OPINI: JIDUR EMPATLAWANG TERANCAM PUNAH
OLEH: VEBRI AL LINTANI
DIREKTUR LEMBAGA BUDAYA KOMUNITAS BATANGHARI SEMBILAN
(KOBAR 9)
Tampilan Jidur Ematlawang dalam kegiatan Pekan Adat Smatera Selatan di Graha Budaya Jakabaring , 20 November 2021.
Dalam kesayupan, aku membayangkan bagaimana ekspresi kesenian Jidur Empatlawang yang dimainkan oleh para lanang dewasa di ruang tamu rumah panggung di dusun Kunduran Baru, kecamatan Ulu Musi kabupaten Empatlawang. Ketika itu, sekitar pertengahan tahun 1970-an. Rasa-rasanya umurku baru sekitar 6 atau 7 tahun.
Pertunjukan Jidur Empatlawang yang memadukan tetabuhan perkusi, dendang syair dan gerakan tarian menorehkan kesan mendalam bagiku. Hingga usia lebih dari setengah abad ini, aku masih mengenangnya dan mengharap adanya tampilan meriah dalam rangkaian kegiatan adat perkawinan di Empatlawang. Namun, seribu kali sayang, kesenian tradisional khas itu telah lama menghilang seolah hanyut di arus deras sungai musi. Oleh karena rasa cinta kepada kebudayaan Empatlawang, aku mencari dan menanyakannya pada setiap tokoh masyarakat di Empatlawang, apakah masih ada jejak jidur di Empatlawang, apakah mereka masih memainkannya. Jikalau sudah tidak ada lagi, apakah masih berpeluang dihidupkan lagi.
Mujur bagiku, pada 19 April Tahun 2019, dalam peristiwa Festival Sedekah Serabi di Pulau Pasar Emas, kota Tebingtinggi, aku ketemu Jumli, seorang pelaku kesenian Dikir yang akan tampil pada kesempatan itu. Jumli yang berasal dari Desa Karangare, Kecamatan Talangpadang, dan berusia sekitar 70 tahunan mengatakan, bahwa sejak tahun 80-an, kesenian Jidur berangsur menghilang. Jika mau dihidupkan lagi (reivitalisasi), berkemungkinan sangat bisa. Menurut Jumli, para pelakunya masih ada yang hidup, namun alatnya sudah tidak ada lagi. Kebetulan Jumli sendiri adalah pelaku kesenian Jidur. Jumli mengharapkan agar Pemerintah Kabupaten dapat membantu membelikan alat-alat perkusi berupa gendang, ketipung dan ketawak (gong kecil).
Berikut, pada tahun 2020, dalam rangka menulis buku Tradisi Lisan Empatlawang yang difasilitasi oleh Pemkab Empatlawang, kami berkesempatan mengunjungi kecamatan dan desa di wilayah Empatlawang, rata-rata tokoh masyarakat dan tokoh budaya yang sempat diwawancarai memberikan jawaban yang sama dengan ujaran Jumli. Kesenian Jidur adalah kesenian tradisional asli dan khas Empatlawang dan idak ada di tempat lain. Namun saat ini terancam punah.
Pada tahun 2021, atas prakarsa Sulton (Ketua Lembaga Adat Empatlawang), Haeroni (ASN Bidang Kesra Pemkab) dan didukung oleh Kiai Haji Abdullah Maki (Staff Khusus Bupati dan Ketua MUI Empatlawang) serta beberapa pegiat kesenian di Desa Gonongmerakso memulai latihan Jidur. Kegiatan ini merupakan upaya pelestarian Jidur Empatlawang dan juga kesenian dikir.
Desa Gonongmerakso dapat disebut sebagai pelopor revitalisasi kesenian Jidur. Hasilnya, kesenian yang berbasis Melayu Islam ini sempat ditampilkan dalam beberapa kegiatan seremonial Pemkab Empatlawang. Terakhir, pada 20 November 2021 tampil di Graha Budaya Jakabaring Palembang dalam Pekan Adat Sumatera Selatan yang diadakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumatera Selatan.
Sebagai pengusul adanya tampilan kesenian di Pekan Adat Sumatera Selatan dari Empatlawang, tentu sangat menggembirakan. Namun, kemarin, ketika aku menghubungi Mang Sulton (panggillanku pada Sulton), dalam rangka menawarkan tampilan Jidur (kalau jadi) pada kegiatan penyerahan sertifikat Hak Kekayaan Inteluktual (HKI) Komunal dari Kemhumham kepada para bupati/wako dalam wilayah Sumatera Selatan oleh Kemkumham pada akhir September mendatang, aku dapat kabar yang menyedihkan. Kata beliau, upaya penguatan lembaga adat yang beliau pimpin dan juga pelestarian kesenian termasuk kesenian dikir dan jidur kurang mendapat perhatian dari pihak Pemkab. Mereka menjadi lemah semangat.
Saya selalu berprangka baik atau husnudzon pada Pemkab Empatlawang. Berkemungkinan karena didera oleh suasana Pandemi Covid 19 dalam 3 tahun terakhiir ini, maka kapasitas perhatian terhadap kebudayaan daerah dikurangi, sebagaimana terjadi juga di daerah-daerah lain. Semoga di tahun mendatang, akan kembali ada perhatian, khususnya dari Bupati Joncik Muhammad yang saya tahu persis memiliki komtmen tinggi untuk memajukan kebudayaan daerah. Terbukti, ketika sebelum adanya pandemi, objek “Sedekah Serabi” yang saya usulkan telah diakomodir dengan baik, dan Alhamdulillah telah menghasilkan kajian akademis, buku, dan pada tahun 2021 telah disertifikasi sebagai Warisan Budaya Tabenda Indonesia. Harapannya, agar di tahun depan dapat digelar kembali Festival Sedekah Serabi melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Empatlawang.
DESKRIPSI KESENIAN JIDUR EMPATLAWANG
Di Sumatera Selatan, terutama di kota Palembang, Pedamaran OKI, Sekayu, Banyuasin, Ogan Ilir dan wilayah sekitar Palembang, istilah jidur merujuk pada ensamble musik atau orkestra musik tiup yang serupa dengan musik “tanjidor” yang berkembang di Betawi. Musik asal portugis ini sering juga disebut dengan musik “B’las” atau “Brass”. Awalnya, musik ini dikenalkan oleh kolonial Belanda pada abad ke-19.
Berbeda dengan musik jidur tersebut di atas, kesenian jidur Empatlawang dipengaruhi oleh kebudayaan Melayu-Islam dan Timur Tengah berakulturasi dengan budaya lokal Empatlawang. Kata jidur sendiri, berasal dari nama alat musik perkusi yang mengeluarkan suara “dur, dur, dur….”.
Ada juga yang menyebutnya dengan istilah bajidur. Awalan ba dalam bahasa Empatlawang bermakna sama dengan awal “ber” dalam bahasa Indonesia. Suku kata ba merupakan awalan kata untuk mengubah arti kata benda menjadi kata kerja. Jadi, bajidur berarti melakukan kegiatan kesenian “jidur”. Sedangkan kesenian ini tetaplah disebut dengan jidur.
Jidur Empatlawang terdiri dari 3 unsur seni, yakni unsur seni musik, seni tari dan unsur seni sastra. Dimainkan oleh 6 orang laki-laki, yakni: 1 orang penabuh Jidur, 2 orang penabuh ketipung, 1 orang penabuh gong, 2 orang menari (mirip ragam tari dana Melayu). Dalam tampilannya dimulai dengan tetabuhan musik perkusi, disusul dengan lantunan dendang syair atau pantun oleh seorang vokalis yang (terutama masa lalu) harus memiliki suara yang melengking agar tidak kalah dengan tetabuhan perkusi. Isi syair atau pantun pembuka lazimnya pengenalan kelompok dan permohonan izin untuk pertunjukan. Berikutnya, syar atau pantun berisi tema nasehat, percintaan, kehidupan, kesedihan dan kejenakaan, sesuai dengan kondisi yang dikehendaki. Setelah satu bait syair , diikuti pula oleh 2 orang penari yang telah siap. Gerakan tarian berbasis tari zafin yang mengutamakan gerakan kaki.
Kesenian jidur biasanya dilaksanakan seminggu menjelang perayaan pesta perkawinan penganten, ketika semua kerabat yang akan membantu kegiatan hajatan sudah berkumpul. Berbagai kegiatan untuk persiapan perayaan, misalnya membuat dekorasi, pemasangan balai tempat resepsi, persiapan konsumsi dan lain sebagainya disiapkan dengan cara bersama-sama atau gotong royong.
Tempat pertunjukan jidur lazim dilaksanakan di dalam rumah panggung, dan disaksikan oleh bujang-bujang dan orang tua yang duduk melingkar di ruang tengah. Sedangkan para gadis menyaksikan dengan cara mengintip dari ruang belakang. Para gadis bertugas menyiapkan makanan-makanan kecil untuk tamu dan orang yang bajidur tersebut. Bagi para remaja, pada kesempatan ini dimanfaatkan untuk saling mengenal. Siapa tahu diantara bujang dan gadis ada yang saling menyenangi dan berlanjut ke pernikahan.
Melihat bentuknya, kesenian jidur mirip dengan tari zafin yang diringi dengan musik gambus. Apabila musik gambus dimainkan dengan alat musik yang lengkap. Selain perkusi ada musik gesek (biola), musik petik (gambus), musik tiup (seruling) dan perkusi gendang, ketipung dan jidur. Sedangkan kesenian jidur hanya diiringi oleh perkusi ditamah gong. Syair dalam jidur menggunakan irama dan bahasa yang khas Empatlawang. Namun, keduanya memiliki pola pertunjukan yang mirip.
Belum ditemukan referensi tertulis sejak kapan kesenian jidur ada di Empatlawang. Namun jika melihat bentuk kesenian jidur, berkemungkinan jidur sudah ada sejak berkembangnya agama Islam di wilayah Lintang sekitar awal abad ke-19.
Melihat keindahan, bentuk, kedudukan, fungsi dan sifatnya yang dinamis, kesenian jidur berpeluang dikembangkan menjadi kesenian yang menarik dan kekinian. Jika masa lalu, kesenian jidur dimainkan oleh laki-laki semua, dapat saja musik jidur dimainkan oleh perempuan semua atau campuran laki-laki dan perempuan. Konlusinya, Kesenian Jidur Empatlawang layak dan relevan direvitalisasi sebagai Warisan Budaya Takbenda (tangible heritage) dan kekayaaan intelektual komunal yang khas Empatlawang.
Berikut adalah contoh syair Jidur yang dikirim Mang Sulton, Ketua Pengurus Pembina
BUDAYO EMPATLAWANG
Empatlawang bada laher kami
Empatlawang bada tinggal kami
Empat lawang menuju madani
Masyarakato ado jati diri.
Sangi keruani saling kerawati
Itula motto hidup kami
Itu budayo selamo ini
Mudah-mudahan dapat lestari
Reff.
Payolah, payo kanco kito lestarikan..
Budayo puyang kito itu peninggalan..
Jangan sampai
Jangan sampai nyadi puna ditelan zaman
Utang dibayar janji ditepati
Milik besamo harus berbagi
Namanyo musuh jangan dicari
Walaupun takut jangan belari
Gotong-royong dipupuk agi
Mangko tecapai motto Madani
Kato betaruh janji betunggu
Membangun negeri bersatu padu.
BUJANG BUNTUNG
Lebat buah merambung taun 2x
Buah o sampai ke ujung daan 2x
Jangan nyalahkan jemo bedusun
Kecik ati ngan jemo kampung
Jangan nyesali sukat badan
Kalu katik kedadakan.
Awak pandak baserindak 2x
Sampai ke junan mancung jagung 2x
Awak pesak susah nendak
Caro idup icak-icak
Kilagh kilagh selindang bumbung
Segalo gawe ngendikan endung
Awak pesak susah nendak
Caro idup icak-icak
Kilagh kilagh selindang bumbung
Segalo gawe ngendikan endung
Kesesak gulai mopogh teghung
Duduk mengangkung piuk tecangkung
Idaran nak makan nasi mutung
Ini cerito bujang buntung.
Itu merambung banyak macam 2x
Bilo ditanam mudah mati 2x
Sangkan tino nedo linjang
Sangkan jemo katik nyo agam
Tughun denio nek ngagami
Gawe idup meluati.
PALEMBANG, 11 SEPTEMBER 2022




