Pertemuan Komunitas dan Juara Lokal The Global Fund New Funding Model Continue (NFMc) 2018-2020

PALEMBANG, MEDIASRIWIJAYA.COM – Bertempat di Lantai 2 Hotel Amaris Palembang, Rabu (17/10/18) berlangsung kegiatan diskusi bersama dengan berbagai stakeholder yang diselenggarakan Yayasan Sriwijaya Plus selaku penyelenggara lokal yang merupakan perpanjangan dari kegiatan yang diselenggarakan  Jaringan Indonesia Positif (JIP). “Dalam masa saat ini pendekatan generasi keempat, bahwa konteks sosial yang lebih luas. Penanggulangan HIV yang perkembangannya semakin memprihatinkan sudah harus melibatkan seluruh lapisan dan stakeholders. Itu sebabnya dalam diskusi ini kita libatkan seluruh pihak mulai dari Dompet Duafa, KNPI, media massa, LSM, rumah sakit, akademisi, dan banyak lagi dengan harapan bisa saling memberi masukan,” kata Ketua Yayasan Sriwijaya Plus, Rachmat Saleh saat pembukaan acara.


Ketua Yayasan Sriwijaya Plus, Rachmat Saleh (saft/mediasriwijaya)

Lebih jauh Rachmat menjabarkan mobilisasi komunitas untuk penanggulangan HIV dan AIDS dilaksanakan perlu diperhatikan. Argumentasinya adalah berbagai upaya mobilisasi komunitas hanya bisa efektif apabila lingkungan sosialnya mendukung. Dimensi dari konteks sosial yang mendukung ini paling kurang ada tiga dimensi, yaitu;1) dimensi simbolis;2) material; dan 3) relasional. Dimensi simbolis adalah ideologi yang ada di dalam masyarakat – termasuk stigma yang mempengaruhi bagaimana suatu komunitas diperlakukan oleh komunitas lain,untuk dimensi material berkaitan dengan dukungan dalam bentuk pendanaan untuk memobilisasi komunitas, dan dimensi relasional adalah dukungan dari pemangku kepentingan yang berpengaruh – seperti tokoh masyarakat, tokoh agama, politisi, polisi dan media. Selama tiga dimensi konteks ini tidak mendukung, kemungkinan upaya mobilisasi komunitas akan sulit untuk berhasil. Situasi yang terjadi saat ini pada program penanggulangan HIV-AIDS masih jauh dari ideal, selama ini upaya yang dilakukan baik oleh komunitas maupun organisasi masyarakat yang fokus pada isu HIV masih bekerja secara sendiri-sendiri, belum terlalu banyak yang melibatkan komunitas diluar isu HIV, maupun masyarakat luas. Kebutuhan akan pelibatan masyarakat, sangat penting peranannya dalam menciptakan lingkungan yang kondusif. “Dengan melakukan pendekatan dan jejaring dengan masyarakat yang lebih luas, akan dapat memaksimalkan program penanggulangan dan pencegahan HIV-AIDS di Indonesia. Situasi dan kondisi seperti ini dapat menjadi jembatan atau penghubung yang baik dengan adanya dukungan dari pemangku kepentingan yang berpengaruh. Sehingga dapat meminimalisir kesenjangan perspektif ataupun wawasan yang terjadi selama ini diantara tatanan sosial pada masyarakat,” tambah Rachmat.


(saft/mediasriwijaya)

Tantangan ke depan adalah memastikan agar relasi tetap terjaga,Perlu adanya wadah Pertemuan antara komunitas dan tokoh masyarakat untuk berkonsultasi maupun menggalang dukungan untuk melakukan advokasi. Pengalaman pada NFM program yang tidak ada wadah Pertemuan berkala mengakibatkan program tidak menjadi kebutuhan. Diantara upaya untuk memaksimalkan keterlibatan program penanggulangan HIV AIDS yang ada, perlu adanya pelibatan dari juara lokal di antaranya; tokoh masyarakat, tokoh agama lembaga/ CSO, politisi, polisi dan media yang memiliki peran penting sebagai pelaksana program/ kegiatan. Dalam hal ini audiensi publik diperlukan sebagai sebuah wadah atau forum antara masyarakat/ (CSR,CSO), pers/ media, populasi kunci bersama pemerintah dalam merespon kebutuhan dan perencanaan serta pengambilan keputusan atau penentuan kebijakan dalam membuat lingkungan yang kondusif terkait penanggulangan HIV AIDS.


(saft/mediasriwijaya)

Kegiatan ini merupakan serangkaian dari Budget Line 513 (pemetaan juara lokal) yang sebelumnya telah dilakukan. Dari hasil kegiatan ini dapat menunjang kegiatan lainnya dan menjadi acuan dalam melaksanakan budget line (480)melakukan pertemuan Kordinasi dengan tokoh agama dan tokoh masyarakat sertamengidentifikasi dan melihat juara lokal yang memiliki pengaruh kuat pada setiap distrik untuk mendukung program penanggulangan HIV/AIDS.

Mengadakan meeting pertemuan;pemahaman dasar mengenai isu HIV dan KAP, pemahaman program penanggulangan HIV, pemahaman tehadap hak hak dari komunitas populasi kunci. Kegiatan ini dilakukan1 kali dalam 1 kuartal untuk meningkatkan pengetahuan dan informasi yang perlu untuk dilakukan tindakan dan dukungan di setiap distrik. 

Adapun narasumber pada kegiatan ini dari Dinas Kesehatan Sumsel, Fihrin Kasuma SH MH (pakar hukum kesehatan), H Dedi Ismail (Wakil Ketua PKVHI Sumsel), Ketua Ikatan Konselor Adiksi Indonesia Sumsel, H Kurnati Abdullah (tokoh media dan tokoh masyarakat), Rachmat Saleh (Ketua Sriwijaya Plus), dan Dedi Diansyah (fasilitator).(saft)