Museum Negeri Sumsel Balaputra Dewa Terima 74 Buah Barang Antik Bernilai Sejarah dari Abu Bakar

Museum Negeri Sumsel Balaputra Dewa Terima 74 Buah Barang Antik Bernilai Sejarah dari Abu Bakar
Poto: Senin (22/2), Kepala Museum Negeri Sumsel Balaputra Dewa H Chandra Amprayadi menerima hibah 74 buah barang antik bernilai sejarah dari Abu Bakar, warga Seberang Ulu (SU) 1, Palembang. 

PALEMBANG, MEDIASRIWIJAYA - Semenjak diresmikannya ruang khusus koleksi hibah di Museum Negeri Sumatera Selatan (Sumsel) Balaputra Dewa oleh Gubernur H Herman Deru pada November 2020 lalu. 

Makin banyak barang bernilai bersejarah dihibahkan masyarakat ke Museum Negeri Sumsel Balaputra Dewa, Senin (22/2), Kepala Museum Negeri Sumsel Balaputra Dewa H Chandra Amprayadi menerima hibah 74 buah barang antik bernilai sejarah dari Abu Bakar, warga Seberang Ulu (SU) 1, Palembang. 

74 buah barang antik bernilai sejarah itu berusia sekitar 900–1.000 tahun berupa sendok, piring, dan mangkuk, terbuat dari keramik atau porselen ke Museum Balaputra Dewa Palembang. Benda-benda itu diperkirakan peninggalan zaman Dinasti Tang, Son, Cing, dan Dinasti Ming.
Kepala Museum Negeri Sumsel Balaputra Dewa, Chandra Amprayadi menjelaskan, selain keramik tersebut, puluhan benda terbuat dari timah alat transaksi jual beli zaman Kerajaan Sriwijaya juga dihibahkan ke Museum Balaputra Dewa Palembang.
Chandra mengucapkan terima kasih kepada masyarakat yang menghibahkan koleksi pribadi ke museum yang dipimpinnya. Kepercayaan masyarakat untuk menyerahkan koleksi pribadinya ke museum akhir-akhir ini semakin tinggi. Terbukti koleksi museum yang bersumber dari hibah dalam tiga tahun terakhir terus bertambah. ”Jika ada masyarakat yang memiliki benda bersejarah dan pusaka yang koleksinya tersebut ingin dihibahkan ke museum agar lebih terawat dan bisa dilihat banyak orang, dipersilakan menghubungi petugas Museum Negeri Sumsel Balaputra Dewa di Jalan Srijaya I Nomor 28 kawasan KM 6,5 Palembang,” katanya.
Menurutnya Museum Negeri Sumsel Balaputra Dewa menyimpan koleksi mulai dari zaman prasejarah, zaman Kerajaan Sriwijaya, zaman Kesultanan Palembang, hingga zaman kolonialisme Belanda. Koleksi museum diupayakan terus bertambah. “Dalam tiga tahun terakhir, telah menambah 2.000 lebih koleksi baru yang diperoleh dari hibah masyarakat dari berbagai daerah di Sumsel, bahkan dari provinsi lain. Barang yang dihibahkan ke museum, akan dipelihara dengan baik dan dipamerkan untuk umum di ruangan khusus koleksi hibah masyarakat. Pemilik benda sejarah dan pusaka akan selalu dikenang karena namanya ditulis bersamaan dengan keterangan benda yang dipajang di museum,” kata Chandra.
Sementara itu, kolektor barang antik dan benda bersejarah, Abubakar menjelaskan, barang koleksi yang dihibahkannya itu merupakan benda bersejarah yang ditemukan sejumlah masyarakat di dasar Sungai Musi sekitar objek wisata Benteng Kuto Besak (BKB) hingga pabrik pupuk PT Pusri. Koleksi benda bersejarah tersebut dengan kesadaran sendiri dihibahkan ke museum agar bisa dirawat dan disimpan lebih baik. ”Di museum dapat dilihat banyak orang dan menjadi media pembelajaran sejarah bagi anak-anak atau pelajar,” katanya. (rel)