HeadlineOPINIPalembangPendidikanSUMSEL

OPINI:  Kurikulum Merdeka dan berbagai Problematikanya

Oleh : N. Suseno

Kepala SMK Xaverius Palembang

 

Mengenal Kurikulum Merdeka

Mengutip laman Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, Kurikulum Merdeka adalah kurikulum dengan pembelajaran intrakurikuler yang beragam di mana konten akan lebih optimal agar peserta didik memiliki waktu  cukup  untuk mendalami konsep dan menguatkan kompetensinya. Guru memiliki keleluasaan memilih berbagai perangkat ajar,  sehingga pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan belajar dan minat peserta didik.

Sebagai upaya  mendukung visi pendidikan Indonesia, dan sebagai  langkah  pemulihan pembelajaran, Kerangka Kurikulum Merdeka  dikembangkan fleksibel, berfokus pada materi esensial, pengembangan karakter dan  kompetensi peserta didik. Diterapkannya kurikulum ini  merupakan langkah  membantu guru dan kepala Satuan Pendidikan  mengubah proses belajar menjadi  lebih relevan, mendalam dan   menyenangkan. sehingga, materi pembelajaran lebih mudah dipahami.

Mengapa diterapkan?

Implementasi Kurikulum Merdeka, didasarkan pada pilihan mandiri,   menyesuaikan kesiapan dan karakteristik satuan pendidikan. Opsi pilihan dalam penerapan Kurikulum Merdeka meliputi:   Mandiri Belajar, Mandiri Berubah, dan Mandiri Berbagi. Mandiri Belajar memberikan peluang    Satuan Pendidikan  menggunakan struktur Kurikulum 2013 dan menerapkan beberapa konsep serta prinsip Kurikulum Merdeka,  dalam melaksanakan pembelajaran dan asesmen. Mandiri Berubah menjadikan Satuan Pendidikan menggunakan struktur Kurikulum Merdeka, untuk mengembangkan kurikulum Satuan Pendidikan dan menerapkan prinsip-prinsip Kurikulum Merdeka dalam pelaksanaan pembelajaran dan asesmen. Opsi Mandiri Berbagi memberikan peluang Satuan Pendidikan menggunakan Kurikulum Merdeka dan menerapkan prinsip-prinsipnya dalam pelaksanaan  pembelajaran dan asesmen,  dengan komitmen  membagikan praktik-praktik baiknya kepada satuan pendidikan lain.

Berkenaan penerapan Kurikulum Merdeka, Satuan Pendidikan diberikan kesempatan mendaftar  secara online.     Memang pro dan kontra terkait  penerapan Kurikulum Merdeka masih terjadi, namun perlu dipahami tujuan   pemerintah mendorong Satuan Pendidikan untuk menerapkan Kurkulum Merdeka adalah :

Pertama. Menciptakan pembelajaran berkualitas sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan kondisi satuan pendidikan. Pendidik bisa fokus pada materi esensial sehingga pembelajaran lebih mendalam, lebih banyak  pengembangan kompetensi dan karakter peserta didik.  Kurikulum Merdeka dipersiapkan untuk   memfasilitasi kemampuan  peserta didik yang unik,  karenanya   pendidik diberi keleluasaan  untuk berinovasi memperhatikan iklim atau budaya Satuan Pendidikan, dan karakteristik peserta didik.

Kedua. Mendorong ketercapaian pembentukan karakter peserta didik yang kuat  melalui Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Pelaksanaan P5 bersifat fleksibel dari segi muatan, kegiatan, dan waktu pelaksanaannya,  sesuai  kebutuhan pelajar dan kondisi satuan pendidikan, sehingga dapat memanfaatkan sumberdaya yang tersedia. Fokus utama  P5 adalah proses pembelajaran yang mampu mengembangkan kompetensi, karakter peserta didik dan  bukan semata-mata pada produknya. Melalui P5, Satuan Pendidikan dapat bergotong-royong, memfasilitasi, dan menjalankan asesmen yang esensial bagi peserta didik .

Ketiga. Memberikan fleksibilitas pada pendidik,  untuk merancang Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran sendiri. Kurikulum Merdeka memberikan hak pada Satuan Pendidikan  untuk merancang KOSP yang memuat visi misi, organisasi pembelajaran,  jadwal dan kalender Pendidikan. Juga  memberikan keleluasaan pendidik merancang kurikulum sesuai  karakteristik peserta didik, dan  bisa mencari tahu  kebutuhan peserta didik, serta asesmen diagnostic, sehingga memiliki informasi lengkap  karakteristik peserta didiknya sebelum mengajar, yang menjadi dasar para pendidik untuk merancang RPP, metode dan penilaian pembelajaran.

Kelebihan Kurikulum Merdeka

Kelebihan Kurikulum Merdeka di satuan pendidikan, yakni:

  1. Lebih sederhana , mendalam berfokus pada materi yang esensial dan   pengembangan kompetensi peserta didik pada fasenya. Proses pembelajaran lebih mendalam, bermakna, tidak terburu-buru, dan menyenangkan
  2. Lebih relevan dan interaktif, karena  melalui kegiatan projek memberikan kesempatan  peserta didik secara luas dan  aktif mengeksplorasi isu terkini seperti  lingkungan, kesehatan, dll. Sehingga, dapat mendukung pengembangan karakter dan kompetensi Profil Pelajar Pancasila.
  3. Lebih merdeka, karena di jenjang SMK  tidak ada lagi program peminatan. Peserta didik bisa memilih mata pelajaran sesuai minat, bakat, dan aspirasinya.  Para guru  mengajar sesuai tahap capaian dan perkembangan peserta didik, dan  Satuan Pendidikan  tetap  memiliki kewenangan   mengembangkan dan mengelola kurikulum pembelajaran sesuai  karakteristik peserta didik.

 

Problematikan Penerapan Kurikulum Merdeka

Penerapan Kurikulum Merdeka diharapkan bisa memberi manfaat  seluas-luasnya untuk perkembangan Pendidikan di Indonesia. Namun pelaksanaannya tidaklah  mudah,  beberapa problematika muncul dalam proses penerapannya seperti :   Kurang jelasnya panduan  pelaksanaan pembelajaran yang sesuai Kurikulum Merdeka, pelaksanaan asesmen pada awal penerimaan peserta didik  baru yang belum maksimal. Masih  ada pendidik yang  sulit menerima perubahan dan selalu berada di zona nyaman , padahal  pendidik merupakan  pilar utama pelaksanaan kurikulum merdeka, maka perannya dalam penerapan Kurikulum Merdeka sangat sentral,  yakni sebagai  penggerak keberhasilan program merdeka belajar seperti pembelajaran berdiferensiasi, pelaksanaan P5 dan asesmen pembelajaran serta pemberdayaan teknologi sebagai alat pendukungnya.

Belum  semua  pendidik mampu  menggunakan  fasilitas teknologi berbasis digital,  ini  tentu  berpengaruh dalam penerapan Kurikulum Merdeka, yang  pembelajarannya tidak bisa dipisahkan dengan   teknologi digital.  Kehadiran teknologi digital  sangat membantu para pendidik dalam pelaksanaan tugasnya. Maka para  pendidik    harus belajar dan menguasai teknologi digital. Juga harus  mengenal, menguasai dan memanfaatkan platform pembelajaran,  hybrid learning, e-learning, email,   sumber dan media pembelajaran berbasis digital,  sehingga cakupan  pembelajarannya  lebih luas, menarik, interaktif, kontekstual dan memungkinkan terjadinya pengembangan materi secara lebih mendalam .

Belum meratanya jaringan komunikasi dan belum maximalnya   kerjasama  antara satuan pendidikan dengan pihak-pihak  terkait. Secanggih dan sehebat apapun kurikulumnya   didesain,  tetapi tanpa  adanya  dukungan   jaringan     komunikasi dan kemitraan yang efektif dengan pemangku kepentingan terkait,  maka penerapan  kurikulum akan kurang optimal,  bahkan bisa jadi akan ditemukan  kendala-kendala. Penting adanya dukungan jaringan komunikasi dan kemitraan yang dilakukan   akan semakin  memperkuat pelaksanaan Kurikulum Merdeka melalui sinergi,  kolaborasi, gotong royong, saling berbagi inspirasi dan mendukung terwujudnya pembelajaran berkmakna bagi peserta didik

Kesimpulan   

Penguatan  pendidik melalui program pengembangan sesuai kebutuhan, secara konsisten dan terus menerus  perlu dilaksanakan, demi peningkatan mutu pendidikan  di Indonesia. Adanya jaringan komunikasi dan kemitraan yang terbentuk melalui  peran komite sekolah, organisasi profesi, dunia industri, perguruan tinggi, sentra seni-budaya dan praktisi serta masyarakat dioptimalkan fungsinya,  bahkan terus  dikembangkan  untuk mendorong terwujudnya merdeka belajar

Para  pendidik  harus terus  belajar dan mampu  menguasai teknologi digital,  agar mampu menjawab tuntutan dan  perkembangan  zaman,  serta  berani meninggalkan zona nyaman. Bahwa untuk mewujudkan Kurikulum Merdeka hendaknya semua pihak harus saling berkolaborasi, bersinergi dan  ikut mendukung berbagai upaya yang ditempuh pemerintah demi kemajuan Pendidikan anak-anak bangsa hari ini, esok dan masa mendatang.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *