NasionalNUSANTARAPalembangPendidikanSUMSEL

Menelisik Pengembangan Kesadaran Sosial Mahasiswa Melalui Pameran Fotografi Bertema Lansia

 

Oleh Eko Pebryan Jaya, Dosen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sriwijaya

Perkembangan teknologi yang begitu cepat dan masif mengharuskan sektor pendidikan untuk dapat beradaptasi terhadap digitalisasi sistem pendidikan yang sedang berkembang. Tantangan era revolusi industri 5.0 perlu dikemas dan dipersiapkan secara matang, sehingga akan selaras dengan perkembangan zaman. Menurut Sukarno (2020) dalam mempersiapkan tantangan era 5.0, proyeksi kurikulum pendidikan telah menyebutkan beberapa pokok substansi yakni: 1) pendidikankarakter; 2) kemampuan berpikir secara kritis, kreatif, dan inovatif; 3) kemampuan dalam mengaplikasikan teknologi pada era tersebut.

Tentunya tantangan pendidikan Indonesia bukan hanya dalam menghadapi era 5.0, pandemi covid 19 yang melanda secara global ikut mendorong dunia pendidikan melakukan trasformasi pembelajaran untuk perbaikan mutu pendidikan Indonesia. Maka dari pada itu lahirlah kurikulum Merdeka Belajar yang digagas oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia (KemendikbudRistek RI), Nadiem Makarim, yang dimana konsep utama merdeka belajar ialah merdeka dalam berfikir. Dimana sebelumnya proses pembelajaran hanya berpusat pada pengajar diubah menjadikan kepada peserta didik. Dengan adanya kurikulum ini, jurusan diharapkan agar dapat berusaha mengembangkannya melalui keleluasaan pembelajaran yang fleksibel sesuai kebutuhan mahasiswa dan tidak monoton.

Fotografi sebagai salah satu mata kuliah dari cabang seni visual memiliki potensi untuk menjawab permasalahan dan tantangan tersebut. Fotografi termasuk dalam media komunikasi visual yang mampu membekukan momen atau peristiwa dengan muatan pesan sehingga dapat mempengaruhi khalayak dan membentuk opini publik. Menurut Chandra dan Nugroho (2017) kelebihan dari media fotografi. Pertama, lebih realistik dan konkret . dimana media foto adalah media yang realistik dan konkret karena merupakan perekaman nyata dari suatu obyek atau peristiwa, bukan penggambaran atau ilusi. Media foto menampilkan tampilan suatu obyek dengan sebenarnya atau apa adanya. Sebagai perbandingan, media foto berbeda dengan media ilustrasi/sketsa yang merupakan upaya penggambaran kembali dari suatu obyek.

Kedua, mengatasi keterbatasan. Dimana media foto dapat mengatasi keterbatasan ruang, waktu, dan penglihatan. Sebuah foto bisa menampilkan obyek/peristiwa yang terjadi di suatu tempat pada satu waktu tertentu, dan kita bisa menyaksikan kembali suatu obyek/peristiwa yang berada dimanapun dan terjadi kapanpun (tentunya dalam waktu yang lampau). Selain itu, mata manusia hanya bisa melihat sesuatu yang berada di depan dan sekelilingnya dengan jarak pengamatan yang amat terbatas. Dengan sebuah foto, bisa diambil di tempat manapun, asal itu memungkinkan, juga dengan tingkat pencahayaan dan pembesaran yang dapat disesuaikan.

Ketiga, mudah dilakukan . dimana membuat karya foto tidaklah sulit, siapapun bisa menekan tombol kamera untuk membuat sebuah foto. Terlebih lagi dengan kehadiran teknologi fotografi digital yang dilengkapi fasilitas-fasilitas yang memudahkan fotografer sehingga hasil foto yang bagus kini bukan lagi didominasi para fotografer profesional saja.

Berdasarkan kelebihan tersebut, fotografi menjadi cabang ilmu seni visual yang tidak hanya menjadi wadah ekspresi tetapi sekaligus implementasi kesadaran sosial. Salah satunya melalui kegiatan pameran fotografi bertema lansia yang diselenggarakan oleh mahasiswa ilmu komunikasi angkatan 2023 pada tanggal 2 juni 2024. Dengan lokasi bertempat di kawasan Kambang Iwak, kota Palembang, Sumatera Selatan.

Pameran Fotografi merupakan tahapan akhir dari proses pembelajaran mata kuliah fotografi berbasis proyek (Project based). Perkuliahan berbasis proyek merupakan metode pembelajaran yang menggunakan proyek sebagai media bagi mahasiswa untuk mengeksplor, menginterpretasi, dan menilai informasi untuk menghasilkan foto sesuai tema (Basya,2016). Sebelumnya mahasiswa dibekali dengan pengetahuan mengenai foto human interest dan tata cara pengambilan gambar yang baik. Tema yang ditentukan untuk proyek berbentuk pameran kali ini adalah Tema Hari Lanjut Usia (Lansia). Tema Lansia dipilih karena bertepatan dengan peringatan hari Lansia Nasional, 29 Mei 2024. Mahasiswa diberi waktu dua hingga empat pekan untuk turun ke lapangan dan hunting foto sesuai tema, dan jumlah karya yang terhimpun mencapai 280 foto. Selain memperingati Hari Lansia Nasional yang jatuh pada tanggal 29 Mei, pameran ini menjadi ajang apresiasi karya dan kesadaran sosial tentang Lansia.

Fotografer yang juga akademisi Soeprapto Soedjono dalam memotret ada tahapan yang disebut sebagai tahapan teknikal dan tahapan ideasional. Tahapan tenikal berfokus pada aplikasi Teknik fotografis. Sementara Tahapan ideasional adalah respon maupu persepsi yang ditangkap oleh fotografer terhadap suatu tema dengan tujuan mencapai atau menemukan sebuah titik untuk diungkapkan melalui foto (Soedjono, 2007). Tataran tersebut dipercaya dapat menunjukkan jati diri si fotografer dalam memandang sebuah hal.

Pada hasil foto yang dikurasi dan dipamerkan sebanyak 280 karya sebagian besar menggambarkan Lansia yang masih aktif dalam berbagai profesi keseharian mereka masing-masing diantaranya sektor berdagang hingga pertanian. Dimana ini dapat menjadi sorotan tentang berbagai tantangan yang dihadapi oleh para Lansia. Seperti yang disampaikan oleh Anisa Ariesca Putri, salah satu mahasiswa Ilmu Komunikasi peserta pameran fotografi Lansia.

“Menurut saya, pameran fitografi bertema lansia ini sangat penting dalam mengedukasi masyarakat umum tentang kehidupan dan tantangan yang dihadapi oleh lansia karena walaupun mereka sudah berusia lanjut, mereka tetap bersemangat dalam menjalani kehidupan dan masih bertanggung jawab sebagai kepala keluarga. Hal ini sangat menginspirasi kalangan pemuda dan patut di contoh”.

Berdasarkan kutipan di atas, fakta bahwa masih banyak Lansia yang harus bertanggung jawab dalam pemenuhan kebutuhan keluarga. Sementara usia yang sudah memasuki masa tidak produktif lagi akan meningkatkan resiko berbagai penyakit. Sejalan dengan Allender, Rector, dan Warner (2014) mengatakan bahwa populasi berisiko (population at risk) adalah kumpulan orang-orang yang masalah kesehatannya memiliki kemungkinan akan berkembang lebih buruk karena adanya faktor-faktor yang mempengaruhi. Sehingga isu ini tidak bisa dikesampingkan dan perlu mendapatkan perhatian serius.

Pada sisi ideasional, pola pikir ini mempengaruhi mahasiswa tersebut dalam memilih objek, angle, maupun momen dalam menentukkan objek lansianya. Anisa sendiri memilih foto seorang kakek yang duduk di sebuah kursi roda namun memperlihatkan senyum kepada frame kameran.

Foto terbaik dari Pameran fotografi Lansia

Sementara bagi mahasiswa lainnya, Muhammad Rafid Faruq yang berpartisipasi dalam pameran tersebut melihat kegiatan ini sebagai refleksi diri terutama bagi kaum muda. Melihat fakta lansia di lapangan yang tergambar lewat foto dapat memunculkan tidak hanya empati tetapi juga kesadaran sosial untuk memotivasi hidup lebih aktif dan produktif.

Tema lansia dalam pameran ini “old but goldies” menurut saya tentu sangat penting untuk mengedukasi masyarakat tentang kehidupan lansia. Meskipun umur sudah tua namun aktivitas para lansia dalam foto-foto yang di capture oleh mahasiswa ilmu komunikasi angkatan 23 ini masih cukup produktif. Ini memberikan reminder kepada kita bahwa tidak peduli berapapun umur kita jangan bosan untuk terus hidup produktif tidak peduli berapapun umur kita. Umur lansia pun masih produktif, ini menjadi reminder yang sangat penting untuk anak muda bahwa di umur yang masih muda jangan bermalas-malasan untuk hidup produktif. Bahkan kondisi fisik anak muda tentunya lebih prima dari usia lansia.

Melalui pameran fotografi pula, mahasiswa dapat menyampaikan pesan-pesan sosial kepada publik yang lebih luas. Pemaran yang tidak hanya dinikmati oleh mahasiswa ilmu komunikasi sendiri, tetapi juga masyarakat yang berada di kawasan Kambang Iwak datang dan melihat pameran. Pengunjung dapat memperoleh pesan sekaligus mengapresiasi pameran tersebut. Pameran fotografi dapat menjadi media yang kuat untuk meningkatkan kesadaran sosial di masyarakat. Seperti yang disampaikan oleh peserta pameran lainnya, Novi Anggraini Dwi Putri.

“Pameran fotografi bertema lansia adalah sarana edukasi yang penting untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat tentang kehidupan dan tantangan yang dihadapi oleh lansia. Pameran ini dapat mendorong empati, kepedulian, dan perubahan sosial, serta merayakan kehidupan lansia dan kontribusi mereka bagi masyarakat.”

Dari wawancara dengan mahasiswa di atas dimana mereka memahami bahwa dalam konteks pesan, fotografi menjadi medium yang cukup baik dalam menggambarkan kritik sosial. Pegiat visual literasi sekaligus jurnalis foto Tribun Sumsel, Abriansyah Liberto yang berkesempatan menjadi pembicara pada pameran foto tersebut menekankan pentingnya pemahaman dan pemaknaan pada objek foto.

“Pemahaman akan memberika pemaknaan yang mendalam, oleh sebab itu riset dan mengetahui pasti siapa objek yang kita potret adalah Langkah terbaik dalam mebentuk sebuah karya fotografi. Tidak hanya itu dari fotografer sendiri akan muncul kesadaran yang baik terhadap isu yang berkembang terkait objek.”

Pameran fotografi bertema lansia sebagai implementasi keterampilan teknis dan kesadaran sosial bagi mahasiswa ilmu komunikasi menunjukkan hasil yang signifikan. Melalui pameran fotografi membantu memperkuat keterampilan teknis dan meningkatkan juga motivasi berkarya lewat apresiasi pengunjung yang datang dari berbagai kalangan. Selain itu, membuka dan memperluas wawasan tidak hanya keterampilan teknis fotografi tetapi juga kesadaran sosial terutama tentang Lansia, baik untuk mahasiswa sendiri dan masyarakat yang datang mengunjungi pameran. Diharapkan kedepannya pembelajaran proyek serupa dapat diintegrasikan dalam kurikulum pendidikan terutama pendidikan karakter, serta adanya kolaborasi dengan berbagai pihak untuk meningkatkan kesadaran sosial pada isu-isu lainnya melalui kegiatan serupa.

 

 

teks:IST_Antusiasme pengunjung dan diskusi pameran fotografi, 2 Juni 2024

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *