sebuah topik yang mencerminkan semangat kolektif untuk pulih dari berbagai tantangan suatu negara, termasuk pandemi, krisis ekonomi global, dan efek ketidaksetaraan sosial. Pentingnya ” Bangkit Bersama” menekankan pentingnya solidaritas nasional. Tidak ada sektor atau kelompok yang dapat dipindahkan secara mandiri tanpa dukungan lain. Sangat ideal untuk memandu langkah bersama menuju Indonesia Emas 2045 menjadi visi besar Indonesia, dan kebangkitan ini inklusif dan berkelanjutan melalui dorongan moral dan nasional, dan kebangkitan ini inklusif dan berkelanjutan, menjadikannya Indonesia yang kompetitif berdaya saing globlal ketika berusia seabad.
Kebangkitan Nasional diawali berdirinya organisasi Budi Utomo di Yogyakarta pada awal abad ke -20 ditandai oleh kelahiran kesadaran kolektif sebagai bangsa yang ingin mandiri, percaya diri dan memutuskan nasibnya sendiri. Sekarang, lebih dari seabad kemudian tepatnya 117 tahun, ada semangat yang sama yang harus kita nyalakan – bukan untuk melawan penjajah fisik, tetapi untuk memerangi kemiskinan, ketidaktahuan, kesenjangan, ketergantungan teknologi, dan tantangan yang berubah dengan cepat. Kebangkitan hari ini tidak dapat dilakukan sebagian. Kita harus berada di berbagai sektor yang merupakan kekuatan utama negara itu melalui pendidikan, kesehatan, ketahanan pangan, keamanan nasional, dan penguasaan teknologi informasi.
Bangkit Bersama, Wujudkan Indonesia Kuat
Negara -negara besar dibangun dari sumber daya manusia yang unggul dan sangat baik. Melalui pendidikan sebagai gerbang utama emas Indonesia. Namun, kenyataannya adalah bahwa akses dan kualitas pendidikan di Indonesia belum terdistribusi secara merata. Penting untuk memastikan bahwa semua anak Indonesia dapat menerima pendidikan berkualitas tinggi tanpa kecuali. Ini mempromosikan kepribadian, kreativitas, dan daya saing global. Adanya revolusi pendidikan digital, kurikulum berdasarkan kompensasi abad ke -21, dan memperkuat literasi dan numerisasi yaitu melek huruf dan pendanaan adalah langkah -langkah yang di butuhkan untuk diperjuangkan.
Pandemi telah mengajarkan kita betapa vitalnya sektor kesehatan. Indonesia tidak boleh lagi bergantung pada sistem yang rapuh. Kita harus bangkit membangun layanan kesehatan yang terjangkau, merata, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Digitalisasi layanan kesehatan, penguatan tenaga medis di daerah terpencil, serta investasi dalam riset dan farmasi nasional adalah bagian dari strategi kebangkitan ini.
Dalam kedaulatan pangan, jaminan bagi keberlangsungan suatu bangsa. Krisis pangan global akibat konflik dan perubahan iklim harus menjadi alarm bagi Indonesia untuk bangkit mengelola potensi agraria yang melimpah. Petani harus diberdayakan, teknologi pertanian harus diperkenalkan secara masif, dan akses pasar harus dipermudah. Ketahanan pangan berarti kita tidak hanya cukup makan, tetapi juga sehat dan mandiri secara ekonomi.
Bangkit menuju Indonesia Emas membutuhkan rasa aman sebagai prasyarat utama. Keamanan bukan hanya soal pertahanan militer, tetapi juga keamanan sosial, ekonomi, dan digital. Di era disrupsi dan ancaman siber, kita perlu memperkuat sistem keamanan nasional berbasis teknologi, meningkatkan resiliensi masyarakat terhadap hoaks dan radikalisme, serta memperkuat peran TNI dan Polri sebagai penjaga stabilitas nasional.
Era Revolusi Industri 4.0 telah mengubah wajah dunia. Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar teknologi, tetapi harus menjadi produsen dan inovator. Penguasaan terhadap teknologi informasi adalah syarat utama untuk bersaing di panggung global. Dari desa hingga kota, digitalisasi harus menjadi alat untuk meningkatkan efisiensi, transparansi, dan pertumbuhan ekonomi. Literasi digital harus diperluas, talenta teknologi harus dibina, dan inovasi lokal harus diberikan ruang untuk tumbuh.
Penutup
Hari Kebangkitan Nasional lebih dari sekadar peringatan historis. Tetapi mengingatkan bahwa kita dapat bangkit dan bisa bangkit kembali untuk mewujudkan mimpi besar, berkembang dan menjadi negara maju yang adil dan kaya. Ini membutuhkan kerja sama di antara semua elemen dari pemerintah, sektor swasta, akademisi, masyarakat sipil, terutama generasi muda negara. Mereka adalah pewaris bangsa yang menentukan arah sejarah masa depan. Mari kita buat Hari Kebangkitan Nasional 2025 dinamis untuk memperkuat komitmen kita, memperluas partisipasi dan mempercepat langkah Indonesia menuju emas 2045. Tidak bisa berjalan sendiri, hanya melalui bangkit bersama kita dapat wujudkan Indonesia yang kuat dalam pendidikan, kesehatan, pangan , tubuh dan jiwa yang sehat, aman dalam hidup, dan unggul dalam teknologi. (*)



