Kepala BPOM RI Kunker ke Palembang dengan Sejumlah Agenda Strategis
Teks foto: Kepala BPOM RI bersama sejumlah pejabat BPOM RI dan pejabat Universitas Sriwijaya melakukan penanaman pohon dalam rangka Gerakan I Juta Pohon di Palembang, Jumat (31/7)
PALEMBANG, MEDIASRIWIJAYA Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Prof Dr Taruna Ikrar melakukan kunjungan kerja (kunker) ke Palembang dengan sejumlah agenda strategis. Kunker ini didampingi sejumlah pejabat BPOM RI yang ikut serta melakukan aksi di Palembang Sumatera Selatan serta didampingi juga Kepala Balai Besar POM di Palembang (BPOM Sumsel) Yani Ardiyanti, S.F., Apt., M.Sc, Jumat (31/7).
Adapun kegiatan kunker Kepala BPOM dan rombongan di antaranya kunjungan ke SPPG di Jalan Demang Lebar Daun Palembang, dan kunjungan ke Posyandu Melati Bukit Besar Palembang. “Kunjungan ke SPPG dan Posyandu untuk memastikan peran pentingnya sebagai garda terdepan kesehatan ibu dan anak serta keamanan pangan melalui penyaluran Makan Bergizi Gratis (MBG),” ujar Taruna di sela kegiatan kunker.

Teks foto: SPPG di Jalan Demang Lebar Daun Bukitbesar Palembang yang dikunjungi Kepala BPOM RI dan rombongan, Jumat (31/7).
Menurut Taruna, salah satu tempat yang paling strategis adalah posyandu yang sebagai kelembagaan, berhubungan dengan kesehatan, pemerintah daerah dan BKKBN. Sebagai pengawas, kami harus melihat langsung tempat-tempat yang strategis seperti posyandu. Selanjutnya ke SPPG sebagai tempat penyalur makan bergizi gratis pun akan kita lihat produksinya apakah sudah berjalan sesuai aturan dan prosedur. Salah satu penyebab makanan rusak adalah waktu dan jarak. Itu sebabnya kami ke SPPG ini dan lanjutkan ke Posyandu untuk melihat kesesuaian itu. Saya sudah periksa isi MBG tadi sudah sesuai dengan aturan dan syarat-syarat. Lalu disajikan ke Posyandu yang jaraknya hanya sekitar 5 menit dari SPPG ini, jadi secara prosedural juga sudah memenuhi standar,” kata Taruna.


Teks foto: Posyandu Melati Bukitbesar Palembang yang dikunjungi Kepala BPOM RI, Jumat (31/7)
Kunker Kepala BPOM RI ke SPPG dan Posyandu Melati didampingi Kepala Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Palembang yang melingkupi wilayah Sumatera Selatan Yani Ardiyanti, S.F., Apt., M.Sc. Selain itu, juga didampingi sejumlah pejabat Pemkot Palembang seperti Kepala Dinas Kesehatan Kota Palembang dr. Hj. Fenty Aprina, M.Kes, Sp.KKLP, serta Sulaiman Amin, Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Sekretariat Daerah Kota Palembang.
Pasca kunjungan dari dua lokasi ini, selanjutnya, rombongan Kepala BPOM RI melakukan kegiatan Gerakan I Juta Pohon yang berlangsung di Kampus Universitas Sriwijaya Bukitbesar Palembang. “Gerakan 1 Juta Pohon, Aksi Nyata di Universitas Sriwijaya untuk Kelestarian Bumi. Komitmen menjaga kelestarian lingkungan dan mewariskan bumi yang lebih baik bagi generasi mendatang. Menanam pohon bukan sekadar kegiatan seremonial melainkan investasi jangka panjang bagi kesehatan masyarakat, ketahanan pangan, serta keberlangsungan kehidupan. Gerakan penghijauan merupakan bentuk tanggungjawab bersama dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan degradasi lingkungan yang semakin nyata,” ujar Taruna Ikrar.

Teks foto: Gerakan I Juta Pohon di kampus Unsri Bukitbesar Palembang, Jumat (31/7).
Pada kegiatan Gerakan I Juta Pohon ini didampingi Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) BPOM dr Elfi Taruna Ikrar, Sekretaris Utama BPOM Irjen Pol Dr Jayadi SIK MH, Staf Khusus Kepala BPOM dr Wachyudi Muchsin S Ked, SH MKes,C.Med., Kepala Biro Umum Asih Lisa, Kepala Biro Sumber Daya Manusia Irwansyah, Kepala Biro Kerjasama dan Hubungan Masyarakat Lynda K. Wardhani, Direktur Pengawasan Pangan Olahan Sondang, serta jajaran BPOM lainnya. Kehadiran para pejabat BPOM tersebut mencerminkan komitmen bersama dalam mendukung pelestarian lingkungan sebagai bagian dari pembangunan kesehatan nasional. “Kampus memiliki peran strategis sebagai pusat lahirnya ilmu pengetahuan, inovasi dan Gerakan social yang mampu membentuk kesadaran kolektif dalam menjaga kelestarian alam. Menanam satu pohon berarti menanam kehidupan. Langkah sederhana ini akan menjadi warisan hijau yang bernilai besar bagi generasi mendatang sekaligus memperkuat fondasi Indonesia menuju pembangunan berkelanjutan dan Indonesia Emas,” tambah Taruna.
Agenda selanjutnya, Kuliah Umum di Aula Lt 7 Gedung Fakultas Ilmu Komputer Universitas Sriwijaya Palembang. Taruna yang pada kesempatan kuliah umum ini mengangkat tema “Ancaman Silent Pandemic Akibat Resistensi Antimikroba dan Pengendaliannya”.

Teks foto: Kepala BPOM RI saat menyampaikan materi pada Kuliah Umum di Kampus Unsri, Jumat (31/7).
Di hadapan ratusan mahasiswa Unsri, Taruna memaparkan peran BPOM dalam antimikroba dan resistensi. Silent pandemic disebutkan Taruna merupakan keniscayaan, tantangan serta ancaman. Bukan hanya bagi Indonesia tapi seluruh dunia. Dasar-dasarnya ada, bahwa ada 4,7 juta penduduk dunia setiap tahun meninggal karena antimikroba resistensi ini. Khusus 471 ribu orang di Indonesia yang mengalami resistensi karena antimikroba ini bahkan ada sekian ribu orang yang meninggal tiap tahunnya. “Lalu dari sisi nilai ekonominya sangat besar. Silent Pandemic bisa sampai 456 miliar US dollar x 18 ribu seluruh dunia berarti kurang lebih 24 ribu triliun. Kerugian akibat ini. Dan tahun 2025 sampai 2035 akan meningkat jadi 500 miliar US dollar dan hitungan kematian bisa sampai 47 juta penduduk dunia akan meningkat,” tambahnya.

Taruna juga menjelaskan bahwa antivirus, antibiotik, antiparasit dan jamur juga tidak mampu lagi mengobati karena penyakit atau bakterinya sudah resisten terhadap obat tadi. “Ini kondisi yang cukup memprihatinkan, ibaratnya kita punya senjata tapi tak mempan lagi untuk berperang melawan penyakit/bakteri,” kata Taruna seraya menambahkan bahwa ada solusinya.
“Solusinya, tentu paling penting kita harus memastikan penggunaan antibiotic, antivirus dan antibakteri secara proporsional atau sesuai aturan harus dengan resep dokter. Supaya masyarakat jangan menggunakan dengan cara tidak benar. Misalnya, menggunakan antibiotic untuk ternak ayam atau tambak ikan sehingga termakan oleh manusia. Orang makan ikan atau ayam jadi resisten,” ujarnya.
Pada kesempatan ini Taruna juga mengatakan pihaknya masuk kampus karena bagian dari strategi program kerja lembaganya. “Kita masuk kampus karena kita melihat perguruan tinggi banyak mahasiswa dan para ahli yang merupakan orang yang punya pendidikan tinggi yang cukup didengar oleh masyarakat sekeliling untuk menjadi penyampai informasi positif ini,” kata Taruna. (saf)




