HeadlineinternasionalNasionalPalembangSUMSEL

OPINI: Natal dalam Keluarga Kristiani sebagai Kemuliaan bagi Allah

Oleh :  Andreas Daris Awalistyo,S.Pd

Mahasiswa Magister ilmu Komunikasi Universitas Bina Darma

Natal adalah perayaan kegembiraan bagi umat manusia. Sebab Allah bersukacita bertemu dengan seluruh ciptaan-Nya pada saat kelahiran Yesus Kristus. Sukacita ini khususnya diungkapkan dalam nyanyian para malaikat dan bala tentara surgawi sesuai tema Natal KWI-PGI 2023 yaitu : ” KEMULIAAN BAGI ALLAH DAN DAMAI SEJAHTERA DI BUMI BAGI MEREKA YANG BERKENAN KEPADA ALLAH (LUKAS 2:14). Memahami Kedatangan Kristus Sang Emmanuel menjiwai persiapan rohani manusia. Yang mana Natal mengundang orang-orang percaya untuk berpartisipasi dalam karya penyelamatan Tuhan dan berjumpa dengan Juruselamat untuk mengalami kedamaian. “Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu; itulah sebabnya kamu dipanggil menjadi satu tubuh dan mengucap syukur” (Kolose 3:15). Kelahiran Yesus yang menjadi perwujudan karya penyelamatan Tuhan membawa sukacita bagi umat beriman. Kehadiran Yesus telah memperbaharui hidup kita dan mendorong kita untuk bekerja sama membangun kerajaan cinta, meskipun ada perbedaan agama, suku,budaya dan adat istiadat.

Perayaan Natal mestinya mendorong kita untuk semakin peduli, kritis, dan berani menolak berbagai bentuk kepalsuan, keserakahan, ambisius, perpecahan, peperangan, perusakan lingkungan hidup,dll. Kesejahteraan bagi semua makhluk hanya akan terwujud bila alam ciptaan-Nya sdalu terpelihara dan terjamin kelestariannya. Oleh karena itu bumi akan turut bersorak sorai memuji Allah: “Biarlah langit bersukacita dan bumi bersorak-sorai” (Mz 96: 11 ).Kita semua diajak bersuka cita karena Natal, yakni kelahiran Yesus Kristus, telah dekat. Dia adalah Allah yang menjelma menjadi manusia. Ia lahir dalam keluarga.

Tuhan adalah contoh hidup seorang pemimpin sejati.

Tuhan Maha Pengasih, di mana Dia mengkomunikasikan diri-Nya kepada orang lain melalui Yesus Kristus. “ Yesus Kristus percaya bahwa kita adalah anak-anak Allah dan bahwa “tidak ada perbedaan antara manusia” (Kisah Para Rasul 10:34). Karena kasih-Nya, Kristus tidak patah semangat dalam berkorban, meski menderita dan mati demi umat manusia. Tuhan mengasihi manusia sampai akhir (Yohanes 13:1). Ia siap menderita dan mati dalam kehinaan agar dapat hidup kembali dan memperoleh kehormatan serta martabat yang mulia. Kita tidak menyia-nyiakannya sebagai aset untuk menjaga kesetaraan kita dengan Tuhan. Dalam iman, kita tidak memahami bahwa Tuhan begitu “rendah hati” dan “manusiawi”. Tuhan bukanlah Tuhan yang sewenang-wenang, otoriter, dan kejam. Tuhan itu pengasih dan penyayang, sabar dan penyayang, baik hati kepada semua orang dan penuh belas kasihan terhadap semua ciptaan-Nya (Mazmur 145: 8-9). Yesus bukanlah Tuhan yang menakuti orang-orang yang malas dan pesimis, melainkan Bapa yang bekerja untuk kesejahteraan manusia hingga saat ini (Yohanes: 5: 17). “Kita belajar di keluarga kita, di antara saudara kita, bagaimana hidup sebagai manusia, bagaimana hidup dalam masyarakat. Kita mungkin tidak selalu menyadarinya, tapi. Keluargalah yang membawa persaudaraan ke dunia. Mulai dari pengalaman pertama persaudaraan, yang dipupuk oleh cinta dan pendidikan di rumah, gaya persaudaraan menyebar ke seluruh masyarakat dan dalam hubungan antara banyak orang.

Keluarga Kristiani sebagai Gereja Rumah Tangga

Arah Dasar Keuskupan Agung Palembang (ArDas – KAPal) pada tahun 2022 hingga tahun 2032 menandai tahun 2024 sebagai tahun keluarga. Komisi Keluarga memilih tema , “Keluarga Kristiani sebagai Gereja Rumah Tangga .” Tema ini dipilih karena keluarga merupakan tempat pertama para anggotanya belajar mengenal, memperdalam, dan menghayati keimanan mereka. Di sana, “anggota keluarga belajar untuk tabah, bahagia dalam pekerjaannya, mencintai melalui kasih persaudaraan, dan memaafkan tanpa batasan melalui pengabdian kepada Tuhan melalui doa dan pengabdian hidup mereka. ” (ArDas hal.30). Keluarga yang didasari ikatan kasih dapat menjadi saksi ketika keluarga itu benar-benar menjadi tempat pengasuhan dimana setiap anggotanya dapat memperoleh berbagai keutamaan Kristiani.

Di Keuskupan Agung Palembang, tahun kedua ArDas KAPAL sebagai tahun keluarga akan dirayakan secara resmi di gereja-gereja komunitas KAPAL pada awal tahun liturgi baru, yaitu pada awal Adven Pertama (Minggu, 3 Desember 2023). dibuka pada saat yang bersamaan. Tahun Keluarga merupakan momen istimewa bagi keluarga Kristiani di Keuskupan Agung Palembang untuk merayakannya bersama keluarga dan orang-orang disekitarnya. Keluarga dapat menghabiskan waktu bersama dan setiap anggota dapat merasa benar-benar diterima dan didengarkan. Keluarga diharapkan meluangkan waktu untuk benar-benar merayakan tahun keluarga, misalnya dengan berdoa bersama, makan bersama, dan istirahat bersama. Dengan demikian, anak-anak mendapat kenangan kebersamaan keluarga yang memupuk dan menguatkan mereka untuk hidup dan masa depan. Terkadang hidup memberi kita kesulitan besar. Melalui tantangan ini, Tuhan mengajak kita untuk terus bertobat, untuk semakin menyatakan kasih karunia-Nya dalam hidup kita, dan untuk “berbagi dalam kekudusan-Nya.” “Hari ini telah terjadi keselamatan pada rumah ini, karena orang ini juga adalah anak Abraham”.  (Lukas 19:9)

Dunia Memerlukan Perdamaian

Natal harus terwujud dalam situasi yang damai, kita dapat berharap perekonomian akan terus tumbuh, permasalahan sosial akan berkurang, upaya perlindungan lingkungan akan berhasil, dan semua orang dapat bekerja dengan damai. Dengan cara ini, hidup kita juga akan menjadi lebih bermartabat. Kepastian hukum dengan dukungan aparat penegak hukum yang profesional dan imparsial membantu terciptanya situasi damai. Pemanasan global, penggundulan hutan dan perubahan iklim merupakan tantangan lingkungan yang semakin sulit saat ini dan di masa depan. Terlebih tahun 2024 negara kita mengadakan pesta demokasi melalui PEMILU. Semoga Pesta Demokrasi ini  menjadi penentu arah masa depan bangsa Indonesia. Gunakan hak pilih dengan sebaik mungkin sesuai hati nurani pada 14 Februari 2024. Keluarga dapat memilih secara demokratis, aman dan damai untuk memilih pemimpin negara, baik Presiden, Wakil Presiden, DPD,  maupun DPRD Pusat/Daerah. Oleh karena itu, ke depan para pemimpin di semua tingkatan harus menciptakan ruang untuk hidup bersama sebagai keluarga yang sejahtera, layak dan beriman kepada Tuhan, serta mewujudkan peradaban kasih.

Keluarga kita pada masa adven ( empat minggu sebelum Natal ) diajak mendalami tentang Keluarga Disatukan dalam Doa yaitu keluaga diajak untuk ikut alur dalam masa penantian yang sedemikian panjang dari generasi-generasi sebelum Tuhan Yesus, Sang Mesias, lahir ke dunia supaya kerinduan kita akan kehadiran Tuhan pun turut diperbarui. Kita memperbarui kerinduan akan kehadiran Tuhan dengan berjaga dan berdoa serta mengingat kebaikan Tuhan melalui keluarga dan sesama. Tema kedua yaitu  Keluarga yang Dipulihkan, keluarga diajak untuk mengenali kerapuhan dan dosa manakah yang sering menghambat dalam membangun keluarga sebagai gereja rumah tangga. Pada adven ketiga melalui tema Keluarga yang Menginspirasi, yaitu keluarga-keluarga kristiani membiarkan imannya berbicara dan menggerakkan untuk mewujudkan cintakasih. Keluarga menjadi tempat bagi masing-masing anggota untuk mempraktekkan imannya dalam semangat cintakasih dan pengorbanan, dan tema kempat adalah melalui Ibadat Keluarga agar keluarga yang berdoa bersama akan selalu bersama. Selain itu umat manusia senantiasa diingatkan untuk terus melaksanakan ensiklik Paus Fransiskus Laudato si – Terberkatilah kamu (2015), yang didasarkan pada nasihat apostolik Laudato Deum – Berbahagialah kamu ? Hal ini lebih ditekankan dalam “Puji Aku” (2023).nKita senang ada berbagai institusi yang melakukan kegiatan penanaman pohon, budidaya pupuk organik, dan pembuangan sampah yang baik. Itu sebabnya kami menyerukan kepada pemerintah dan masyarakat untuk bekerja sama menjadikan Bumi sebagai rumah kita bersama dan berharap dalam perayaan Natal kita semua merasakan kasih Tuhan yang selalu menyertai kehidupan kita. Tuhan Yang Maha Pengasih selalu bersama kita. Imanuel, Tuhan beserta kita. Tuhan tidak pernah meninggalkan kita sendirian dalam situasi apa pun (lih. Ibr 13: 5). Oleh karena itu, marilah kita terus memuliakan Tuhan melalui upaya baik kita untuk membangun kedamaian dalam kehidupan keluarga, gereja, masyarakat, dan  Bangsa. Selamat Natal Tahun 2023 dan Selamat Tahun Baru 2024.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *