Ekonomi Sumsel Tumbuh 5,2 Persen
Teks foto: Suasana konferensi pers, Rabu (5/8).
PALEMBANG, MEDIASRIWIJAYA – Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Selatan, Moh. Wahyu Yulianto, S.Si., S.S.T., M.Si. dalam konferensi pers, Rabu (5/8) menyebutkan ekonomi Sumsel Triwulan II tahun 2026 ini tumbuh sebesar 5,20 persen (Y on Y).
Dalam paparannya, Wahyu menjelaskan perekonomian Provinsi Sumatera Selatan berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku triwulan II-2026 mencapai Rp 199,05 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 sebesar Rp 105,44 triliun.
Capaian positif ini memotret geliat aktivitas ekonomi daerah yang semakin solid, didorong oleh perpaduan antara lonjakan produksi sektor unggulan berbasis sumber daya alam serta percepatan realisasi belanja publik pemerintah.

Dari sisi produksi atau lapangan usaha, sektor Pertambangan dan Penggalian tampil sebagai pendorong utama (prime mover) perekonomian Bumi Sriwijaya. Lapangan usaha ini mencatatkan pertumbuhan tertinggi, melesat hingga 11,82 persen dibanding triwulan sebelumnya.
Peningkatan drastis pada sektor tambang didasari oleh optimalisasi kuota dan percepatan realisasi produksi batu bara serta komoditas mineral unggulan daerah lainnya. Langkah ini sejalan dengan masih tingginya permintaan energi domestik untuk menopang kelistrikan nasional serta terjaganya komitmen kontrak ekspor ke sejumlah negara mitra.
Selain pertambangan, sektor manufaktur olahan, pertanian, dan perdagangan juga terus mencatatkan performa stabil yang mendukung akumulasi laju PDRB daerah.
Belanja Negara dan Pemda Melonjak Tajam
Sementara itu dari sisi pengeluaran, agregat Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PK-P) mencatatkan rekor kenaikan paling tinggi, yakni tumbuh signifikan sebesar 18,87 persen (q-to-q).
Lonjakan konsumsi pemerintah pada periode April–Juni 2026 dipengaruhi oleh siklus penyerapan anggaran publik yang ekspansif.
Pencairan Tunjangan Hari Raya (THR) dan Gaji Ke-13 bagi Aparatur Sipil Negara (ASN),
Percepatan realisasi belanja modal untuk proyek-proyek infrastruktur prioritas daerah, serta efektivitas penyaluran program bantuan sosial tepat waktu.
Pencairan belanja pegawai dan instansi pemerintah tersebut terbukti memberikan efek berganda (multiplier effect) langsung terhadap daya beli masyarakat dan perputaran roda ekonomi daerah sepanjang triwulan II.
Dengan pertumbuhan mencapai 4,51 persen pada triwulan II, iklim usaha dan aktivitas perekonomian di Sumatera Selatan dinilai berada di jalur (on-track) yang sangat positif.
Kendati demikian, tantangan di semester II-2026 tetap perlu diantisipasi, terutama terkait efisiensi rantai pasok komoditas serta pentingnya menjaga daya beli masyarakat agar laju pertumbuhan ekonomi dapat terus bertahan hingga akhir tahun.
Ekonomi Provinsi Sumatera Selatan triwulan II-2026 terhadap triwulan sebelumnya mengalami pertumbuhan sebesar 4,51 persen (q-to-q). Dari sisi produksi, Lapangan Usaha Pertambangan dan Penggalian mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 11,82 persen. Sementara dari sisi Pengeluaran, Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PK-P) mengalami pertumbuhan tertinggi yaitu sebesar 18,87 persen. “Ekonomi Provinsi Sumatera Selatan triwulan II-2026 terhadap triwulan II-2025 mengalami pertumbuhan sebesar 5,20 persen (y-on-y). Dari sisi produksi, Lapangan usaha Jasa Pendidikan mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 9,81 persen. Dari sisi Pengeluaran, pertumbuhan tertinggi terjadi pada Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PK-P) yaitu sebesar 13,20 persen,” ujarnya.
Selanjutnya, Ekonomi Provinsi Sumatera Selatan sampai dengan triwulan II-2026 tumbuh sebesar 5,27 persen (c-to-c). Dari sisi produksi, Lapangan Usaha Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 10,10 persen. Sementara dari sisi Pengeluaran, Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PK-P) mengalami pertumbuhan tertinggi yaitu sebesar 13,28 persen. (*)




