Pemilik Sabu 1/2 Kilo Divonis PT Palembang “Gangguan Jiwa dan Tidak Dapat Ditahan” Padahal ketika di PN Dinyatakan Waras

PALEMBANG, MEDIASRIWIJAYA – Terkait Keputusan Pengadilan Tinggi (PT) Palembang, yang menyatakan pemilik narkoba jenis sabu dengan berat 500 gram atau 1/2 kilogram, dengan vonis Ganguan Jiwa dan tidak dapat ditahan, dimana sebelumnya pada pemeriksaan di Kepolisian dan Sidang di PN Palembang, Terdakwa Juperlius dalam keadaan sehat. Hal ini akhirnya berujung demontrasi dari beberapa kalangan di Kejati Sumsel dan Pengadilan Tinggi Palembang, Jumat (20/1).

Kali ini pendemo datang dari Alian Masyarakat Sriwijaya Corruption Wacth (SCW) dan Masyarakat Miskin Kota (MMK) Sumsel yang dikoordinator aksi oleh Arifin Kalender dan M Sanusi. Dengan membawa spanduk salah satunya bertuliskan ‘BAP Sehat dan Waras Masuk Pengadilan Tinggi Jadi Gangguan Jiwa’.

Rombongan pertama kali mendatangi kantor Kejati Sumsel yang berada di kawasan Jakabaring Palembang, dan lokasi ke dua massa mendatangi Gedung Pengadilan Tinggi Palembang di kawasan Jalan Jend Sudirman Palembang.

Massa aksi, menilai jika Keputusan Pengadilan Tinggi Pembantu Nomor : 244/PID/2022/ PT PLG, yang menyatakan terdakwa Juperlius oknum ASN ini tidak dapat dipidana karena mengalamai gangguan jiwa dan menetapkan agar terdakwa dirawat di rumah sakit jiwa. Hal ini dinilai cacat hukum.

Sebelumnya, dalam putusan Pengadilan Negeri Palembang ketiga terdakwa dinyatakan sehat dan waras. Untuk terdakwa Juperlius divonis 13 tahun penjara dengan denda Rp 1.5 miliar. Bersama dua rekannya oknum polisi. Ketiganya melakukan Banding ke Pengadilan Tinggi Palembang dengan vonis, kedua rekannya divonis 9 tahun sedangkan Terdakwa Juperlius divonis gangguan jiwa dan tidak ditahan.

Atas keputusan itu, pihak Kejati Sumsel melalui M Radyan SH, MH selaku Kasi Penkum Kejati Sumsel, atas keputusan Pengadilan Tinggi yang dinilai cacat hukum pihaknya melayangkan Kasasi di Mahkamah Agung RI. “Proses penanganan kasus narkotika dengan terdakwa berinisial J, Si J ini terbukti sebagai penjual narkotika dan dihukum 12 tahun. Si J ini melakukan upaya banding dimana oleh Pengadilan Tinggi Palembang menyatakan terdakwa J ini sakit jiwa,” ungkap Radyan.

Masih dikatakan Radyan, upaya hukum kasasi dimana mereka  menilai ada syarat- syarat dari sebuah keputusan yang tidak tercantum dalam keputusan itu. “Terdakwa melalui kuasa hukumnya meminta kepada jaksa untuk tidak menyatakan kasasi. Namun, jaksa tetap pada pendiriannya, karena jaksa menilai keputusan Pengadilan Tinggi ini ada ‘cacat hukum’. sehingga kami meminta Mahkamah Agung melalui upaya hukum kasasi agar Keputusan Pengadilan Tinggi Palembang ‘Dibatalkan demi hukum. Kami menilai Hakim Pengadilan Tinggi tidak menerapkan hukum semestinya atau salah dalam menerapkan hukum, kasasi sudah kami layangkan,” jelasnya.

Sebaliknya, pihak Pengadilan Tinggi Palembang, disampaikan langsung oleh Ketua Pengadilan Tinggi Palembang. Dr Moh Eka Kartika EM, SH MHum mengatakan jika apa yang telah diputuskan oleh Hakim Pengadilan Tinggi Palembang sudah sesuai aturan dan terdakwa Juperlius pernah dirawat di Rumah Sakit Jiwa. Atas upaya hukum kasasi di Mahkamah Agung pihaknya menyerahkan semua keputusan di Mahkamah Agung. “Intinya saja. Saya sudah memanggil Ketua Majelisnya, perkara inikan Kasasi. Ketua Majelis menjelaskan kepada saya ada keterangan dari Rumah Sakit Jiwa bahwa dia gangguan jiwa. Sesuai hukum orang dengan gangguan jiwa tidak bisa dituntut, gangguan jiwa ini suatu saat bisa sembuh bisa gila. Karena perkara ini sudah diserahkan, maka kita serahkan ke Mahkamah Agung. Tapi saya apresiasi dan setuju saudara yang datang ke sini, berarti saudara masih percaya kepada Pengadilan Tinggi Palembang ini, ke depan tidak akan ada lagi keterangan gila- gila gitu, kalau tidak ada keterangan resmi dari dokter jiwa ini yang akan Anda uji,” ujar Eka.

Atas pendapat kedua belah pihak Kejati Sumsel dan Pengadilan Tinggi Palembang, Arifin Kalender koordinator aksi dari MMK Sumsel, menyikapi Keputusan Pengadilan Tinggi Palembang Nomor : 244/PID/2022/PT PLG. Massa menyikapi Keputusan Pengadilan Tinggi Palembang, ada seorang terdakwa dinyatakan sakit jiwa. “Di sini kita mempertanyakan sebab BAP awal di Kepolisian dan Pengadilan Negeri dinyatakan sehat dan waras, sempat menjalani hukuman lalu melakukan upaya banding di PT salah satu terdakwa dinyatakan gangguan jiwa. Di sini kami mempertanyakan saja dari mana mereka menyatakan orang ini gangguan jiwa. Kita takutnya ke depan ketika orang- orang yang mengajukan banding dikatakan gangguan jiwa semua, ini yang kita takutkan. Ke depannya kasus ini akan kita kawal sampai ke Jakarta dalam upaya Kasasi ke Mahkamah Agung, dan kita harus menghormati keputusan Mahkamah Agung nantinya,”jelasnya. (Ly)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *