Tim Balitbang RI Kunker ke Palembang Teliti Benda Cagar Budaya Bernilai Pertahanan

Tim Balitbang RI Kunker ke Palembang Teliti Benda Cagar Budaya Bernilai Pertahanan
Poto:  Dua orang tim dari Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementrian Pertahanan (Kemenhan) Republik Indonesia (RI) di ketuai Gerald Theodorus L.Toruan, S.H.,M.H (Peneliti Ahli Muda Balitbang Kementrian Pertahanan RI) dengan anggota tim, Jeanne Francoise (Penulis Disertasi pertama ttg Defense Heritage dan Founder Defense Heritage Intellectual Community; Instagram @defenseheritage) saat melakukan kunjungan ke Pemkot Palembang, Selasa (23/9).

PALEMBANG, MEDIASRIWIJAYA - Dua orang tim dari Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang)  Kementrian Pertahanan (Kemenhan)  Republik Indonesia (RI)  melakukan kunjungan ke kota Palembang selama beberapa hari dalam rangka penelitian terkait dengan benda cagar budaya bernilai pertahanan yang ada di kota Palembang. Tim tersebut di ketuai Gerald Theodorus L.Toruan, S.H.,M.H (Peneliti Ahli Muda Balitbang Kementrian Pertahanan RI) dengan anggota tim, Jeanne Francoise (Penulis Disertasi pertama ttg Defense Heritage dan Founder Defense Heritage Intellectual Community; Instagram @defenseheritage. “Saya sebagai  ketua tim , menilai tidak semua kota itu memiliki cagar budaya bernilai pertahanan, mereka punya cagar budaya  tidak ada nilai pertahanannyapun ada, kemarin kami sudah bertatap muka dan berdiskusi di Bintaldam dengan beberapa pimpinan dengan Kabintaldam, Kakesdam dan Kazidam, kami sudah banyak diskusi tentang sejarah berdirinya Benteng Kuto Besak (BKB), berdirinya Kodam II Sriwijaya,” kata Theodorus L.Toruan, S.H.,M.H, Rabu (23/9).

Pihaknya juga sudah beraudiensi dengan Staf Ahli Walikota Palembang, Altur  dan dihadiri beberapa pejabat eselon III dan IV  dari Dinas Pariwisata, Dinas Kebudayaan, Dinas PU PR  dan Bapeda Litbangda. “Setelah itu kita lanjut ke akademisi dengan Warek I Universitas Sriwijaya, kami ingin melihat dari sudut pandang akademisi  bagaimana rencana revitalisasi ini yang  saat ini tidak berjalan dengan mulus atau jalan ditempat, setelah itu kami ke Balai Arkeologi , kami lebih banyak berdiskusi ke arah sejarah, sejarahnya Benteng Kuto Besak dari perspektif para arkeolog,” katanya.
Dia menegaskan, pada intinya mereka bukan suatu badan yang bisa mengambil keputusan tapi hanya memberikan rekomendasi dan pihaknya ingin revitalisasi ini dilanjutkan dan bisa disusun ulang. “Karena pariwisata itu adalah suatu investasi jangka panjang, tidak bisa secara instan mendapatkan keuntungan. Dengan adanya revitalisasi  Kuto Besak dalam 10 tahun kemudian akan dirasakan manfaatnya untuk peningkatan PAD daerah, jadi kami 100 persen mendukung, alangkah baiknya itu kembali disusun dan dimulai dengan pemerintah kota Palembang itu sendiri,” katanya. 
Hal senada dikemukakan Jeanne Francoise yang merupakan mahasiswa S3 Universitas Pertahanan yang ikut membantu Balitbang Kemenhan RI untuk penelitian defense heritage dari unsur non-PNS. “Kami datang Senin pagi kemarin, terus wawancara di Kodam II Sriwijaya,  kita paparan dari sudut pandang penelitian bagaimana defense heritage secara umum juga spesifik tentang Benteng Kuto Besak,” katanya.
Setelah itu pihaknya ke kantor Walikota Palembang dan bertemu staf Ahli Walikota Palembang, Dinas Kebudayaan, Dinas Pariwisata dan Bapeda kota Palembang. “Kami sebagai peneliti melihatnya secara objektif, bagaimana  kami memperkenalkan  konsep defense heritage secara umum dan kami melihat kalau bicara sejarah bangsa Indonesia itu  Palembang menjadi bagian yang penting karena disitu ada sejarah Sriwijaya,  Kesultanan Palembang Darussalam , era kolonial dan menarik adanya Islamic Heritage,”katanya.
Dan yang menarik, untuk penelitian defense heritage terkait kota Palembang, pihaknya melihat Benteng Kuto Besak satu-satunya benteng yang dibangun orang Indonesia dan memiliki tiga peralihan fungsi yang tidak ada di benteng lain yaitu sebagai benteng pertahanan, menjadi istana sultan dan kini menjadi rumah sakit. “Kekhasan ini, selain identitasnya orang Palembang atau bisa menjadi ikon Sumatera Selatan, fungsi ini yang unik, yang tidak ada di benteng-benteng lain di Indonesia,”katanya.
    
Dia berharap, kalau bisa  dari pemerintah pusat dan pemerintah kota dan provinsi menaruh perhatian dengan cagar budaya secara umum di Palembang, punya program-program yang bisa diimplementasikan, komunitas bisa berkontribusi. “Ke depan penelitian kami tentang defence heritage bisa dikutip secara akademik dan non-akademik,” ujarnya. (rel)