Jajaki Kolaborasi dan Sinergi, YIM Audiensi dengan Baznas Kota Palembang
PALEMBANG, MEDIASRIWIJAYA – Yayasan Intan Maharani menjajaki peran lintas stakeholders Baznas Kota Palembang untuk kemungkinan menjalin kerjasama, kolaborasi dan bersinergi. “YIM merupakan organisasi masyarakat sipil (OMS) sebagai SSR Program Penjangkauan pada Kelompok Populasi Kunci PSP, dan Pelaksanaan Program Community Strengthening System – Humas Right (CSS-HR) Indonesia Aids Coalition (IAC), yang bergerak pada isu penjangkauan dan pendampingan bagi orang dengan HIV/AIDS serta kelompok risiko tinggi terinfeksi HIV/AIDS (populasi kunci), beserta OMS. Kami datang dengan mengikutsertakan beberapa pihak seperti Yayasan Wahana Citra Indonesia, Yayasan Warna Sriwijaya, Yayasan Masyarakat Sehat Sriwijaya, Kompass serta media massa,” ujar Sari Palupi, Technical Officer YIM, Jumat (9/10).

Teks foto: Sari Palupi.
Didampingi sejumlah pengurus seperti Koordinator SSR YIM, Leonardo dan Tim CSS HR, Sari menambahkan tujuan audiensi dengan Baznas Kota Palembang adalah selain bersilaturahmi dengan kepengurusan Baznas Kota Palembang yang baru, juga dalam rangka merencanakan kolaborasi rencana kerja bersama. “Kami melihat begitu banyak program kerja Baznas Kota Palembang yang bersinggungan dengan masyarakat dan itu sangat relevan dengan keberadaan kami baik dari YIM maupun dari rekan-rekan lain yang hadir pada kesempatan ini. YIM selama ini didanai oleh Global Fund, namun akan berakhir pada Desember 2026 ini. Untuk itulah, kami juga pada kesempatan ini mengharapkan adanya sinergi dan kolaborasi dengan Baznas Kota Palembang untuk sama-sama meneruskan program-program kami yang selama ini sudah berjalan karena YIM tidak mungkin berhenti beraktivitas mengingat persoalan HIV/AIDS, TBC dan Malaria tidak berhenti bahkan justru terus terjadi di masyarakat,” tambah Sari.

Teks foto: Leonardo.
Koordinator SSR YIM, Leonardo pada kesempatan ini mengatakan 2024-2025 YIM sudah menjalin kerjasama dengan Baznas Kota Palembang, dan sehubungan dengan kepengurusan Baznas Kota Palembang yang baru maka pihaknya berkeinginan menjalin kembali silaturahmi. “Selain itu, tujuan kami menjajaki adanya kemungkinan terjadi sinergi dengan keberadaan Baznas. Teman-teman yang hadir ini adalah pelaku di lapangan yang bertugas memberikan pendampingan. Tupoksi Baznas sepertinya memungkinkan kami menjalin kolaborasi,” kata Leo.

Teks foto: Perwakilan Yayasan Masyarakat Sehat Sriwijaya (MSS).
Perwakilan Yayasan Masyarakat Sehat Sriwijaya (MSS) memaparkan pihaknya konsen pada pasien TBC dari kelompok masyarakat kurang mampu. Selama ini Global Fund banyak membantu keberadaan Yayasan ini namun terakhir sekitar tahun 2017 sampai 2020 dianggap sudah mampu untuk berdiri sendiri sehingga mengurangi bantuan. Untuk itulah, MSS juga berharap adanya sinergi dan kolaborasi dalam meneruskan program konsen terhadap pasien TBC khususnya di wilayah kota Palembang.

Teks foto: Yayasan Wahana Citra Indonesia.
Yayasan Wahana Citra Indonesia juga pada kesempatan ini menyatakan pihaknya melakukan pendampingan dan penjangkauan komunitas LGBT dengan berbagai problem yang dihadapi pihaknya. Sehingga pada kesempatan ini mengharapkan adanya juga kemungkinan sinergi dan kolaborasi dengan Baznas Kota Palembang.

Teks foto: Perwakilan Kompass.
Perwakilan Kompass, mengatakan pihaknya didirikan bersama para penyintas TBC dengan tujuan agar bermanfaat terutama bagi para pasien yang sudah sembuh. Selain itu, dampak dari penderita TBC juga menjadi perhatian pihak mereka. “Penjangkauan kasus diskriminasi terhadap penderita TBC, kami berperan aktif memberikan dukungan social dan moral. Kami berupaya juga memberikan edukasi kepada masyarakat agar kasus-kasus TBC tidak makin luas. Kami pun pada kesempatan ini berkeinginan menjajaki adanya kemungkinan kerjasama dengan Baznas Kota Palembang,” katanya.

Teks foto: perwakilan Yayasan Warna Sriwijaya
Selanjutnya, perwakilan Yayasan Warna Sriwijaya yang konsen melakukan pendampingan kepada komunitas waria dengan pemberdayaan potensi yang ada. “Kelompok waria sudah beranggapan bukan lagi penerima manfaat tapi pemberi manfaat. Kelompok waria sangat rentan, fakir miskin, ada yang tidak berpendidikan dan sangat berpotensi mendapatkan kekerasan terkait penerimaan masyarakat. Yayasan Warna Sriwijaya hadir untuk mengatasi itu. Dengan moto, berdaya dan berkarya supaya kelompok ini dapat berkontribusi kepada masyarakat. Tidak lihat warianya tapi karyanya yang ditonjolkan,” ujarnya.

Teks foto: Perwakilan Baznas Kota Palembang.
Sementara itu, Baznas Kota Palembang yang dalam hal ini diwakilkan kepada Wakil Ketua 4 Muhammad Yamin dan Wakil Ketua 3 Asih menyambut baik niat YIM dan beberapa Yayasan yang juga hadir pada audiensi ini. “Banyak yang bisa kita kerjakan bersama, mengingat dari berbagai paparan perwakilan dan YIM tadi sangat memungkinkan terjadinya kerjasama,” kata Muhammad Yamin.
Menurutnya, pihaknya menyambut baik keinginan dari para peserta audiensi karena ada kesamaan tujuan dan orientasi kerja.
Begitu pula dengan Wakil Ketua3 Baznas Kota Palembang, Asih menambahkan adanya kemungkinan kerjasama karena ada kesamaan orientasi kerja seperti program pendampingan kepada kelompok. Semua persoalan yang dihadapi ini butuh satu tagline yaitu jaga hidup bersih. “Komunitas seperti LGBT itu selain dari sisi kemanusiaan, dari sisi moral juga perlu diselamatkan. Ada kriteria di kami untuk memberikan bantuan modal bagi pelaku usaha,” katanya. (saf)





