HeadlineOPINI

OPINI: Ketika AI Membuat Tugas Anak Lebih Pintar, Apakah Anaknya Ikut Belajar?

Oleh: Ria Triayomi
Dosen PGSD, Universitas Katolik Musi Charitas

Ada sesuatu yang sedang berubah dalam cara anak belajar. Dulu, ketika guru memberikan tugas, anak harus membuka buku, mencari informasi, bertanya kepada orang tua atau guru, membaca beberapa sumber, memahami persoalan, lalu menyusun jawabannya sendiri. Prosesnya mungkin lebih lambat. Jawabannya pun tidak selalu rapi. Bahkan tidak jarang masih terdapat kesalahan. Namun, justru dalam proses itulah anak belajar.Kini situasinya berbeda. Dengan beberapa kalimat perintah, kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) dapat menghasilkan jawaban yang rapi, sistematis, dan lengkap, bahkan terkadang tampak jauh lebih “pintar” daripada kemampuan anak yang mengumpulkan tugas tersebut. AI bukan lagi sekadar kemungkinan masa depan. Teknologi ini telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. OECD mencatat bahwa lebih dari sepertiga individu di negara-negara OECD telah menggunakan AI generatif pada 2025.

Di satu sisi, perkembangan ini patut disambut. AI membuka peluang besar bagi pendidikan. Teknologi ini dapat membantu menjelaskan konsep yang sulit, memberikan contoh, menyediakan umpan balik, membantu guru menyiapkan pembelajaran, dan membuka akses terhadap berbagai sumber belajar.

Tetapi ada pertanyaan yang jauh lebih penting: ketika AI membuat tugas anak terlihat lebih pintar, apakah anak tersebut benar-benar belajar? Pertanyaan ini menjadi semakin penting ketika AI mulai bersentuhan dengan pendidikan dasar. Pada jenjang sekolah dasar, anak bukan sekadar sedang belajar menemukan jawaban. Mereka sedang membangun fondasi cara berpikir: membaca, memahami, bertanya, membandingkan, menghubungkan informasi, memecahkan masalah, mengemukakan alasan, dan mempertanggungjawabkan apa yang diyakininya benar.

Karena itu, persoalan AI dalam pendidikan tidak cukup dijawab dengan pertanyaan, “Bolehkah anak menggunakan AI?” Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Apa yang dilakukan anak setelah menggunakan AI?” Jawaban yang Baik Belum Tentu Menunjukkan Belajar yang Baik

 Inilah salah satu jebakan terbesar pendidikan di era AI. Bayangkan seorang siswa sekolah dasar mendapatkan tugas menjelaskan mengapa sampah plastik dapat merusak lingkungan. Ia menggunakan AI, memperoleh jawaban yang lengkap, kemudian menyalinnya ke dalam tugas. Secara kasatmata, tugas tersebut mungkin sangat baik. Bahasanya tertata, informasinya banyak, dan kesimpulannya meyakinkan.

Namun, ketika guru bertanya, “Coba jelaskan dengan kata-katamu sendiri,” anak tersebut justru kesulitan menjawab. Di sinilah kita perlu membedakan kualitas tugas dengan kualitas pembelajaran. AI dapat membantu menghasilkan produk yang lebih baik. Tetapi produk yang lebih baik tidak otomatis menunjukkan bahwa proses berpikir anak juga menjadi lebih baik. Persoalannya bukan semata-mata karena anak menggunakan AI, melainkan apakah AI digunakan untuk membantu anak berpikir atau justru menggantikan proses berpikirnya.

OECD dalam Digital Education Outlook 2026 menekankan bahwa AI generatif dapat mendukung pembelajaran apabila penggunaannya diarahkan oleh prinsip pedagogis yang jelas. Dengan kata lain, teknologi tidak dengan sendirinya menghasilkan pembelajaran yang baik. Cara teknologi digunakan tetap menentukan hasilnya.

Temuan penelitian juga mulai menunjukkan alasan untuk berhati-hati. Sebuah studi terhadap 580 mahasiswa menemukan hubungan antara ketergantungan pada AI dan kemampuan berpikir kritis, dengan literasi informasi sebagai salah satu faktor yang memengaruhi hubungan tersebut. Memang, penelitian itu dilakukan pada mahasiswa, bukan anak sekolah dasar, sehingga tidak dapat langsung digeneralisasi kepada anak SD. Namun, pesannya relevan: semakin mudah teknologi mengambil alih pekerjaan kognitif, semakin penting kemampuan manusia untuk tetap memeriksa, menilai, dan memahami hasil yang diberikan teknologi.

 Anak Tidak Cukup Hanya “Melek Digital”

Selama ini literasi digital sering dipahami sebagai kemampuan menggunakan perangkat, mencari informasi di internet, membuat konten, atau menggunakan aplikasi. Kemampuan tersebut tetap penting. Tetapi di tengah derasnya informasi dan hadirnya AI generatif, kemampuan menggunakan teknologi saja tidak lagi cukup.

Anak membutuhkan literasi digital yang kritis.

Ketika AI memberikan jawaban, anak perlu dibiasakan bertanya: Apakah jawaban ini benar? Dari mana informasinya? Apakah ada bagian yang keliru? Apakah jawabannya benar-benar sesuai dengan pertanyaan? Apakah ada sudut pandang lain?

Tentu, pertanyaan tersebut harus disesuaikan dengan usia dan perkembangan anak. Namun, prinsipnya sederhana: anak tidak boleh dibiasakan menerima jawaban hanya karena jawaban itu berasal dari teknologi. UNESCO melalui AI Competency Framework for Students menempatkan pemahaman tentang AI, etika, penerapan AI, serta kemampuan menciptakan dengan AI sebagai bagian dari kompetensi peserta didik. Artinya, pendidikan AI bukan sekadar mengajarkan cara menggunakan alat, tetapi juga bagaimana memahami dan menggunakannya secara bertanggung jawab.

Anak perlu dibiasakan melalui proses sederhana: mengakses informasi, memahami, memeriksa, membandingkan, menyimpulkan, lalu menciptakan. Dalam proses tersebut, AI boleh hadir. Tetapi AI tidak boleh mengambil seluruh prosesnya. Jangan Sampai Sekolah Hanya Menjadi Lebih Digital, tetapi Tidak Lebih Bermakna. Kehadiran teknologi di sekolah sering kali identik dengan digitalisasi. Buku diubah menjadi PDF, tugas dikumpulkan melalui platform digital, video digunakan dalam pembelajaran, dan kuis dilakukan secara daring.

Semua itu memang bentuk pemanfaatan teknologi. Namun, apakah sekolah yang semakin digital otomatis menghasilkan pembelajaran yang semakin baik? Belum tentu. Teknologi bukan tujuan pendidikan. Teknologi adalah alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Karena itu, sekolah perlu bergerak dari sekadar “menggunakan teknologi” menuju “menggunakan teknologi untuk memperbaiki pembelajaran.”

 Guru tidak harus selalu menggunakan teknologi paling canggih. Teknologi sederhana pun dapat bermakna apabila membantu anak memahami konsep, mengeksplorasi lingkungan, bekerja sama, memecahkan masalah, mengembangkan kreativitas, dan merefleksikan pengalaman belajar. Sebaliknya, teknologi paling canggih pun kehilangan makna apabila hanya membuat anak semakin mudah mendapatkan jawaban tanpa memahami bagaimana jawaban tersebut diperoleh. UNICEF juga menekankan pentingnya mengarahkan teknologi digital untuk meningkatkan hasil belajar dan keterampilan, bukan sekadar memperluas penggunaannya.

Guru Justru Semakin Penting

Ada kekhawatiran bahwa perkembangan AI akan mengurangi peran guru. Saya justru melihat sebaliknya. Ketika mesin semakin mudah menghasilkan informasi, peran guru menjadi semakin penting sebagai perancang pengalaman belajar.

Guru perlu merancang aktivitas yang membuat anak mengalami proses berpikir. Setelah memperoleh penjelasan dari AI, misalnya, anak dapat diminta membandingkannya dengan buku pelajaran, mencari contoh dari lingkungan sekitar, menemukan bagian yang kurang tepat, menggambarkan kembali konsep tersebut, atau menjelaskannya dengan bahasa sendiri.

Dengan cara seperti itu, AI menjadi bagian dari proses berpikir, bukan pengganti proses berpikir.

Guru di era AI dituntut mampu menjawab pertanyaan yang lebih sulit: kapan anak perlu menggunakan AI, kapan harus berpikir sendiri, dan bagaimana keduanya dapat dipadukan? Jangan Larang AI, tetapi Jangan Serahkan Pembelajaran kepada AI Karena itu, pendidikan tidak perlu mengambil posisi ekstrem. Kita tidak harus buru-buru mengatakan bahwa AI harus dilarang dari sekolah. Tetapi kita juga tidak boleh menyerahkan proses belajar anak kepada AI.

Yang diperlukan adalah aturan penggunaan yang jelas, sesuai usia, tujuan pembelajaran, dan perkembangan anak. Untuk tugas tertentu, anak mungkin perlu mengerjakan tanpa AI agar guru dapat melihat kemampuan dasarnya. Pada tugas lain, AI dapat digunakan sebagai sumber pembanding atau teman berdiskusi. Yang penting, anak tetap harus mampu menjelaskan apa yang ia tulis.

Di sinilah penilaian juga perlu berubah. Jika guru hanya menilai produk akhir, AI akan semakin mudah mengambil alih proses belajar. Sebaliknya, jika guru menilai proses, argumentasi, kemampuan menjelaskan, kemampuan memeriksa informasi, refleksi, kreativitas, dan kemampuan mempertanggungjawabkan jawaban, ruang bagi anak untuk berpikir akan tetap terbuka.

Pada Akhirnya, Anak Tetap Harus Menjadi Pembelajar

Pendidikan dasar bukan kompetisi untuk menghasilkan anak yang paling cepat menemukan jawaban. Pendidikan adalah proses membentuk manusia yang mampu memahami persoalan, berpikir kritis, mengambil keputusan, bekerja sama, berkreasi, berkomunikasi, dan bertanggung jawab.

AI dapat menjadi peluang besar untuk membantu mencapai tujuan tersebut. Tetapi AI juga dapat menjadi persoalan ketika kemudahan memperoleh jawaban membuat anak kehilangan kesempatan untuk bertanya, mencoba, salah, memperbaiki kesalahan, dan menemukan pemahamannya sendiri.

Padahal, sering kali justru melalui proses yang tidak sempurna itulah pembelajaran terjadi. Anak yang salah menjawab lalu memperbaiki kesalahannya mungkin sedang belajar lebih banyak daripada anak yang langsung memperoleh jawaban sempurna.

UNICEF mengingatkan bahwa penggunaan AI bagi anak membawa peluang sekaligus risiko, termasuk persoalan privasi, keselamatan, diskriminasi, dan ketimpangan. Karena itu, kepentingan terbaik anak harus tetap menjadi pertimbangan utama.

Maka, keberhasilan teknologi dalam pendidikan tidak seharusnya diukur dari seberapa banyak aplikasi yang digunakan sekolah atau seberapa sempurna jawaban yang dihasilkan AI. Ukuran yang jauh lebih penting adalah: apakah setelah menggunakan teknologi, anak menjadi lebih mampu bertanya, memeriksa, memahami, berpikir, mencipta, dan bertanggung jawab?

Jika jawabannya ya, teknologi telah menjadi bagian dari pembelajaran. Namun, jika teknologi hanya membuat tugas anak semakin pintar sementara anaknya sendiri semakin jarang berpikir, kita perlu berhenti sejenak. Sebab sekolah bukan tempat untuk menghasilkan jawaban yang sempurna. Sekolah adalah tempat anak belajar mengapa sebuah jawaban dianggap benar, bagaimana membuktikannya, kapan harus meragukannya, dan bagaimana menemukan jawaban yang lebih baik. Dan mungkin, di tengah euforia AI yang semakin pintar, pertanyaan paling penting justru tetap sederhana: Ketika AI mengerjakan tugas anak, sebenarnya siapa yang sedang belajar anak atau AI?

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *