Perkara Korupsi Tugu Tampal Batas Digelar

Perkara Korupsi Tugu Tampal Batas Digelar
teks:IST- Dua terdakwa yaitu Khairul Riza dan Otong terkait perkara korupsi tugu tapal batas Palembang-Banyuasin sore ini menjalani sidang perdana dengan agenda yakni pembacaan dakwan dengan cara teleconference di Pengadilan Negeri Klas 1 A khusus

* Palembang-Banyuasin

PALEMBANG, MEDIASRIWIJAYA -  Dua terdakwa yaitu Khairul Riza dan Otong terkait perkara korupsi tugu tapal batas Palembang-Banyuasin sore ini menjalani sidang perdana dengan agenda yakni pembacaan dakwan dengan cara teleconference di Pengadilan Negeri Klas 1 A khusus. Dalam dakwaan yang dibacakan oleh JPU kedua terdakwa dikenakan antara Pasal 2 Pasal 3 dan Pasal 9 UU 31 junto tahun 1999 dengan ancaman hukuman paling sedikit 15 tahun dan maksimal 20 tahun. ”Tadi kita melaksanakan sidang perdana perkara tugu tapal batas dengan hakim ketua Bong-Bongan Silaban melalui aplikasi teleconference dan berjalan lancar,” katanya saat ditemui di ruangan di Kejari Palembang, Selasa (29/9).

Dalam persidangan tadi, kedua terdakwa bersama kuasa hukumnya tersebut tidak mengajukan eksepsi (pembelaan) atas dakwaan berkas perkara, sehingga sidang pekan depan pun akan langsung beragendakan mendengarkan keterangan saksi. ”Rencana 4 saksi yang dihadirkan dan selama sidang dengan agenda keterangan saksi, rencana kami akan hadirkan 20 saksi secara bertahap,” terangnya. Untuk identitas ke 20 orang saksi tersebut, dinyatakannya masih rahasia. ”Kalau nama saksi masih kita rahasiakan ya,” singkatnya.

Menurutnya sidang pun akan dilanjutkan minggu depan pada hari senin tanggal 5 Oktober 2020. ”Iya tadi pak hakim bilang sidang dilanjutkan pada hari senin depan bukan hari selasa,jadi nanti kami akan kabarkan berita selanjutnya,” tutupnya. Kasus ini sudah terjadi pada tahun 2013. Dari hasil penyelidikan Tim Pidkor Polresta Palembang, kasus ini bermula atas indikasi mark up pembangunan tugu batas di empat titik. Empat titik tersebut yakni Palembang-Banyuasin di kawasan Terminal Km 12, Palembang- Banyuasin di kawasan Jakabaring, Palembang-Banyuasin di kawasan Tanjung Api-Api (TAA), serta perbatasan Palembang – Inderalaya di kawasan Kertapati.

Sementara untuk Biaya proyek pembangunan yang dikeluarkan negara sebesar Rp 1,2 miliar kerugian atau terjadi dugaan mark up sebesar Rp 800 juta lebih. Dijelaskannya lagi, sebagian total kerugian negara dari kedua terdakwa sudah dikembalikan. Namun tetap masih dalam pemeriksaan berkas. ”Menurut laporan  kedua terdakwa sudah mengembalikan kerugian negara sekitar Rp 300 juta dari dugaan keseluruhannya lebih dari Rp 800 juta," ungkapnya saat itu. (net)