SMB IV Berharap Bisa Bersinergi antara Pihak Provinsi dan Kota Palembang Terkait Benda-Benda Heritage di Palembang

SMB IV Berharap Bisa Bersinergi antara Pihak Provinsi dan Kota Palembang Terkait Benda-Benda Heritage di Palembang
Poto:  Sultan Palembang, Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jaya Wikrama RM Fauwaz Diradja SH Mkn  didampingi R.M.Rasyid Tohir,S.H, Dato’ Pangeran Nato Rasyid Tohir, Pangeran Suryo Febri Irwansyah, , Beby Johan Saimima, Minggu (25/10).

PALEMBANG, MEDIASRIWIJAYA - Sultan Palembang, Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jaya Wikrama RM Fauwaz Diradja SH Mkn,  berharap kedepan semua pihak di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) terutama di kota Palembang dapat bersinergi  dengan membentuk sebuah tim bersama dalam membangun kedepan secara bersama-sama. Karena saat ini, dirinya melihat  semuanya masih berjalan sendiri-sendiri  sesuai dengan sudut pandangnya masing-masing dan sesuai dengan program kerja masing-masing. “Saya harap kedepan semuanya kita bisa membentuk forum masyarakat kota atau gimana, atau apa pun mananya untuk membuat benda-benda heritage di Palembang ini bisa dirasakan oleh masyarakat,” katanya saat didampingi R.M.Rasyid Tohir,S.H, Dato’ Pangeran Nato Rasyid Tohir, Pangeran Suryo Febri Irwansyah, Pangeran Surya Kemas A. R. Panji, Beby Johan Saimima, Minggu (25/10).
Menurut pria yang berprofesi sebagai notaris dan PPAT ini, ke depannya partisipasi masyarakat terhadap benda-benda bersejarah dan budaya ini memang sangat diperlukan. Mengenai revitalisasi Benteng Kuto Besak (BKB), pihaknya sudah mengirimkan surat kepada ke Menteri Pertahanan, Prabowo Subianto dan meminta agar Benteng Kuto Besak (BKB) direvitalisasi supaya diubah fungsinya agar jangan sekadar menjadi tempat pariwisata saja tapi juga sebagai sebagai Defense Heritage (Cagar Budaya Pertahanan). “Ini adalah salah satu cara kita untuk menumbuhkan cinta kepada bangsa kita sendiri dengan menghargai saja pahlawan dan tempat sejarah tersebut memiliki nilai-nilai perjuangan, dsitu kita minta tentara dimana BKB dikuasai tentara di bawah Kementerian Pertahanan, kalau bisa Kementrian Pertahanan memberikan izin kepada tentara agar BKB bisa direvitalisasi diubah dari kekuatan militer menjadi untuk kepentingan defense heritage,” katanya.
BKB sendiri dan bangunan yang ada di dalamnya menurutnya harus di lestarikan  karena BKB bukan dibuat oleh Belanda  karena Belanda tidak anggaran untuk membuat Benteng baru pada waktu itu. Sejatinya menurutnya BKB dibuat oleh Kesultanan Palembang Darussalam dan itu adalah nilai-nilai perjuangan dari Kesultanan Palembang. “Kalau bisa, kita bisa menceritakan kembali, menarasikan sejarah itu seperti apa awalnya mungkin bisa menciptakan rasa cinta dan bela tanah air, cinta bela negara itulah yang kita dengungkan supaya  direvitalisasi, bisa kita manfaatkan ,” katanya.

Karena itu pihaknya berharap ke depannya BKB itu semua orang bisa masuk untuk mengetahui isi sejarahnya seperti apa, semua orang bisa menikmati isi dalamnya dengan nilai-nilai kesejarahan dan dengan akar budaya yang tujuannya adalah meningkatkan cinta tanah air melalui defense heritage.
Sedangkan Konsep Defense Heritage menurutnya merupakan konsep yang melihat peninggalan-peninggalan pertahanan yang ada, bisa digunakan untuk meningkatkan rasa cinta dan bela negara.
Dia mencontohkan peninggalan-penininggalan pertahanan di Eropa sudah di ubah dan dimanfaatkan, hal ini menurutnya penting  guna mengaktualisasika di masa mendatang agar masyarakat bisa mencintai  dirinya sendiri, mencintai negaranya dengan mengetahui ternyata  leluhurnya telah berjuang dengan membuat bentuk-bentuk sejarah yang bisa  diketahui anak cucu melalui Defense Heritage.
Sedangkan Pangeran Suryo Febri Irwansyah yang juga budayawan Palembang melihat masyarakat Palembang sudah lama menunggu agar BKB itu  difungsikan sebagai cagar budaya yang bisa di kunjungi oleh masyarakat sehingga terasa nilai-nilai yang diturunkan oleh Kesultanan Palembang Darussalam. “Kita memahami satu-satunya  benteng yang dibangun oleh pribumi yang itu  Benteng Kuto Besak, ditempat lain  tidak di bangun oleh pribumi dibangun oleh orang Eropa semua, oleh penjajah, di Bengkulu oleh Inggris,  di Jogya sendiri  yang sultannya masih utuh sampai sekarang bentengnya di bangun oleh Belanda, Benteng kita dibangun sendiri oleh pribumi  digagas Sultan Mahmud Badaruddin I  diselesaikan oleh Sultan Bahauddin , itu sangat luar biasa,” katanya.
    
BKB sendiri menurutnya bukan hanya memiliki nilai pertahanan juga didalamnya ada kediaman sultan, pada masa Belanda menjadi pertahanan Belanda sekarang dimanfaatkan militer untuk  pemukiman , kantor dan Rumah Sakit Dr Ak Gani di kawasan BKB.
“ Harapan kita,  kalau di katakan sultan tadi,  BKB sebagai defense heritage, artinya cagar budaya bernilai pertahanan, Kesultanan sudah mengirimkan surat Ke Kemenhan  sebagai orang pengelola langsung dari itu agar lebih cepat prosesnya  yang penting BKB digunakan untuk publik , diberdayakan itu dulu , karena pengalaman selama ini  pemkot dan Pemprov  dari tahun berapa, selalu gagal, selalu menemui hambatan-hambatan, mungkin hambatan utamannya  anggaran  dan lain sebagainya,” katanya.
Karena itu pihaknya mencoba satu cara yang agak berbeda mencoba Kemenhan mengelola sendiri BKB itu.
“Ya nanti dibuat tim pusat  nanti tim pusat baru kemudian di bawa ke tim kecil, artinya perlahan-lahan, tidak bisa  sekaligus harus gradual,” katanya.
Harapan lain, menurut mantan Ketua Dewan Kesenian Palembang (DKP) bukan hanya BKB tapi juga kawasan di BKB dimana terdapat Museum SMB II yang dibangun di atas puing-puing kehancuran Istana Kuto Kecil  atau Kuto Lamo kemudian sebelah Jalan Tengkurok ada pasar 16 Ilir peninggalan kolonial dan ada beberapa tempat di BKB peninggalan kolonial  seperti seperti Kantor Ledeng , itu semua menurutnya kawasan cagar budaya yang layak harus diberdayakan kembali dan bisa menjadi aset wisata.
“ Semuanya harus dijadikan kawasan cagar budaya tapi di mulai dari Benteng Kuto Besak, mungkin pertama dibuka untuk publik, relokasi dulu para pemukim di Benteng Kuto Besak  kesatu tempat , karena di dalam ada juga taman, ada Keraton Sultan, pengembangan berikut memindahkan  rumah sakit Dr AK Gani, saya kira kalau duitnya banyak sekaligus boleh  kalau duitnya sedikit gradual saja yang penting ada goodwill  atau political will dari pemerintah kota  atau pemerintah provinsi dan tentunya pemerintah pusat yang sebagai pengelola BKB sekarang,” katanya. (*)