Fenus Antonius Mengetuk Pintu Harapan Seorang Petani Penderita Tumor
MARTAPURA, MEDIASRIWIJAYA – Reses sering punya pola yang mudah ditebak. Tenda berdiri, kursi berjejer, sambutan bergantian, aspirasi dicatat, foto bersama, lalu rombongan pulang. Semua selesai sesuai jadwal. Yang sering tidak ikut selesai hanyalah persoalan warga. Namun, Selasa (7/7/2026), di Desa Pemetung Basuki, Kecamatan BP Peliung, ada satu agenda reses yang memilih keluar dari pakem itu.
Di tengah dialog, nama Muhlisun disebut. Seorang petani berusia 58 tahun yang bertahun-tahun memikul beban yang tak ringan: tumor di bagian dalam mulut yang terus membesar. Penyakit itu bukan hanya menggerogoti tubuhnya, tetapi juga perlahan mengikis rasa percaya dirinya. Ia tetap bekerja di kebun semampunya, meski tenaga tak lagi sekuat dulu. Sebab bagi seorang kepala keluarga, berhenti bekerja sering kali bukan pilihan.
Cerita Muhlisun sebenarnya bisa saja berakhir sebagai satu lagi catatan aspirasi. Ditulis rapi, dimasukkan map, lalu dibahas entah kapan.
Tetapi Fenus Antonius memilih membuat catatan itu hidup.
Usai reses, Anggota DPRD Sumatera Selatan dari Fraksi PAN tersebut tidak langsung meninggalkan desa. Ia justru mendatangi rumah Muhlisun. Bukan untuk seremoni, melainkan memastikan sendiri bagaimana kondisi warga yang baru saja didengarnya dalam forum.
Di rumah sederhana itu, tak ada mimbar, tak ada tepuk tangan. Yang ada hanyalah percakapan seorang wakil rakyat dengan seorang petani yang sedang berjuang melawan penyakit. Fenus mendengar kisah tentang operasi hernia yang baru dijalani, tentang ekonomi keluarga yang semakin berat, dan tentang seorang anak yang masih bersekolah sementara ayahnya terus berusaha bertahan.
Di titik seperti itulah politik menemukan wajah terbaiknya. Bukan ketika pidato terdengar paling lantang, melainkan ketika langkah kaki memilih mendekat kepada mereka yang nyaris kehilangan harapan. “Sebagai wakil rakyat, sudah menjadi tanggung jawab kami hadir ketika masyarakat membutuhkan. Saya berharap Pak Muhlisun segera mendapatkan penanganan medis yang lebih baik agar bisa kembali sehat dan beraktivitas,” ujar Fenus.
Bagi Muhlisun, kedatangan itu mungkin belum menghilangkan rasa sakit yang telah bertahun-tahun ia rasakan. Namun, perhatian yang datang mengetuk pintu rumahnya telah menghadirkan keyakinan bahwa penderitaannya tidak lagi berjalan sendirian.
Kita mungkin terlalu sering mengukur keberhasilan reses dari banyaknya usulan yang terkumpul. Padahal, ada ukuran yang lebih sederhana sekaligus lebih manusiawi: apakah setelah aspirasi didengar, masih ada langkah yang benar-benar diambil?
Di Pemetung Basuki, jawaban itu hadir lewat sepasang kaki yang memilih berjalan menuju rumah seorang petani. Sebab pada akhirnya, jabatan memang bisa membuka pintu. Tetapi hanya kepedulian yang membuat seseorang mau mengetuknya. (sp)




