EkonomiNasionalPalembangSUMSEL

Berawal dari Ruang Serbaguna, Merajut Asa Inklusi, Mengubah Keterbatasan Berganti Energi Kemandirian

Foto: Dok. Kegiatan Pertamina Kilang Plaju saat memberikan bantuan kepada Yayasan Sharing Disability Indonesia (YSDI), 3 Juli 2026 lalu. 

Siang menjelang sore, Sabtu (12/9/20206) meski cuaca terik namun bagi Andre (31) terasa sejuk dan adem. Sebagai penyandang disabilitas netra Andre dengan luwes mengelus gazebo (ruang belajar, red) yang ada di hadapannya. “Dulu, ketika mau berkumpul, kami selalu kebingungan mencari lokasi di mana. Tempat ini dulunya hanya pelataran tanpa atap di atasnya. Kalau hujan kebasahan, kalau panas ya kepanasan, dak katek atapnyo,” kata Andre sambal tertawa lepas namun jelas terlihat mimik wajahnya menerawang, mengingat masa-masa sulit sebelum ada tempat untuk pertemuan yang representatif yang sekarang ada di hadapannya.

Andre, adalah salah satu pengurus Yayasan Sharing Disability Indonesia (YSDI), yang berdomisili di kota Palembang. Ketika ditemui penulis beberapa waktu lalu, Andre bersama Ketua YSDI Anis Mutmainah dan suaminya Wide terlihat buru-buru mau menghadiri hajatan dari salah satu komunitas mereka. “Mbak, kami mau hadiri acara peresmian rumah tahfiz tunanetra bersama Pak Gubernur. Jadi mbak kita wawancaranya sambil jalan saja ya di dalam mobil, mari ikut kami,” ujar Anis mengajak penulis ikut serta dalam kendaraannya.

Foto: Dok. IST – Andre (kiri, berbatik) bersama anak-anak disabilitas di sela menerima kunjungan kru Pertamina Kilang Plaju, 3 Juli 2026 lalu. 

Sebuah pemandangan luar biasa di mana, Anis yang memiliki keterbatasan dengan kekurangan fisik terutama bagian kedua kakinya dan harus duduk di kursi roda. Sementara Wide suaminya juga dengan mempergunakan tongkat penyanggah di kedua tungkai tangannya dan Andre sendiri dengan predikat tunanetra. Namun tiga sosok ini dengan sigap “kemandirian” yang luar biasa.

Penulis mencoba untuk membantu menurunkan kursi roda, namun Andre sigap menolak. “Biar Mbak, saya saja,” kata Andre sambil segera mengeluarkan kursi roda dari bagian belakang mobil dan untuk disodorkan ke dekat Anis dan mempersilahkan Anis duduk, sementara Wide sigap mengambil kunci mobil dan mempersiapkan untuk segera dijalankan. Sebuah pemandangan yang sangat luar biasa dan sempat membuat bulu kudu penulis merinding terharu.

“Dulu, kalo kumpul sebelum acara dimulai, kami duduk di pojok sana pojok sini. Sudah ada sih pelatarannya tapi belum ada atapnya. Alhamdulilah, datang pertolongan dari Pertamina Kilang Plaju yang memberikan dana sekitar Juli 2026 lalu. Alhamdulilah, dana itu dibelikan kanopi dan perlengkapan lainnya dan sekarang kita tidak kehujanan kepanasan lagi. Jika ada pertemuan di ruang serbaguna itulah tempatnya,” ujar Andre.

Secerca harapan Andre bersama 315 penyandang disabilitas baik anak-anak maupun dewasa yang tergabung dalam YSDI bangkit. “Kami tidak melihat nilai tapi manfaatnya. Di saat kami betul-betul membutuhkan dana untuk membeli kanopi dan perlengkapan lain, datang bantuan dari Pertamina Kilang Plaju. Alhamdulilah, berawal dari balai pertemuan itu kami merajut harapan ke depan. Berkumpul, berembuk, dan berdiskusi bagaimana kami menjadi sosok yang tidak dikasihani tapi diperhitungkan,” ujar Anis dengan mimik serius

Tak dihabiskan untuk biaya makan-makan, tak digunakan untuk keperluan tak bermanfaat, tapi bantuan yang diberikan dipergunakan untuk finishing ruang serbaguna. “Bahwa bantuan dana dari Pertamina Kilang Plaju dimanfaatkan untuk finishing ruang belajar multiguna. Anaknya belajar di situ, orangtuanya ikut mengerjakan apa saja, Bagi para penyandang multidisabilitas dan para pendampingnya, kehadiran Pertamina bukan sekadar penyerahan bantuan, tetapi juga menjadi bentuk kepedulian dan dukungan agar kami terus tumbuh, berkarya, dan menjalani kehidupan dengan penuh harapan,” kata Anis Mutmainah, Pimpinan YSDI.

Teks foto: Anis Mutmainah bersama suaminya, Wide saat menerima kunjungan Pertamina Kilang Plaju.

Penyandang disabilitas di kota Palembang khususnya sudah mencapai ribuan. Bahwa dengan segala keterbatasan fisik sudah nyata tapi ada yang lebih mengkhawatirkan lagi yaitu paradigma “tak bisa apa-apa dan melakukan apa-apa” itu yang terjadi. “Jadi pengemis, jadi pengamen, minta dikasihani atau justru mengkasihani diri. Itulah yang terjadi dengan komunitas kami. Anggota kami saja 315 orang yang tergabung di YSDI. Ratusan ini yang akan kami ubah dan berdayakan menjadi sosok yang mandiri,” kata Anis.

Berbekal tempat pertemuan serbaguna, YSDI bisa setiap saat mengadakan pertemuan baik untuk anak-anak penyandang maupun para orangtua. Berawal dari tempat ini, muncul ide, pemikiran dan semangat memandirikan kemampuan yang ada. YSDI Palembang didirikan secara mandiri dengan dana sendiri.

Komitmen kuat saling rangkul sesama penyandang diakui Anis dan suaminya, Wide sebagai sebuah petunjuk Tuhan. “Sejak anak kami satu-satunya, Gendis, sembuh dari sakit yang sangat mengkhawatirkan, saya bersama suami bertekad untuk terus menjalankan Yayasan ini apa pun yang terjadi,” kata Anis seraya menyebutkan satu persatu berbagai program kerja dan kegiatan yang sudah dilakukan YSDI yang berfokus pada penguatan kapasitas, pemberdayaan ekonomi jangka panjang serta kemandirian penyandang disabilitas. ”Kita ada pelatihan Batik Ciprat, dan produknya kita jual di Teras Gendis yang ada di Sekretariat kami. Batik Ciprat ini semua karya dari penyandang disabilitas. Selanjutnya, ada lagi kerajinan bermacam mulai dari pemanfaatan rotan jadi bunga rotan, tas rotan, tempat peralatan dapur dan perabot dari rotan, Kita ada juga pelatihan pembuatan eco enzyme dengan membuat sabun cair, ada program bank sampah inklusi yaitu program pengelolaan sampah anorganik dan organik dengan sistem bayar ilmu dengan sampah. Warga dan anak-anak disabilitas mengumpulkan sampah terpilah untuk ditabung, lalu ditukar dengan fasilitas belajar gratis di tempat kami,” ujar Anis seraya menambahkan anggota YSDI sudah lebih dari 315 orang dan sekarang mereka sudah merambah ke luar Palembang yaitu di Kayuagung Ogan Ilir dengan menyisir para penyandang disabilitas untuk diajak gabung dan diberdayakan. “Kami support dari profit jualan ini. Ada penjualan Teras Gendis, kami sisihkan untuk modal, operasional dan bantu teman-teman disabilitas,” katanya.

Foto-foto: IST – Ekspresi para penyandang disabilitas YSDI.

Ada yang mengelitik penulis ketika bercengkrama dengan ketiga narasumber ini. Andre, dengan nada kocak sempat nyeletuk. “Aku ni hanya tak bisa nyupir saja. Kalau aku bisa melihat mungkin aku yang bawa mobil ini ke mana-mana. Jadi ketika Mas Wide dan Mbak Anis berhalangan aku yang bawa mobil,” kata Andre sambil tertawa.

Penulis sempat tertegun ketika ponsel yang dibawa Andre berdering bahkan dalam frekuensi yang sering. Penasaran, seperti apa sih Andre menjawabnya. Sambil menarik ponsel dari saku bajunya, Andre mendekatkan ponselnya ke telinganya sembari sempat mengklik beberapa fitur di layar ponselnya. “Kok bisa,” tanya penulis tanpa basa-basi.

Andre pun lagi-lagi tertawa lepas. “Itulah kelebihan kami, kami ingin mengubah paradigma dikasihani, dengan menjual kesedihan, menjual kekurangan fisik kami. Kami tidak menjual itu tapi kami jual kreativitas, skill dan kemampuan. Kualitas? Kami memang berkompeten, jadi bukan sekadar kasihan. Kami dihargai karena kompetensi bukan karena kasihan. Kami tak mau, jadi pengemis, minta-minta di jalan atau minta kasihani tanpa melakukan apa-apa,” kata Andre.

Ket foto: Ist-dok – Wide, suami Anis Mutmainah bersama kru Pertamina Kilang Plaju saat memperhatikan proses pembuatan Batik Ciprat, 3 Juli 2026 lalu dengan latar belakang berbagai produk hasil kerajinan para disabilitas YSDI. 

Masya Allah ternyata dengan kecanggihan teknologi sekarang, disabilitas netra pun akan sama seperti sosok normal dalam menerima telepon via ponselnya. “Braile itu hanya sekunder. Sekarang kita sudah digital. Zaman sudah canggih, dengan aplikasi AI sudah bisa kita terapkan. Kita menggunakan Pdf juga bisa, asalkan jangan hasil scan. Harus pake aplikasi tambahan lagi. Dari HP itu bisa kita modifikasi lagi agar para anak-anak penyandang disabilitas ini, bagaimana situli dan sinetra ini jadi besti (karib/kolaborasi bersama, red). Melek digital, jadi tidak ada alasan lagi bagi netra itu bilang tidak bisa apa apa,” katanya dengan nada optimis.

Andre merupakan sarjana strata 1 yang lulus dengan membuat skripsi tentang Pengubahan Pengajaran Digital Marketing di salah satu universitas di Bandung. “Dulu belum menjamur seperti sekarang. Sempat  alot dengan penguji pas sidang skripsi. Apakah tunanetra bisa main komputer? Sekarang Andre bikin KODING saja bisa kok,” tambah Andre sambil tertawa bahagia.

Bahwa YSDI adalah kumpulan multidisabilitas. “Kami didik anak-anak disabilitas di sini untuk mandiri. Mulai dari ke kamar kecil sendiri, makan sendiri. Anak disuruh mandiri. Bukan kita tega tapi kita  berpikir bagaimana suatu hari orangtuanya dipanggil Allah duluan. Nah siapa yang akan mengurusi anaknya yang disabilitas. Kalau orangtua yang terlalu sayang anaknya diurusi nanti gimana. Bukan belas kasihan tapi ruang berekspresi, berkarya,” kata Anis seraya menambahkan bahwa yayasannya butuh dana untuk menghidupi keberlangsungan seperti membayar guru, dan lain-lain operasional Yayasan. “Itu yang saat ini kami butuhkan. Kalau mau mengandalkan  Yayasan ini dari profit. Modal diputarkan lagi untuk beli bahan pembuatan sabun pencuci, bahan batik,  begitulah, berputar modalnya karena masih dalam jumlah terbatas,” tambah Anis.

Apa yang disebutkan Anis, seperti penglihatan penulis di sekretariatnya. Ada sekitar 5000 liter sabun cair yang siap diedarkan untuk dijual. Namun sepertinya masih terkendala pemasaran. Selain belum ada hak paten, juga belum ada izin Permenkes RI “Padahal sudah ada beberapa SPPG yang ingin kerjasama dengan membeli sabun cair kami. Ada juga pengusaha bakso. Batik Ciprat kami juga masih terkendala pemasarannya. Kami punya beberapa homecare, kami bisa hidup dan menghidupi tapi kami belum ketemu hilir, baru hulu saja ini.  Hanya dari mulut ke mulut. Bukan konsumen tetap. Susahnya menembus pasar untuk menjual produk kita. Banyak kendala,” ujar Wide, suami Anis.

Kilang Pertamina Plaju pada awal Juli 2026 lalu membawa secerca energi luar biasa. Rombongan perwakilan Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) III Plaju yang diwakili Galih Arjuna Ismail selaku Jr Officer I CSR dan SMEPP RU III Plaju disambut kehadirannya oleh Pimpinan YSDI, Anis Mutmainah, anak-anak dan orangtua penyandang disabilitas di Sekretariat YSDI Palembang.

Area Manager Communication, Relations & CSR Kilang Plaju, Siti Fauzia mengatakan perusahaan berkomitmen menghadirkan program sosial yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat. “Dukungan kepada berbagai lembaga sosial menjadi salah satu  langkah dalam mendorong terciptanya lingkungan yang lebih inklusif. Kami percaya bahwa kepedulian bukan hanya tentang memberikan bantuan, tetapi juga tentang menghadirkan harapan dan memastikan setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang. Kami berharap dukungan ini dapat memperkuat upaya pemberdayaan penyandang multidisabilitas sekaligus menghadirkan manfaat yang berkelanjutan bagi mereka. Melalui dukungan kepada YSDI, kami berharap bantuan yang diberikan dapat menunjang aktivitas dan proses belajar mengajar agar berjalan lebih baik. Salah satunya melalui bantuan renovasi atap, perbaikan lantai, serta pengecoran tambahan untuk mendukung fasilitas tempat belajar anak-anak disabilitas. Kami memandang bahwa kemandirian tidak hanya berkaitan dengan kemampuan ekonomi, tetapi juga kesempatan untuk belajar, mengembangkan potensi, dan beraktivitas dalam lingkungan yang aman serta layak. Karena itu, dukungan terhadap fasilitas dan kebutuhan dasar menjadi salah satu bentuk kontribusi kami dalam mendukung proses tersebut. Adapun perkembangan kemandirian penerima manfaat secara spesifik adalah mereka tetap bisa belajar, mengembangkan dirinya di tempat yang difasilitasi dan terlindungi dari kebocoran atas akibat cuaca hujan,” tambahnya seraya menambahkan bahwa program tersebut merupakan bagian dari komitmen Corporate Social Responsibility (CSR) atau Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Kilang Plaju dalam menghadirkan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat, khususnya kelompok rentan. Inisiatif tersebut sejalan dengan komitmen Kilang Plaju dalam menerapkan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG), khususnya pada aspek sosial, sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama tujuan pengurangan kesenjangan, peningkatan kesejahteraan, serta penguatan kemitraan untuk pembangunan berkelanjutan.

Berawal dari balai pertemuan, yang merupakan titik awal perjalanan menuju “Kemandirian” para penyandang disabilitas di YSDI. Fasilitas Pendidikan berupa ruang belajar yang difasilitasi Pertamina Kilang Plaju ini adalah manifestasi nyata dari tema besar “Energizing Innovation”—bahwa inovasi terbaik Pertamina tidak hanya lahir di instalasi kilang minyak atau pipa gas, melainkan tumbuh subur di dalam sanubari anak-anak dan kelompok disabilitas yang sempat terlupakan.

Bagi Pertamina, menyalurkan energi bukan lagi sekadar memastikan pasokan bahan bakar minyak aman hingga ke pelosok desa. Lebih dari itu, ini adalah tentang bagaimana menyalakan lentera harapan di dalam jiwa-jiwa yang sunyi, memastikan bahwa di tanah Palembang, tidak boleh ada satu pun anak bangsa yang tertinggal di belakang jalur kemajuan. Bahwa inklusi sosial adalah keniscayaan. Semoga. (safta)

KOMENTAR

foto: ist 

Gubernur Sumsel Dr. Herman Deru

Disabilitas hanyalah kondisi fisik. Soal bakat dan kemampuan, mereka memiliki kesempatan yang sama untuk berkarya, berproduksi, dan berkontribusi bagi pembangunan. Pemerintah membuka ruang seluas-luasnya bagi kaum disabilitas untuk berkreasi.

Kepada YSDI, produk hasil karya penyandang disabilitas harus lebih sering dipromosikan dan diikutsertakan dalam berbagai kegiatan maupun event komersial agar semakin dikenal masyarakat. Selain itu, saya memberikan arahan utama bagi pengembangan usaha penyandang disabilitas yaitu peningkatan keterampilan baik fisik maupun nonfisik, kemudahan akses permodalan, serta perluasan akses pasar, (*)

Kepala Dinsos Kota Palembang, H. Edison, S.Sos., M.Si. (ist/dok)

Apa yang dilakukan Pertamina Kilang Plaju ini luar biasa. Memberikan apa yang betul-betul dibutuhkan Yayasan YDSI tersebut. Berawal dari tempat ruang belajar itulah segala mimpi dan program kerja ke depan bisa dilaksanakan. Dirembukkan, diwujudkan, dijalankan dan pada akhirnya bisa dinikmati mereka sebagai sebuah pengharapan jaminan masa depan yang lebih baik. Memberdayakan apa yang mereka punya tanpa mempedulikan kekurangan yang ada. Justru keterbatasan jadi pemicu semangat untuk bisa membuktikan diri, bisa seperti manusia normal lain bahkan lebih berdaya dari sekadar seonggok nyawa manusia tanpa berbuat apa-apa. (*)

Kepala Perwakilan Ombudsman RI Provinsi Sumatera Selatan M. Adrian Agustiansyah, S.H., M.Hum (ist/dok)

Perhatian lebih perlu diberikan kepada penyandang disabilitas terutama di sektor Pendidikan, ketenagakerjaan, serta penyediaan sarana prasarana publik yang ramah bagi mereka. Ini sesuai dengan Pasal 5 ayat I UU No 8 Tahun 2016 bahwa penyandang disabilitas mempunyai hak memperoleh Pendidikan, pekerjaan, kewirausahaan dan koperasi, kesehatan, aksesibilitas, pelayanan public dan hak lainnya. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *