Kopi Kawah Dempo Pagaralam Sudah Berlebel SNI

Kopi Kawah Dempo Pagaralam Sudah Berlebel SNI
Suasana pengecekan kualitas kopi Kawah Dempo

PAGARALAM, MEDIASRIWIJAYA - Setelah bertahun melalui proses yang cukup melelahkan, akhirnya label Standart Nasional Indonesia (SNI) didapatkan oleh pengusaha kopi "Kawah Dempo" dari Badan Standarisasi Nasional (BSN). Hal ini diungkapkan oleh Miladi warga Talang Pasai Kecamatan Pagaralam Utara sehubungan dengan kedatangan pihak BS di lokasi usahanya, Senin (27/7).
Menurutnya, guna mempersiapkan kualitas bubuk kopi Standar Nasional Indonesia di Kota Pagaralam Badan Standarisasi Nasional (BSN) Bidang Pembinaan Kantor Layanan Teknis wilayah Sumatera Selatan pada Minggu (26/7) menyambangi rumah produksi Kopi Bubuk Cap Kawah Dempo Coffe yang beralamat di Laskar Wanita mentarjo talang pasai  RT 14 No 15 RW 05 kelurahan Dempo Makmur Pagar Alam Utara. Tujuan para Staf kantor layanan teknis Sumsel sambangi Rumah Produksi kopi Bubuk Kawah Dempo Coffe untuk melakukan pembinaan sertifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI) terhadap Rumah produksi Kopi bubuk Kawah Dempo Coffe Kota Pagar Alam.

Miladi Susanto Owner dari Kawah Dempo Coffe menyatakan rasa gembiranya karena sudah mendapatkan sertifikat SNI ini. Dia berharap usaha produksi kopi bubuknya akan semakin sukses karena secara standar sudah memenuhi kriteria. "Ini penantian saya selama 7 tahun dan alhamdulilah hari ini cita cita saya untuk mewujudkan produksi kopi diakui dan bersertifikasi SNI sudah di depan mata. Terimakasih atas masukan dan bantuannya selama ini," ujar Miladi.

Sehari sebelumnya, Tim Teknis BSN Sumsel mendatangi tempat usaha Muladi.
Dedy Maulana wakil kepala kantor pelayanan teknis BSN Sumatera selatan didampingi Staf Kantor layanan teknis BSN Ovan mengatakan syarat utama untuk mengajukan Pembinaan SNI antara lain ada izin legalitas meliputi Surat Izin Tempat Usaha (SITU), Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP), Nomor Induk Berusaha (NIB) dan Merek yang Terdaftar. "Kita melakukan pembinaan mulai dari mempersiapkan proses produksi dari baku sampai produk jadi, setelah itu ada tahap uji coba penerapan SNI selama dua bulan kemudian kita akan adakan audit internal, kalaupun ada temuan kita perbaiki sebelum ada audit dari Lembaga Sertifikasi produk,"ujar Dedy seraya menambahkan bahwa masa pembinaan SNI memakan waktu 6 sampai 12 bulan lebih, tergantung dari kesiapan dan komitmen UMK tersebut. Selama waktu pembinaan dilakukan implementasi yang pada puncaknya berhak mendapatkan Sertifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI). Adapun tujuan dari sertifikasi SNI, produk tersebut memiliki jaminan mutu dan meningkatkan daya saing di pasar global serta kepercayaan dari konsumen karena produksi tersebut sudah berstandar SNI.(Repi)