HeadlineOPINIPalembangPendidikanSUMSEL

Feminisme Gelombang 2 (1980-1990): Dari Ranah Publik Melawan Patriarki

 

Oleh: Syavira Angraini dan Isnawijayani

Mahasiswa dan Gurubesar Ilmu Komunikasi Universitas Bina Darma

Representasi Teori Feminis Gelombang Kedua 1980-1990an

Feminisme gelombang kedua adalah kelanjutan dari gelombang pertama yang lebih menekankan pada masalah politik dan hukum terkait kesetaraan gender. Selama tahun 1980 hingga 1990an, fokus gerakan ini beralih ke isu-isu sosial dan budaya, serta perjuangan melawan patriarki yang menghalangi perempuan dalam kehidupannya sehari-hari. Gerakan ini mulai mendapatkan perhatian sejak awal tahun 1960-an dan semakin kuat di tahun 1980-an dengan tema utama “pembebasan perempuan”.

Perjuangan feminis gelombang kedua tidak hanya meminta kesamaan dalam hal hukum, tetapi juga berupaya menghapus diskriminasi yang tertanam dalam budaya, seperti kekerasan seksual, peran perempuan di ranah domestik yang kaku, serta isu terkait seksualitas dan kelas rasial. Masalah-masalah ini diangkat dalam teori feminis yang menunjukkan bagaimana perempuan diposisikan sebagai “yang lain” dalam masyarakat yang dikuasai oleh laki-laki, yang menandakan adanya subordinasi yang terstruktur dan sistemik. Salah satu tokoh penting, Simone de Beauvoir, melalui bukunya “The Second Sex” (1949), menguraikan posisi perempuan sebagai ‘Other’ yang tertekan oleh ideologi patriarkal.

Dari sudut pandang representasi, feminisme gelombang kedua menegaskan bahwa “yang pribadi adalah politik” semua isu pribadi perempuan, seperti pekerjaan rumah, reproduksi, dan hubungan seksual, sebenarnya berkaitan dengan masalah politik yang menyangkut kekuasaan dan dominasi berdasarkan gender. Dengan cara ini, perjuangan bukan hanya berkisar pada perolehan hak yang setara, tetapi juga pada perubahan struktur sosial dan budaya yang membatasi perempuan.

Gelombang ini juga mulai memperkenalkan kritik dari perempuan berkulit warna, lesbian, dan perempuan pekerja yang merasakan bahwa posisi mereka sering terabaikan dalam narasi feminisme yang sering kali lebih menyoroti perempuan kulit putih kelas menengah. Kritik semacam ini mengarah pada lahirnya gerakan feminisme radikal, interseksional, dan feminisme perbedaan (difference feminism) yang berupaya menggambarkan kerumitan pengalaman perempuan yang beraneka ragam.

Feminisme gelombang kedua pada tahun 1980-1990an diwujudkan melalui berbagai bentuk aktivisme, penelitian, dan tulisan yang menantang norma sosial serta membuka ruang untuk pembicaraan tentang seksualitas, kekerasan berbasis gender, dan politik tubuh perempuan. Organisasi feminis seperti National Organization for Women (NOW) memainkan peran penting dalam memperjuangkan partisipasi perempuan penuh di ruang publik dan legislatif.

Walaupun beberapa literatur mencatat bahwa feminisme gelombang kedua dianggap berakhir pada pertengahan 1970-an, semangat dan isu-isu yang dibangkitkannya terus berjalan dan berkembang hingga tahun 1980-1990an dengan berbagai variasi, mempersiapkan jalan bagi feminisme gelombang ketiga yang lebih inklusif dan beragam.

Kutipan Pendukung

“Feminisme gelombang kedua berfokus pada pengertian diri perempuan sebagai cara untuk membebaskan diri dari kekangan patriarki” (Jurnal Perempuan, 2021).

Simone de Beauvoir dalam The Second Sex menegaskan bahwa perempuan diperlakukan sebagai ‘Other’ akibat dari ideologi yang berpusat pada laki-laki (Jurnal Perempuan, 2021).

“Isu-isu yang langsung berpengaruh pada kehidupan perempuan seperti reproduksi, kekerasan seksual, dan seksualitas perempuan menjadi prioritas utama dalam feminisme gelombang kedua” (SPADA UNS, 2024).

“Feminisme gelombang kedua dipandang sebagai sebuah gerakan kolektif yang revolusioner yang menyoroti berbagai bentuk diskriminasi budaya terhadap perempuan, meskipun emansipasi hukum sudah terjadi” (Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, 2013).

Artikel ini merangkum representasi teori feminis gelombang kedua sebagai sebuah perjuangan yang tidak hanya menuntut kesetaraan di aspek formal, tetapi juga perubahan mendalam pada struktur sosial dan budaya patriarkal, dengan kesadaran akan perbedaan dan keragaman pengalaman perempuan pada era 1980-1990an.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *