OPINI: Bergaya dalam Berkomunikasi Bermedia

Prof. Dra. Hj. Isnawijayani, MSi, Ph.D.
Direktur Program Pascasarjana Universitas Bina Darma Palembang
Kita hidup pasti berkomunikasi. Karena berkomunikasi, orang dapat meningkatkan ilmu pengetahuannya.Dalam proses komunikasi, manusia selain sebagai sumber, juga sebagai komponen penyampai, juga sekaligpenerima pesan, diperlukan alat, atau media atau saluran. Saluran personal dapat berupa telepon, surat, sms, internet , dan sebagainya. Jika yang akan diajak berkomunikasi banyak dan tersebar ke tempat yang jauh dan berbeda tempatnya maka digunakan media massa seperti suratkabar, radio, televisi, film. Inilah yang disebut komunikasi massa. Komunikasi massa, karena berhubungan dengan orang yang lebih banyak, maka harus menggunakan suatu alat, menggunakan media. Media komunikasi massa, dapat merupakan pengeras suara untuk berpidato di lapangan, bisa berupa radio, televisi dan dengan surat kabar. Kesemuanya itu tentu dengan karakteristik masing-masing.
Sekarang setelah reformasi dan perkembangan teknologi semuanya berubah. New media atau media baru melahirkan kemerdekaan berkomunikasi, dengan mudah orang mengakses apa saja Kemajuan teknologi membuat masyarakat di berbagai belahan dunia dapat mengakses informasi dengan sangat cepat dan mudah. Bahkan pepatah lama yang mengatakan dunia tak selebar daun kelor, kenyataannya kini duniamemang hanya selebar daun kelor. Sekarang, kita dapat merasakan dan melihat semua orang dapat mengakses informasi melalui berbagai ponsel canggih, dan juga tablet yang dapat dibawa kapanpun dan dimanapun. Kemajuan teknologi juga dirasakan oleh masyarakat Indonesia, masyarakat tidak hanya mengakses informasi namun juga dapat berbagi informasi melalui sosial media. Dan berlaku juga bahwa informasi mudah didapat dimana saja kapan saja dan oleh siapa saja. Disisi lain kita juga dapat mengekspresikan diri dengan mudah. Indonesia termasuk salah satu negara yang penduduknya gemar bersosial media, salah satu contoh yang paling banyak digunakan adalah facebook. Namun seiring perkembangan zaman makin banyak sosial media yang bisa diakses dengan hanya mengklik aplikasinya pada layar ponsel, antara lain twitter, path, instagram dan masih banyak yang lainnya.
Perilaku manusiapun berubah, sekarang jarang orang yang tidak membawa handphone (hp), dan dalam kegiatan sehari-harinya berteman dengan Hp. Kemerdekaan berkomunikasi berbicara kepada siapa saja, untuk urusan apa saja mudah dilakukan. Kemerdekaan ini menjadikan kita bebas menentukan diri kita mau jadi apa. Jadi Artis, penyanyi, pemodel, penyiar, pewarta atau citizen journalism, pendidik, politikus, pengusaha semuanya dapat dilakukan. Semua merdeka menentukan untuk jadi apa nantinya. Kalau Hp tertinggal serasa mati gaya tak tau apa yang harus dilakukan, hidup menjadi galau.
Bahkan semua pengetahuan dan ilmu dalam bidang apa saja dengan mudah didapatkan. Kalau seseorang rajin belajar tentang sesuatu dari internet, maka ilmunya dapat sejajar dengan seorang professor sekalipun. Tetapi jika malas belajar membaca maka dia akan terbelakang dan tertinggal jauh. Karena perubahan terjadi sangat cepat difusi kapabilitas secara meluas dan cepat, muncul keperluan keseimbangan sumberdaya, lahir para pesaing global baru (world class players), terjadi eningkatan interdependensi di antara pasar lokal, nasional dan global. Karenanya dapat menghilangnya batas-batas pasar “nasional”, Kemunculan pasar non-tradisional, Regionalisasi perdagangan dan Homogenisasi segmen pelanggan.
Inovasi teknologi terjadi semakin cepat. Berbagai teknologi baru seperti, internet, video conferencing, networks, global paging, informasi dan analisis instan memunculkan dunia kegiatan bisnis yang benar-benar baru. Teknologi telah membuat dunia menjadi lebih kecil, lebih dekat dan “berputar lebih cepat”. Tantangan nyata manajemen adalah aplikasi teknologi secara efektif dan kreatif yang menambah nilai, bukan sekedar akuisisi teknologi, sudah masuk era digital discruption.
Semuanya dikaitkan dengan bisnis, dan semua menggunakan aplikasi modern. Dulu yang dipercaya sebagai kekuatan mistik, sekarang menjadi produk teknologi. Dulu pakai jimat agar sehat sekarang memakai kalung gelang dan cicncin yang fashionable produk teknologi. Lihat saja siaran-siaran di televise dan media online yang menawarkan barang-barang seperti itu. Kita belanja tidak harus ketoko yang harus melalui jalan-jalan yang jauh dan macet. Tinggal duduk manis dan membuka online program, barang segera hadir dirumah.
Sisi negative dari bebasnya berkomunikasi dengan media banyak sekali Misalnya lahir terorisme, peredaran narkoba, membobol bank, penipuan, rayuan gombal, pemerkosaan, perundungan, dan pembunuhan yang dapat dilakukan atas arahan menggunakan teknologi komunikasi. Disisi lain juga membawa hal yang negatif terutama bagi perkembangan anak dan remaja, serta orang dewasa. Dengan kata lain membawa pengaruh yang besar dalam kehidupan masyarakat. Dalam kampanye politik ramai saling menjatuhkan. Disinilah diperlukan media literacy atau melek media sehingga masyarakat mengetahui apa media itu. Media menyajikan melalui proses yang panjang. Apa yang ditampilkan bukanlah 100 persen yang sebenarnya. Muatan politik, ekonomi, budaya, dan sebagainya mudah disisipkan. Maka diperlukan pengetahuan untuk memahami media. Kita tidak dapat menghindari kemajuan dan kecanggihan media tetapi harus dapat memenfaatkan media sehingga kita dapat bergaya dalam berkomunikasi menggunakan media komunikasi.
Masyarakat telah tenggelam dalam dunia yang dipenuhi oleh media. Dalam Media Now (2009) kehadiran teknologi media menjadikan konvergensi (titik temu) teknologi media, telekomunikasi, dan komputer. Teknologi mempengaruhi gaya hidup masyarakat. Yang tadinya orang membaca suratkabar, kini beralih ke media online yang lebih murah dan media ini mudah diakses bahkan dapat dibaca lewat hand phone. Dengan demikian, jika on the spot, apa yang ditampilkan adalah 100 persen yang sebenarnya. Literasi Media (Chang, Sup, 2001: 424) yaitu : Kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan mengkomunikasikan pesan (National Leadership Conference on Media Literacy, 1992). Pengetahuan tentang bagaimana fungsi media bagi masyarakat (Paul Messaris, 1990). Media Literacy atau melek media (Rachmiatie, 2009:64) adalah suatu istilah yang digunakan sebagai jawaban atas maraknya pandangan masyarakat tentang pengaruh dan dampak yang timbul akibat isi (content) media massa yang cenderung negatif dan tidak diharapkan. Khalayak perlu diberi kemampuan, pengetahuan, kesadaran, dan ketrampilan secara khusus.
Bahkan di media social dari facebooker ada himbauan yang berbunyi……Kawan-kawan yang baik…. Mohon tidak menyebarkan gambar-gambar korban dalam tragedi yang terjadi hari ini maupun dimana dan kapanpun. Mari berempati kepada keluarga korban . Lindungi anak-anak kita dari informasi yang sarat kekerasan. Please…. Bisa jadi gambar-gambar yang teman-teman unggah jurtru menjadi suntikan dan tambahan semangat bagi pelaku untuk melakukan tindakan yang lebih brutal. Mari menimbang dengan jernih.
Media memiliki kekuatan yang besar, sehingga mampu mengarahkan dan membentuk persepsi masyarakat. Kita patut bangga karena ada kerjasama yang baik dan kesadaran untuk mendidik dan mengarahkan dan menenangkan masyarakat melalui media. (*)



