OPINI: Kasus Konferensi di Denmark Memaksa Kita Bercermin. Pertanyaannya bukan “Siapa yang Salah”, tapi “Sistem Apa Agar Kita Jujur”
Oleh:
Dr. Yunita Theresiana, SE, SKM,M.Kes (Dosen Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Dehansen Bengkulu)
dan
Prof. Isnawijayani, MSi, Ph.D (Guru Bersar Ilmu Komunikasi Univ Bina Darma Palembang) Keduanya Dewan Pakar di Bakti Persada Masyarakat Sumatera Selatan ( BPMSS)
PERISTIWA yang terungkap dalam konferensi ilmiah internasional di Kopenhagen, Denmark, Mei 2026 menjadi cerminan mendalam bagi dunia pendidikan Indonesia. Sebanyak tiga Warga Negara Indonesia (WNI) diketahui mempresentasikan karya yang hasil penelitian, data, hingga afiliasi ke institusi pendidikan ternyata tidak memiliki dasar kebenaran dan rekam jejak ilmiah yang sah. Bahkan, ditemukan fakta adanya rekayasa identitas saat proses presentasi berlangsung.
Pemenuhan syarat akademik yang lebih mengutamakan kelengkapan administrasi dan formalitas, dibandingkan keaslian, mutu, dan kejujuran karya. Hal ini dapat terjadi pada sivitas akademika Indonesia, kasus ini harus menjadi peringatan bersama.
Sebuah Seremoni Tanpa Dasar Ilmiah dan Hilangnya Budaya Malu
Lebih dari itu, peristiwa ini menyoroti masalah mendasar yang makin memudar di kalangan sebagian peneliti, yaitu hilangnya budaya malu. Rasa malu untuk berbuat curang, rasa malu untuk mengaku-ngaku berilmu padahal kosong, dan rasa malu untuk merugikan nama baik institusi dan bangsa, seolah hilang tertutupi oleh ambisi pribadi. Penyimpangan ini muncul karena tekanan sistem yang terlalu berfokus pada kuantitas, jumlah publikasi dan poin angka kredit. Sementara pengawasan terhadap kualitas serta penanaman nilai moral belum berjalan seimbang. Kondisi ini melahirkan pemahaman keliru, di mana tujuan riset bergeser menjadi sekadar alat kenaikan pangkat, bukan pencarian kebenaran
Teknologi, termasuk Kecerdasan Buatan (AI), turut berperan mempermudah proses ini. Namun teknologi hanya alat; akar masalahnya ada pada niat dan lemahnya integritas diri.
Plagiarisme: Sikap Meniru yang Bukan Teladan Baik. Dalam kasus ini, meniru gagasan, mencuri data, atau menyusun karya dengan cara merakit pendapat orang lain tanpa menyebut sumber, lalu mengakuinya sebagai karya sendiri, adalah perilaku yang sangat tercela. Karena plagiarisme adalah ketidakjujuran intelektual. Pendidikan sejatinya mengajarkan kemandirian berpikir, kreativitas, dan menghargai hak cipta orang lain. Jika seorang pendidik atau peneliti justru terbiasa meniru dan memalsukan, maka ia sedang mengajarkan kepada generasi muda bahwa mencuri gagasan dan memalsukan kebenaran adalah cara yang dibenarkan. Ini adalah kerusakan karakter yang sangat berbahaya bagi masa depan bangsa. Hal in Melanggar Ketentuan Resmi dan Norma Akademik
Dampak bagi Citra dan Contoh Bagi Masyarakat
Di kancah internasional, kasus ini sempat menimbulkan pertanyaan mengenai kualitas dan keaslian karya dari Indonesia. Padahal, ribuan peneliti dan pendidik kita bekerja keras, jujur, dan menghasilkan karya bermutu yang diakui dunia. Ulah segelintir oknum yang tidak lagi memiliki budaya malu dan gemar meniru ini sedikit banyak mengaburkan nama baik mereka. Pemulihan kepercayaan harus dilakukan dengan mempertegas aturan dan menanamkan kembali nilai moral.
Hal ini, jika dibiarkan, seakan mengajarkan pemahaman keliru bahwa keberhasilan, pangkat, atau jabatan bisa dicapai dengan cara menipu dan meniru. Padahal, pendidikan sejatinya mengajarkan, keberhasilan yang mulia hanya bisa diraih melalui kerja keras, kejujuran, tanggung jawab, dan rasa malu untuk berbuat kesalahan.
Realitas yang Ada, Bukan Teladan yang Benar
Kita harus berani mengakui bahwa fenomena serupa memang ada dan terjadi di lingkungan kita, tetapi sama sekali tidak pantut dijadikan teladan. Kasus di Denmark ini harus menjadi titik balik. Sudah saatnya kita memperkuat sistem agar lebih menghargai kualitas dan moral daripada sekadar jumlah, serta menegakkan integritas sebagai harga mati. Mari kita pastikan bahwa pendidikan di Indonesia dibangun di atas landasan kebenaran, kejujuran, dan karakter yang kuat.
Kasus ini nunjukin satu penyakit: sistem kita masih terlalu fokus ke “lengkap berkasnya” ketimbang “benar isinya”. Asal ada sertifikat, abstrak, dan cap institusi, lolos. Soal kejujuran, mutu, dan rekam jejak ilmiah, sering jadi nomor sekian. Buat sivitas akademika Indonesia, ini harus jadi alarm bersama. Kalau standarnya cuma administrasi, maka integritas yang jadi taruhannya. Agar kasus serupa tak berulang, sistem pendidikan kita perlu 4 pembenahan mendasar:
- Kesejahteraan dulu, baru bicara integritas*
Gaji, tunjangan, dan dana riset yang layak dan dapat cair cepat akan mengurangi tekanan ekonomi. Dosen/peneliti yang tenang pikirannya, lebih kecil godaan ambil jalan pintas.
- Ubah cara menilai kinerja, Stop “publish or perish” buta. Hargai kualitas riset, pengabdian, dan kualitas ngajar, bukan cuma jumlah paper Scopus. Kasih ruang “sabatikal” tanpa target publikasi biar peneliti nggak burnout.
- Perkuat etika sejak awal, Pelatihan anti-plagiarisme, manajemen data, dan kutipan wajib sejak S2/S3. Kampus juga perlu sistem deteksi dini Turnitin/iThenticate, tapi dipakai buat pembinaan, bukan penghakiman.
- Bangun budaya jujur itu aman, Dosen senior wajib jadi mentor yang beneran mendampingi. Kasus peneliti yang berani ralat sendiri datanya justru harus diapresiasi. Kalau jujur nggak dihukum, orang akan berani jujur.
Denmark bisa “bersih” bukan karena manusianya malaikat. Tapi karena sistemnya bikin orang jujur jadi pilihan paling masuk akal.
Sakitnya di sini: ini bukan soal “oknum”. Ini soal sistem. Selama ini kita sering bangga kalau dosen/peneliti “produktif”. Targetnya jelas: berapa paper, berapa sertifikat, berapa cap lolos administrasi. Asal berkas lengkap, jalan. Soal data beneran atau nggak, siapa yang ngecek? Soal mutu, kejujuran, rekam jejak ilmiah, sering jadi nomor sekian.
Hasilnya? Integritas jadi barang mahal. Jujur malah berasa ribet. Akhirnya ada yang milih jalan pintas. Nggak enak sih ngomongnya, tapi ini realita. Kalau mau berhenti di titik “mengecam”, gampang.
Denmark nggak punya manusia super. Mereka cuma punya sistem yang bikin milih jujur jadi pilihan paling logis.
Bukan buat malu, tapi buat gerak. Karena pendidikan yang hebat nggak lahir dari berkas tebal. Tapi dari orang-orang yang nggak takut jujur. (*)



