HeadlineNasionalNUSANTARAPalembangSUMSELUncategorized

Geopark Meratus, Mutiara Terpendam Menanti Sentuhan

teks:IST_Pohon yang usianya sekitar 70-an tahun yang ada di Geopark Meratus (foto saf/ms)

BELANGIAN, MEDIASRIWIJAYA – Lokasinya cukup jauh untuk dijangkau dari pusat kota Banjarmasin namun ketika sudah memasuki lokasi maka sebuah pemandangan yang sangat luar biasa. Geopark Meratus, tak salah menjadi perhatian tim panitia Porwanas Kalsel Tahun 2024 sebagai satu objek yang menjadi fokus tulisan utama untuk kegiatan lomba menulis jurnalistik. Hal ini berdasarkan kondisi riil di mana para peserta lomba yang terdiri dari tiga kategori yaitu karya tulis, fotografi dan videografi yang diajak langsung ke lokasi untuk melihat dengan mata kepala sendiri seperti apa kondisi riilnya. Mulai masuk kawasan Bukit Batu dengan menggunakan kendaraan bus, lalu dilanjutkan dengan jalur air yaitu naik perahu menuju lokasi desa yang ketika diinjakan kaki terasa sekali keasrian udaranya. Geopark Meratus yang masuk dalam kawasan Desa Belangian Kabupaten Banjar sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Salah satu “mutiara” terpendamnya adalah batu “Ampar” yang sudah berusia ratusan tahun. “Itulah keunikan batu Ampar karena selain tekstur sangat keras juga kondisi fisiknya semakin hari ukurannya semakin membesar.” ujar Kades Belangian, Ainul Khoir, Rabu (21/8).
teks:IST_Petugas Dinas Kehutanan yang menjaga Geopark Meratus menjelaskan bahwa batu hidup yang ditunjukkan itu awalnya berukuran kecil namun seiring waktu terus membesar maka dinamakan batu hidup (saf/ms)

Keunikan lain disebutkan Ainul adalah adanya beberapa fauna dan flora yang tidak terdapat di tempat lain seperti pohon besar “Binua” yang sudah berusia sekitar 70-an tahun yang tetap dipelihara dengan apik oleh petugas bersama masyarakat setempat. Rusa, beruang madu. macan, serta aneka burung ada si sini. Salah satu burung yang langka dan unik disapa dengan nama “Harue” yang selain memiliki keunikan fisik juga memiliki kelebihan mistik dengan dipercaya masyarakat bahwa bulu burung ini dapat mengusir roh jahat yang sering mengganggu tanaman masyarakat seperti padi dan lainnya.

teks:IST_Salah satu aset yang ada di dalam Geopark Meratus(saf/ms)

Kades Desa Belangian Aunul Khoir pada kesempatan ini juga menjelaskan bahwa desa ini pada tahun 1965 namanya Kalaan. “Pembangunan waduk Rian Kanan dimulai pada tahun 70-an dan sejak itu sampai tahun 1973 diresmikan Presiden RI Soeharto Dulunya desa ini disebut Lian Hantu. Sampai tahun 1982 dijadikan desa definitif. Pemekaran dari dusun jadi desa.
Lian Hantu jadi Belangian itu awalnya jadi tempat telok belangian yaitu tempat sesajen warga untuk adat dll. akhirnya tahun 82 desa harus diberi nama oleh pemdes dan diusulkan ambil nama Belangian yang terdiri dari kata “ balai” dan “nian “ yang artinya tempat dan “nian” artinya halus. Jadi tempat orang halus. dulunya banyak hantu. ditetapkan sebagai desa wisata 2019 oleh Dinas Pariwisata Kab Banjar,” ujar Ainul.

Kelebihan yang dimiliki desa yang dipaparkan Ainul panjang lebar antara lain sejak tahun 1982 desa ini sudah ada wisatawan yang menginjakkan kaki ke sini bahkan dari mancanegara seperti Jepang, Amerika, Swedia, Kanada, dan negara lain untuk melakukan penelitian di Geopark Meratus. “Tahun 82 sudah ada yang datang mengunjungi kami, ada wisata edukasi, pertanian, kehutanan, dll. Itu yang ada di sini. Mereka ke sini untuk peneltian dan pengabdian tentang yang ada di sini. Edukasi pertanian kami laksanakan musim menugal (menanam padi), lalu wisata kerajinan untuk batik sarirangan eco green. Keunikan karya kami adalah bahwa kami padupadan sarirangan dan eco maka namanya saiko print dengan bahan dasar yang ada di sini seperti serbuk kayu ulin, serbuk kayu alaban, lalu akar binkudu, jangan atau kunyit, kulit akasia dan mahoni atau juga dengan kulit rambutan, dll. Untuk motif kami gunakan dedaunan untuk pemotifan warna dengan daun yang tidak banyak air dan daun yang mau meninggalkan jejak di kain. Selanjutnya untuk pembuatan saiko print dengan teknik pembuatan cara dipukul-pukul supaya lengket ke kain. Ada juga dengan cara lain yaitu dengan dikukus. Hasilnya, wah hasil ekoprint unlimitid lho, “kata Ainul tersenyum bangga.

Mutiara lain yang dipunyai desa ini yaitu hutan hujan tropis. “Kami ada burung harue yang di sini untuk mistis pengusir hama tanaman, biasanya padi yang tidak bagus atau hama lain,” tambah Ainul. Hutan yang kondisinya sampai saat masih terang diakui Ainul karena selain kepedulian seluruh masyarakat untuk menjaganya juga karena ada arahan dari Geopark Meratus untuk melaksanakan pemeliharaan. “Masing-masing ada yang memelihara, jadi kalau ada kayu yang hilang maka tanggungjawab masing-masing,” ujar pria yang selalu tersenyum ramah ini.

Desa Merangin disebutkan Ainul memiliki keluasan sekitar 24 ribu ha luas desa dan untuk danau sekitar 9000 ha. Penduduk desa 350 jiwa dengan jumlah kepala keluarga (kk) sebanyak 105 kk. Mayoritas mata pencarian masyarakat adalah petani, pekebun dan peternak di samping mengelola desa wisata. “Komitmen warga dengan membentuk Masyarakat Peduli Api adalah bagian dari kesadaran kami bersama untuk menjaga desa ini,” kata Ainul yang pada kesempatan ini mengatakan secara terus terang bahwa sampai saat ini dampak wisata ke sini belum maksimal. “Ada sih, seperti pendapatan para ojek, kapal, atau untuk urusan suplai makanan seperti pada acara seperti ini namun harus diakui bahwa itu belum maksimal,” kata Ainul seraya berharap jika nanti keinginan bersama membuka akses jalan ke sini melalui jalur darat sudah terealisasi mudah-mudahan bisa berdampak pada peningkatan perekonomian di wilayah ini.

teks:IST_Petugas Geopark Meratus menjelaskan salah satu tanaman unik yang di dalam batangnya puluhan bahkan ribuan semut bisa hidup padahal tidak ada rongga atau ruang masuk ke dalamnya. (saf/ms)’

Di tempat yang sama, Hasriadi mantan Ketua Pok Darwis (Kelompok Sadar Wisata) menyebutkan Pok Darwis sejak November 2013 berdiri, sebelumnya tahun 70-an sudah dikenal dengan beragam objek wisata menarik seperti air terjun. “Dinas Pariwisata meminta kami membentuk kelompok sadar wisata. Sehingga dalam perjalanannya kami bentuk beberapa jalur dan 2002 dibuatkan beberapa selter di pos 1, pos dan pos 3. Sejak dipromosikan Dinas Pariwisata mak berdatangan ke sini wisatawan. Itu sebelum kejadian bom Bali,” ujar Hasriadi yang sejak tahun 2013 sampai 2024 jadi Ketua Pok Darwis.

teks:IST_Aliran sungai dengan bebatuan yang ada di dalam Geopark Meratus (saf/ms)

Disebutkannya, desa ini memiliki wisata arung jeram, ada wisata burung, beruang madu, rusa dan aneka ular. Kami ada 4 air terjun yang ada di antaranya memiliki ketinggiannya mencapai 24 meter. Lokasinya 4 jam dari sini. Selanjutnya ada air terjun, ada puncak kahung besar yang ketinggiannya mencapai 1456 mdpl,”kata Hariadi seraya mengatakan bahwa pihaknya berencana bagaimana membuat trik paket wisata agar lebih menarik lagi di kemudian hari dengan ramah dan murah. “Misalnya untuk Mapala gratis dengan fasilitas yang diberikan. Selanjutnya dengan paket wisata Rp100 ribu per orang dengan fasilitas berupa makan 3 kali sehari, nginap di homestay yang sampai sekarang kami miliki sebanyak 13 tempat. Kami berharap bisa meningkatkan perekonomian masyarakat di sini dengan berbagai upaya ini,” kata Hariadi.

teks:IST_Penjelasan Petugas Geopark Meratus tentang aneka flora dan fauna seperti rusa, macan, ular, beruang madu dan aneka burung yang ada di sini. Selain itu ribuan jenis tumbuhan juga ada di sini. (saf/ms)

Sebelumnya para peserta lomba karya jurnalistik Porwanas 2024 diajak untuk melihat langsung keberadaan Geopark Meratus. Dengan menyediakan fasilitas berupa ojek wisata. puluhan peserta lomba diajak berwisata alam di hutan hujan tropis ini. Mulai dengan memasuki beberapa selter dengan dipandu petugas gabungan di antaranya dari Dinas Kehutanan Seksi Perlindungan Hutan, Bambang Susilo yang mengaku sudah 35 tahun bertugas menjaga hutan ini dengan setia. “Alhamdulilah saya sudah puluhan tahun bertugas di sini dan hutan ini bersama masyarakat terus terjaga. Ribuan flora dan fauna unik ada di sini dan betul-betul menakjubkan,” ujar Bambang yang juga secara detail menjelaskan aneka jenis tanaman yang ada di hutan ini selain aneka binatang yang hidup berdampingan. Geopark Meratus dan Desa Berangian dengan aneka pesona yang dimiliki ini terus dan tetap menanti untuk dijaga, dirawat dan dilestarikan. Mutiara terpendam dengan ribuan pesona ini masih setia menanti sentuhan pihak terkait untuk eksistensi mereka di masa depan. Berbagai hal yang perlu dibenahi seperti akses jalan yang bisa dipersingkat, fasilitas pendukung seperti alat transportasi menuju lokasi, serta ilmu dan keterampilan berwisata dalam hal ini layanan menyambut wisatawan perlu diberikan kepada masyarakat sehingga mereka betul-betul memahami bagaimana trik dan upaya agar wisatawan tak kapok ke sini bahkan sebaliknya kangen untuk berkunjung ke sini lagi. Semoga. (saftarina)

teks:IST_Papan petunjuk denah, lokasi, dan beberapa kegiatan di Geopark Meratus (saf/ms)

teks:IST_Akses jalur air dengan mempergunakan perahu (kapal kecil) yang ditempuh untuk sampai ke lokasi ini yaitu dermaga kecil atau tempat berlabuh di pangkal Desa Berangian yang merupakan lokasi Geopark Meratus berada. (saf/ms)

teks:IST_Kades Berangian (kiri berbatik) saat pelepasan peserta lomba Jurnalis Porwanas 2024.(saf/ms)

teks:IST_Kades Berangian (tengah) bersama Hariadi dari Pok Darwis (kanan) saat memberikan keterangan kepada peserta lomba.(saf/ms)

teks:IST_Penyambutan para peserta lomba di lokasi Desa Berangian. (saf/ms)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *