Memaknai Sebungkus Kopi Hitam
(Pertahankan Kearifan Lokal, Berdayakan Potensi Alam dan Budaya di Desa Penglipuran Bangli Bali)
Teks foto: Salah satu pengunjung dari Banjarmasin sempat berpose dengan sebungkus kopi bubuk bermerek Asli Penglipuran di rumah no 13 Desa Penglipuran, Bangli Bali, Senin (21/7/2026)
BALI, MEDIASRIWIJAYA – Suasana sejuk udara pagi di Desa Penglipuran Bangli Bali, Senin (21 Juli 2026) sekitar pukul 09.00 WITA terasa menusuk ke pori-pori. Namun wajah-wajah ceria tampak terpancar dari para pengunjung Desa Wisata yang sudah terkenal bahkan di mancanegara. Sambutan dan sapaan hangat nan ramah dari wajah para pengelola rumah-rumah usaha menjadi daya pikat tersendiri.
Eka, salah satu penjaga rumah no 13 dengan wajah ramah menanyakan adakah yang menarik dari pajangannya untuk dibeli sebagai oleh-oleh. Penulis sempat tertegun dengan keramahan Eka, lalu penulis pun mencoba menelusuri apa saja yang dipajang. Sempat mata tertuju pada konter berisi makanan kemasan dan salah satunya kopi hitam bubuk dengan merek “Kopi Asli Penglipuran”. Diperkirakan kemasan kopi bubuk hitam itu sekitar 2 ons dan ketika ditanyakan kepada Eka berapa harganya, Eka pun menjawab “Tiga seratus” (maksudnya tiga bungkus/kemasan dihargai Rp 100 ribu, red).
Sempat tertegun mendengar keterangan Eka dan penulis pun langsung mengamati kemasan kopi hitam bubuk tersebut. “Asli Penglipuran? Katanya di sini tak ada perkebunan kopi, kok bisa asli sini,” tanya penulis sambil tertawa kecil.
Eka pun tersenyum kecil sambil menjawab “Wah ngak tau saya. Saya hanya menjual saja. Ini toko tante saya yang sudah dibuka sejak beberapa tahun lalu,” ujar Eka polos.

Teks foto: Foto diambil, Senin (21/7/2026).
Tanpa berpikir dua kali, penulis membeli kopi bubuk hitam kemasan dengan harga Rp 100 ribu per tiga bungkus. Alasan membeli adalah untuk mencoba rasa kopi tersebut, dan sekadar ingin membandingkan dengan rasa kopi khas Sumsel yang begitu banyak, ada kopi Semendo, ada kopi Pagaralam, kopi Lahat dan beberapa penghasil kopi lain di Sumsel.

Teks foto: Tampak muka (depan) rumah no 13 yang menjual berbagai souvenir, oleh-oleh khas Bali termasuk kopi bubuk Asli Penglipuran.
Lalu buru-buru pindah ke lokasi rumah no 25 karena ingin memakai pakaian adat Bali yang disiapkan tour guide. “Silahkan pilih warna yang disuka, nanti kita bantu untuk memakaikannya, “ ujar seorang ibu yang berusia sekitar 50 tahunan.
Sambil memilih warna baju adat Bali yang akan dikenakan, penulis sempat berpikir, setelan baju adat bagi perempuan khas Bali, atasan blus brukat bermacam warna ada putih, hitam, kuning. Lalu kain yang akan dipakai sekilas mirip songket Palembang namun ternyata bahan dari ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) yang sudah dibentuk seperti rok atau bawahan. “Berapa harga sewanya Bu? Tanya penulis.
Si ibu pun menjawab “Kalau untuk rombongan ada harga khusus. Tapi kalau perorangan berkisar lebih kurang Rp 100 ribu,” ujarnya.
Hampir seluruh pengunjung yang datang ke lokasi ini mengenakan pakaian adat. Baik perempuan, laki-laki, anak-anak bahkan lansia pun tak ketinggalan. Setelah berpakaian adat, langsung diabadikan dengan foto di depan gapura masuk ke perkampungan Desa Penglipuran Bangli Bali ini.
Usai foto bersama, penulis menelusuri satu demi satu rumah-rumah dengan nomor berurutan dan merupakan konter dagangan yang terdiri dari bermacam mulai dari kaca mata, topi, baju pantai, sandal, daster, penganan ringan, khas ole-ole dan sebagainya.

Teks foto: Pembeli di Rumah no 13 datang dari Kalimantan Selatan, ada QRIS tuh di konter ini.
Masuk lagi ke salah satu rumah yang tepatnya dijaga oleh wanita usia sekitar 30 tahun. Komang, tepatnya Komang Arikusuma. Di tempat Komang, selain ada jualan asesoris sandal, baju pantai, topi, kacamata (semua khas pakaian turis), juga tersedia seperti keripik ubi, kacang khas Bali, dan beberapa makanan lokal Desa Penglipuran, Bangli Bali. “Saya baru di sini Mbak. Ini rumah mertua saja. Sejak Covid tahun 2021 saya ke sini dan buka warung ini,” ujar Komang memulai percakapan.

Teks foto: Komang dengan senyum khasnya, ramah melayani setiap pengunjung yang datang meski tidak membeli dagangannya, eits ada QRIS lho di konternya.
Komang, mantan pegawai salah satu hotel di Bali yang resign sebagai imbas Covid 1 tahun 2019 lalu, berbekal pengalaman masak di hotel dan bahasa Inggris saat melayani tamu hotel di Denpasar Bali, membuka usaha sampingan jualan snack box, coffee break dan warung makanan. “Jadi di tempat kami ini beda dengan yang lain. Selain jualan asesoris ini, saya buka warung makan. Lumayan, bisa bantu ekonomi keluarga,” ujar Komang.
Menurutnya, sehari minimal dirinya mendapat Rp 75 ribu pendapatan, dan maksimal dalam sebulan bisa berpenghasilan Rp 3 juta. Komang menyebutkan dengan penghasilan tambahan dirinya bisa membantu keuangan keluarga. “Di desa ini kami tidak ada mata pencarian seperti bersawah. Tidak cocok kultur cuacanya untuk bersawah, apalagi berkebun seperti karet, sawit, atau kopi. Bisa tanam singkong saja. Suami dan mertua pelihara hewan ternak seperti babi dan ayam,” tambah Komang seraya bersyukur dengan adanya sentuhan pemerintah terutama melalui kebijakan perangkat Desa Penglipuran, dirinya dan keluarga bisa mendapat akses usaha menerima para tamu baik turis lokal bahkan mancanegara. “Tiap hari ada turis datang ke sini terutama dari mancanegara. Puji syukur kami warga di sini,” ujarnya.
Komang pun menyatakan rasa suka citanya karena kondisi desa yang ditempatinya jadi destinasi kunjungan wisata. “Desa ini sudah ada sebelum wisata jadi bukan sekarang. Sudah dibuat sejak dahulu hanya ditata rapi. Kelebihan masuk ke sini adem, sejuk, bangunan ini sejak dulu atapnya sudah begitu. Rumah tidak ada yang bertingkat, itu aturannya. Sudah dapat penghargaan Unesco desa terbaik,” kata Komang sambil tersenyum.

Teks foto:Tampak depan Desa Penglipuran Bangli Bali. Foto diambil Senin (21/7/2026).
Berdasarkan literatur, Penglipuran adalah desa adat tradisional di Kabupaten Bangli, Bali, yang terkenal sebagai salah satu desa terbersih di dunia. Terletak sekitar 60 km dari Bandara Ngurah Rai, desa ini mempertahankan arsitektur seragam dan budaya leluhur berkat filosofi Tri Hita Karana (keseimbangan Tuhan, manusia, dan alam).

Teks foto: Media promosi salah satu rumah yang menyewakan pakaian adat, Senin (21/7/2026).
Luas wilayah Desa 112 hektar dengan pembagian wilayah desa; untuk lahan pertanian 50 ha, hutan bamboo 45 ha, pemukiman warga 9 ha dan hutan kayu 4 ha. Desa Wisata Penglipuran memiliki 72 rumah utama yang desain arsitekturnya seragam. Jika dihitung secara keseluruhan dengan pekarangan adatnya, terdapat 77 pekarangan, di mana 76 di antaranya adalah rumah tinggal dan 1 pekarangan khusus (Karang Memadu). Keseluruhan pemukiman ini dihuni oleh sekitar 277 kepala keluarga. Untuk melihat langsung formasi rumah tradisional tersebut.
Masih berdasarkan literatur, struktur organisasi Desa Penglipuran di Kabupaten Bangli, Bali, unik karena membagi wilayah menjadi dua sistem yang otonom dan setara: pemerintahan formal (dinas) dan pemerintahan tradisional (adat). Keduanya berjalan berdampingan dalam mengatur kehidupan warga dan pengelolaan desa wisata.
Struktur organisasi Desa Adat Penglipuran terdiri dari Sistem Pemerintahan Desa Adat (Tradisional). Sistem ini berpedoman pada hukum adat (awig-awig) dan dipimpin oleh seorang tokoh adat. Struktur utamanya meliputi: Bendesa Adat: Kepala Desa Adat yang memimpin dan bertanggung jawab atas kelangsungan tradisi, ritual, dan kehidupan sosial budaya masyarakat. Kelian Adat / Prajuru Desa: Membantu Bendesa Adat dalam menjalankan fungsi administrasi dan kegiatan sehari-hari.Warga Desa Adat: Terdiri dari berbagai kelompok seperti Pengayah Arep, Pengayah Roban, dan Daha Truna yang memiliki tugas gotong royong.
Selanjutnya, sistem pemerintahan formal (Dinas). Sistem ini merupakan pemerintahan administratif negara yang melayani warga sesuai aturan pemerintah daerah. Strukturnya meliputi Kepala Desa (Perbekel): Memimpin seluruh wilayah desa administratif, Perangkat Desa: meliputi Sekretaris Desa, Kepala Urusan (Kaur), dan Kepala Seksi (Kasi), RT/RW: unit administratif yang bersinggungan langsung dengan warga.
Desa Penglipuran, karena berstatus sebagai desa wisata yang dikelola mandiri, terdapat struktur manajemen terpisah untuk mengelola operasional pariwisata, fasilitas, dan kebersihan desa, yang terdiri dari Ketua Pengelola Desa Wisata: Memimpin manajemen kawasan wisata, Divisi Operasional: Mengatur tiket masuk dan parkir, Divisi Kebersihan dan Lingkungan: Mengoordinasikan warga, termasuk ibu-ibu PKK dan Sekaa Teruna (pemuda), untuk menjaga kebersihan desa, dan Pecalang: Petugas keamanan adat yang juga mengawasi ketertiban area.

Teks foto: Gerbang masuk ke Kompleks Desa Wisata Penglipuran Bangli Bali.
Potensi Alam
Jika melihat apa yang tercatat di Desa Penglipuran Bangli Bali ini, dengan luas wilayah yang tidak seberapa, bahkan ukuran 112 hektar tentu tidak seberapa dibanding luas wilayah Sumatera Selatan. Sebut saja Pagaralam dan Danau Ranau.
Luas keseluruhan wilayah Kota Pagar Alam adalah 625,91 km² berdasarkan data BPS Kota Pagar Alam, atau sering juga disebut 633,66 km² dalam data referensi lainnya. Wilayah ini terbagi ke dalam 5 kecamatan yang ada di kota tersebut.
Luas wilayah permukaan Danau Ranau secara keseluruhan adalah sekitar 125,9 kilometer persegi (atau setara dengan 12.590 hektare), dengan bagian perairan di wilayah Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan, Sumatera Selatan, mencakup seluas 9.831,33 hektare. Danau Ranau terletak di perbatasan Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan (Provinsi Sumatra Selatan) dan Kabupaten Lampung Barat (Provinsi Lampung). Danau vulkanik ini berada di bawah kaki Gunung Seminung.
Pagaralam dan Danau Ranau, dua wilayah di Sumsel yang dikenal dengan potensi lebih dibanding dengan wilayah lain di Sumsel. Pagaralam terkenal dengan kondisi cuaca alam yang dingin dan ramah dengan tanaman. Penghasil kopi dan hasil alam lain seperti jeruk gerga, bunga hias hidup, dan sayuran seperti kol, wortel, dan berbagai buah seperti alpokat, salak pondo, dan durian.
Begitu juga dengan Danau Ranau yang terkenal dengan potensi alam yang sejuk dan keindahan danau buatan yang sudah menjadi destinasi wisata di Sumsel ini.
Jarak Tempuh Lokasi
Kedua wilayah ini secara potensial alam sangat mendukung namun mengapa sentuhan pariwisata belum begitu popular? Berkaca dari potensi Desa Penglipuran yang secara fisik (kondisi ril) biasa namun tercipta luar biasa dengan kunjungan pariwisatanya.
Berdasarkan literatur, jarak tempuh selama 6 jam, 14 menit (291 km) lewat Jl. Lintas Sumatera. Di Pagaralam ada Bandara yang bernama Bandar Udara Atungbungsu yang sampai saat ini masih beroperasi aktif, sebagai alternatif jika ingin ke Pagaralam melalui jalur udara.
Sementara dari Palembang ke Danau Ranau ditempuh selama 7 jam, 6 menit (333 km) lewat Jl. Raya Prabumulih – Baturaja. Rute ini mencakup jalan raya. · Jalan Tol.
Dengan kondisi jarak tempuh yang lumayan jauh ini bisa jadi menjadi penyebab engannya wisatawan baik lokal, nasional maupun mancanegara berkunjung ke wilayah ini. Apalagi dengan kondisi jalan darat (bukan tol, red) yang masih terjebak dengan kemacetan.
“Jualan: potensi alam dan budaya yang ditawarkan Pagaralam dan Danau Ranau luar biasa. Berkaca dari Desa Penglipuran misalnya. Desa yang hanya mengandalkan keberkahan Pulau Bali dengan Pulau Dewata karena keindahan alamnya. Padahal potensi alam dan sumber daya manusia di Pengliputan biasa-biasa saja. Bahkan untuk potensi alam, tak ada perkebunan kopi, tak ada perkebunan sawit, Semua jualan seperti kopi hitam yang diberi lebel “Asli Penglipuran”, bagian dari trik mengaet pembeli sebetulnya. Untuk menandakan bahwa pembeli sudah menginjakkan kaki di Desa Penglipuran, kopi bubuk itu buktinya.

Teks foto: Pertunjukan tari kecak di Pantai Melasti Bali, Senin (21/7/2026).
Budaya dan Kearifan Lokal
Tari kecak di Pantai Melasti Bali yang dipersembahkan bagi pengunjung, Senin (21/7/2026) sore menjelang matahari terbenam, bagian dari upaya Bali mengiatkan pariwisatanya. Patokan harga tiket nonton pertunjukkan ini lumayan mahal namun ya itu tadi, karena kemasan paket wisatanya sudah terpadu maka para pengunjung Bali pun disuguhkan dengan pertunjukan tari kecak ini.
Jualan seni budaya ini mampu menyedot perhatian pengunjung yang bukan saja berasal dari lokal Bali, tapi nasional Indonesia bahkan mancanegara. Sebut saja, penonton dari Maroko, Australia, Amerika dan beberapa negara yang disebut namanya oleh penbawa acara pertunjukan sebelum tari kecak dimulai.
Sumsel ada banyak budaya daerah, seperti dendang sailin, pertunjukan dulmuluk, tari gending sriwijaya, pertunjukan sendratari Si Pahit Lidah, dan lain sebagainya. Tiap kabupaten/kota di Sumsel begitu banyak budaya dan adat yang bisa diangkat menjadi salah satu paket jualan pariwisata di Sumsel.
Palembang, selaku ibukota provinsi Sumatera Selatan pun bisa menjadi bidikan. Jika selama ini sudah diberdayakan dengan segala potensi yang ada di kota Palembang, tentu akan “lebih” jika berkaca pada apa yang dilakukan Desa Penglipuran dan pentas tari kecak di Pantai Melasti.
Sungai Musi dengan kemegahan Ampera, potensi kuliner Palembang yang luar biasa, pertunjukan Dul Muluk pun bisa menjadi bagian paket pariwisata yang layak ditawarkan kepada turis mancanegara atau minimal turis nasional atau lokal.
Kolaborasi
Peran kolaborasi banyak pihak dengan satu komando, bisa mewujudkan keinginan sama dengan Desa Penglipuran Bangli Bali atau pertunjukan tari kecak di Pantai Melasti. Kolaborasi pemerintah provinsi dengan seluruh pemerintah kabupaten/kota di Sumsel melalui pemberdayaan peran Dinas Pariwisata di masing wilayah. Selanjutnya gandeng pihak ketiga seperti biro/travel perjalanan wisata, Dinas Pendidikan (untuk mengerahkan pelajar berkunjung rutin seluruh sekolah ke lokasi pariwisata , misalnya), Dinas Perhubungan, asosiasi pengusaha hotel, asosiasi pengusaha bus/kendaraan, serta pihak lain yang memungkinkan untuk diajak berkolaborasi seperti Dinas Perdagangan dan Perindustrian Provinsi dan kabupaten/kota, mewujudkan mimpi Sumsel dengan berkaca pada Desa Penglipuran dan tari kecak di Pantai Melasti Bali. Jika kopi hitam di Penglipuran dihargai Rp 40 ribu per dua ons dengan asumsi per kilo Rp 200 ribu, lalu bagaimana dengan kopi hitam bubuk di Sumsel. Harga berkisar Rp 60 – Rp 100 ribu per kilo dengan kualitas prima yang tersedia di Sumatera Selatan mulai dari kabupaten yang bersangkutan, sampai di ibukota provinsi, Palembang. Belajar dari kopi hitam di Desa Penglipuran Bangli Bali, semoga Sumsel bisa melakukan lebih dari itu. (saf)




