Cerita Rasa Sumatra: Amartha Ajak Ibu-Ibu Jaga Pangan Lokal Lewat Lomba Memasak
Teks foto:IST – Proses kompetisi memasak yang dilakukan oleh para ibu-ibu mitra Amartha.
- Program “Cerita Rasa” merupakan kompetisi memasak berbasis pangan lokal yang diselenggarakan Amartha secara nasional, dimulai di wilayah Sumatra, Kalimantan, dan akan berlanjut di Bali, Sulawesi, serta Jawa untuk meningkatkan ketahanan pangan lokal.
- Kompetisi ini melibatkan lebih dari 1.000 ibu mitra binaan Amartha dan setiap pemenang di wilayah akan bertanding di Jakarta pada Februari 2026 bersamaan dengan peluncuran produk Amartha Prosper.
PALEMBANG, MEDIASRIWIJAYA – Amartha Financial (Amartha), perusahaan tekfin penyedia layanan keuangan digital bagi UMKM perempuan di desa, menggelar kompetisi memasak kuliner khas lokal di Provinsi Sumatra Selatan, Bengkulu, Riau hingga Lampung. Kegiatan bertajuk “Cerita Rasa” ini menjadi kompetisi memasak pertama yang diinisiasi Amartha sebagai bagian dari upaya merawat pangan lokal sekaligus memperkuat peran UMKM dalam ekonomi daerah.
Dengan melibatkan lebih dari 1.000 ibu mitra UMKM binaan Amartha di berbagai daerah, rangkaian kompetisi ini mengangkat 75 cerita rasa yang tumbuh dari dapur-dapur rumah tangga. Pada tahap awal, ibu mitra UMKM yang telah diseleksi membentuk kelompok untuk memasak dan mewakili tingkat regional. Seleksi meliputi penilaian atas teknik memasak dan pemahaman tentang bahan pangan lokal. Pemenang di tingkat regional akan maju mewakili Provinsi dan mengikuti kompetisi tingkat nasional di Jakarta.
Mengangkat tema pangan lokal Sumatra, kompetisi ini menyoroti kuliner yang tumbuh selaras dengan sungai yang menjadi nadi kehidupan sekaligus sumber bahan pangan. Perempuan terutama para ibu memiliki peran kunci dalam mengolah hasil kuliner pangan lokal sekaligus menopang ekonomi keluarga hingga menjaga warisan kuliner agar terus lestari lintas generasi.
Julie Fauzie, Chief Funding Officer Amartha menyampaikan, “Pangan lokal bukan sekadar bahan masakan, tetapi bagian dari kehidupan. Dari dapur, para ibu terus menjaga tradisi untuk menghadirkan masakan rumahan yang menemani tumbuh kembang anak dan menjadi kenangan di setiap keluarga. Amartha percaya, perempuan memiliki peran penting dalam menjaga warisan rasa. Lewat program Cerita Rasa, Amartha ingin memastikan pangan lokal yang sederhana tetap bermakna menjadi bagian dari kehidupan, penghidupan, dan harapan bagi keluarga serta komunitas”, ujarnya.
Pada tahap regional Sumatra, kompetisi ini mempertemukan lima kelompok ibu mitra UMKM yang berasal dari berbagai wilayah, meliputi Baturaja, Bengkulu, Pangkalan Kuras, Pekanbaru, dan Lampung Selatan. Masing-masing kelompok menghadirkan sajian masakan berbahan pangan lokal yang mengangkat cerita, tradisi, dan kekayaan kuliner dari daerah asalnya. Seluruh rangkaian proses dan cerita menarik di balik kompetisi memasak para ibu di Sumatra ini terangkum di YouTube Amartha.
Masita Febrianti, salah satu peserta kompetisi memasak asal Bengkulu bercerita, “Kami merasa senang sekaligus bangga, sebagai ibu-ibu yang kesehariannya sangat dekat dengan kegiatan di dapur dan pangan lokal, ajang ini menjadi ruang untuk merawat cita rasa yang diwariskan dalam keluarga, sekaligus membuka jalan bagi kesejahteraan keluarga dan komunitas”, imbuhnya.
Puncak kompetisi akan digelar di Jakarta dalam rangkaian peluncuran Amartha Prosper, yang mana para finalis akan berkompetisi di hadapan juri utama dan calon investor. Skema ini tidak hanya menampilkan kemampuan kuliner Ibu Mitra, tetapi juga memperkuat narasi pangan lokal, pemberdayaan ekonomi perempuan, serta konektivitas antara UMKM akar rumput dan ekosistem investasi berkelanjutan.
Melalui kompetisi ini, Amartha ingin menguatkan nilai bahwa UMKM berperan penting dalam merawat keberlanjutan budaya kuliner lokal. Namun, UMKM membutuhkan dukungan berupa akses keuangan yang inklusif dan terjangkau. Oleh sebab itu, Amartha menawarkan berbagai layanan yang mendukung penguatan ekonomi akar rumput.
Mulai dari layanan investasi mikro yang memungkinkan mitra menyisihkan sebagian keuntungan usaha sebagai dana pendidikan anak maupun dana darurat, layanan warung digital AmarthaLink yang membantu menambah pendapatan mitra, hingga Amartha Prosper sebagai platform investasi berkelanjutan yang diharapkan mampu membantu UMKM untuk memperoleh modal usaha.
“Berangkat dari dapur-dapur sederhana para ibu, Amartha membuka akses layanan keuangan yang inklusif agar tradisi pangan lokal tidak hanya hadir di meja makan, tetapi juga menjadi sumber penghidupan. Melalui investasi berkelanjutan, masyarakat diajak untuk ikut berkontribusi menguatkan UMKM perempuan, ekonomi daerah, dan keberlanjutan pangan lokal. Dari rasa rumahan inilah, Amartha berharap masa depan pangan Indonesia tetap terjaga,” tutup Julie.
Hingga tahun 2025, Amartha telah menyalurkan lebih dari Rp37 triliun modal usaha kepada 3,7 juta UMKM perempuan, guna memperkuat kewirausahaan mikro, menciptakan lapangan kerja, dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif di Indonesia. (*)
Tentang Amartha Financial
Didirikan pada 2010 dan dikenal dengan brand “Amartha”, Amartha Financial (PT Amartha Financial Group beserta anak perusahaannya) menghadirkan layanan keuangan digital yang lengkap dan dirancang untuk menjawab kebutuhan masyarakat serta UMKM perempuan di lebih dari 50.000 desa di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Bali Nusra, melalui aplikasi AmarthaFin.
Amartha Financial mencakup PT Amartha Mikro Fintek, pemegang lisensi pendanaan produktif; PT Amartha Warbler Finance, pemegang lisensi pembiayaan tunai, keduanya berizin dan diawasi oleh OJK; serta PT Amartha Finansial Asia, pemegang lisensi uang elektronik (dompet digital) yang berizin dan diawasi oleh Bank Indonesia.
Melalui AmarthaFin, pengguna dapat mengakses layanan pembiayaan modal kerja, pembayaran digital, PPOB, penyaluran zakat, serta fitur investasi yang menghubungkan masyarakat desa dengan investor nasional maupun global.
Hingga saat ini, Amartha telah menyalurkan lebih dari Rp37 triliun modal usaha kepada 3,7 juta UMKM perempuan, guna memperkuat kewirausahaan mikro, menciptakan lapangan kerja, dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif di Indonesia. (*)




