Normalisasi Sungai Diduga Berdampak Negatif 

Normalisasi Sungai Diduga Berdampak Negatif 
Foto: IST - Normalisasi Sungai Diduga Berdampak Negatif 

EMPAT LAWANG, MEDIA SRIWIJAYA - Warga di sepanjang bantaran Sungai Musi kawasan Pasar Ilir Kelurahan Pasar Tebing Tinggi hingga di kawasan Kelurahan Tanjung Makmur Kecamatan Tebing Tinggi, mengeluhkan dampak negatif lingkungan yang diduga akibat normalisasi aliran Sungai Musi di kawasan itu. Pasalnya, pasca adanya kegiatan normalisasi, sejumlah persoalan lingkungan mulai dirasakan masyarakat di seputaran kawasan tersebut.

Salah seorang warga di kawasan itu, Har menyampaikan, sejumlah persoalan lingkungan yang kini dirasakan warga Pasar Ilir dan warga di Kelurahan Tanjung Makmur, pasca normalisasi, dari mengeringnya sumur gali milik warga dan ancaman tergerusnya sisi sungai hingga persoalan sampah yang memenuhi aliran sungai.

"Banyak warga mengeluhkan sumur gali milik mereka kering, dampak normalisasi. Disamping itu, ancaman tergerusnya tanah pinggir sungai hingga mengancam rumah warga ikut tergerus, karena tumpukan material tidak ditimbunkan ke arah pemukiman warga," ungkap Har kepada wartawan, Senin (15/3).

Disamping itu, tidak dibuka sepenuhnya tanggul di hulu jembatan Pulau Mas, pasca normalisasi, berdampak tidak lancarnya aliran sungai hingga menyebabkan warga kesulitan memanfaatkan aliran sungai untuk mandi dan mencuci, karena banyak sampah yang terbawa arus mengendak di kawasan aliran sungai di sana.

"Karena aliran sungai tidak lancar, sampah banyak menumpuk hingga membuat sungai kotor, sementara warga di sana biasa memanfaatkan sungai untuk mandi dan mencuci," imbuhnya.

Oleh karena itu dia berharap, kondisi tersebut dapak dicarikan solusi bagi warga disana, karena banyak warga disana khususnya warga di Kelurahan Tanjung Makmur kesulitan air bersih pasca normalisasi.

Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Empat Lawang, H Ismail Hakim melalui Sekretaris DPUPR Kabupaten Empat Lawang, Apriansyah Qolbi mengatakan, kegiatan normalisasi yang dilaksanakan pada tahun anggaran 2020 lalu, bertujuan untuk menormalisasi aliran sungai. Tidak terkecuali di kawasan Pulau Mas Tebing Tinggi.

"Khusus di kawasan Pulau Mas Tebing Tinggi, kita menormalisasi aliaran sungai untuk melindungi Pulau Mas dan kawasan sekitar itu dari gerusan air Sungai Musi, makanya tumpukan material yang dikeruk ditumpuk di sekeliling Pulau Mas sebagai tanggul," jelasnya.

Mengapa tanggul di hulu Jembatan Pulau Mas tidak dibuka sepenuhnya pasca kegiatan normalisasi?, dia beralasan bahwa itu untuk menjaga debit air yang masuk ke arah Jembatan Pulau Emas agar tidak terlalu deras, untuk menjaga pondasi tiang jembatan dari kejadian yang tidak diinginkan.  "Tiang pancang jembatan itu merupakan tiang pancang sumuran. Sengaja kita tidak buka sepenuhnya tanggul di hulu jembatan, agar debit air tidak terlalu deras untuk menjaga kerusakan tiang pancang jembatan," jelasnya.

Pria yang juga menjabat sebagai Plt Kabid Sumber Daya Air (SDA) di DPUPR Empat Lawang itu kembali memaparkan, terkait tidak ditumpuknya material galian normalisasi di kawasan arah pemukiman warga, itu karena awalnya pihaknya mendapat informasi dari Balai Wilayah Sungai Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian PUPR, di kawasan itu akan dibangun tembok penahan sungai, bahkan pihak Balai Wilayah Sungai sudah melakukan survei lapangan di kawasan itu.

"Tadinya kami berharap mereka (pihak Balai Wilayah Sungai), membangun tembok itu ditahun anggaran 2021 ini, namun belakangan informasi yang kami ketahui sampai saat ini, pihak balai hanya memiliki dua proyek saja ditahun ini di Empat Lawang, yakni Irigasi di Paiker dan irigasi di Lintang Kanan," sebutnya.

Meski belum jelas kapan dilaksanakan pembangunan tembok penahan sungai itu, Qolbi memastikan hanya menunggu waktu saja. Sebab, master plan pembangunan tembok penahan sungai itu sudah dibuat dan sudah direncanakan.

"Kalau tidak salah, mereka akan membangun tembok penahan sungai sepanjang 10 kilo meter dari kawasan Pasar Tebing Tinggi hingga Desa Baturaja. Bukan temboknya yang sepanjang 10 kilometer, tapi wilayahnya dibangun tembok perspot," tukasnya.(rodi)