Wisata Alam Kebun Buah di PALI, Rp 25 Ribu Bisa Petik Sendiri 

Wisata Alam Kebun Buah di PALI, Rp 25 Ribu Bisa Petik Sendiri 
Teks foto mediasriwijaya.com/ayu kuta sari . Kebun kelengkeng milik Samsuar

Makan Sepuasnya di Kebun Buah Kelengkeng, Jeruk dan Durian.

PALI, MEDIASRIWIJAYA.Com --Samsuar Teguh (69) dan istrinya Sutina (60) pemilik sekaligus juga pengelola kebun buah kelengkeng, perkebunan ini sangat mudah dijangkau pengunjung yang mau datang ke kebun Kelengkeng tersebut. Kebun yang terletak di wilayah Kabupaten PALI ini tepatnya di Kaliman Calak, Kecamatan Talang Ubi. 

Wartawan Media Sriwijaya yang datang langsung ke lokasi, Minggu (5/5) menyaksikan di kebun yang luasnya lebih dari 8 hektar tersebut tidak hanya ada buah kelengkeng saja ada juga buah jeruk, durian lokal dan durian montong atau biasa disebut durian Bangkok dan awalnya perkebunan ini tidak sekaligus karena terkendala bibit. 

"Dulu lengkeng ini bibitnya agak susah jadi nanamnya bertahap yang paling tua usianya 10 tahun, terus bertahap bertambah sampai sekarang," jelas Samsuar, pemilik kebun.

mediasriwijaya/ayu kuta sari. - Ny Sutina memperlihatkan lengkeng hasil perkebunannya

Samsuar menjelaskan di kebun yang dia kelola untuk buah duriannya ada 30 batang saja, kemudian untuk, buah Kelengkeng yang sudah besar dan sering dipanen ada 500-600 batang, sedangkan jeruk sekitar 500-600 batang. Samsuar dan istrinya saat ini juga tengah menanam 250 pohon kelengkeng di lahan baru tepat di depan lahan sebelumnya. Menurutnya, panen kebunnya tidak bergantung musim untuk buah kelengkeng tersebut.

 "Sebelumnya itu kebun karet tapi karena tahu sendiri kan saat ini harga karet tidak bagus jadi kami beralih tanam buah kelengkeng saja lagi, lahan baru itu ada sekitar 2 hektar dan usia kelengkengnya pun sudah 2 bulan, nanti pakai sistem pembuahan jadi tidak tergantung musim." tambahnya.

mediasriwijaya/ayu kuta sari - Samsuar dan istrinya

Pengelolaan kebun buah ini Samsuar lakukan sendiri, tapi kalau buahnya sedang berlimpah dan kewalahan Samsuar gunakan tenaga pekerja buruh harian untuk membantunya."Karena buah di kebun ini masih menggunakan proses alam pembuahannya, jadi buah berlimpah hanya saat musim buah saja, kita juga mengunakan pupuk kandang seperti kotoran hewan," paparnya.

"Untuk omset dari perkebunan ini cukup untuk makan kita dan dan buat jajan anak cucu, karena kita tidak menghitung keseluruhan omset yang kita dapatkan, sebab kita kan banyak teman dan anak-anak kita juga, jadi kalo keuntungan saat ini tidak terlalu dihitung," jelasnya.

Kalau untuk wisatawan yang datang dikenakan biaya masuknya RP 25 Ribu per orang tidak terbatas usia, dan itu silakan makan sepuasnya di kebun petik sendiri. "Tapi untuk mereka bawa pulang harus ditimbang per kilo dihargai Rp 25 ribu per kilogramnya, bisa dari hasil yang mereka petik sendiri atau dari yang dikumpulkan pengelola kebun. 

Menurut Samsuar tempat ini sudah lama dibuka untuk umum, sudah dari 7 tahun yang lalu, dijadikan sebagai tempat wisata, bahkan Samsuar dan istrinya tinggal di sini sudah hampir 10 tahun sejak 1 Mei 2009. Diakuinya, dulu 
tidak terlalu ramai karena belum ada pemberitaan dan orang yang datang biasanya dapat info dari mulut ke mulut. "Belakangan beberapa bulan lalu sempat datang dari media TV dan memberitakan kebun ini jadi saat musim buah sekarang lebih ramai dari biasanya bahkan orang yang datang ke sini bisa dari jauh atau luar kota bukan hanya dari kawasan PALI, apalagi saat musim buah, semua buah di sini sedang berbuah atau istilahnya musim buah agung," ujar Samsuar.

Samsuar juga menjelaskan saat ini di perkebunannya hanya ada buah jeruk, karena untuk jenis buah jeruk sepanjang tahun buahnya tidak pernah putus, sedangkan untuk buah kelengkeng dan durian hanya berbuah saat musim agung.

 Harapan Samsuar perkebunannya ini bisa mendapatkan dukungan untuk pengembangan perkebunannya dari pemerintah kabupaten PALI. "Karena kan kalo mau bergantung dari tanaman buah saja nanti orang-orang yang datang kan bosan, jadi kita pengen membuat wahana permainan untuk menarik lebih banyak wisatawan yang datang," ujarnya.

Ditambahkan istri Samsuar, Sutina bahwa beberapa bulan lalu perkebunan mereka sempat disambangi oleh Dinas Pariwisata PALI saat musim buah agung, dan mereka menyatakan siap membantu untuk pengembangan usaha perkebunan milik keluarga Samsuar ini. "Meskipun saat ini belum ada tindak lanjut dari dinas pariwisata" ujar Sutina. (ayu kuta sari)