Ujicoba Biodiesel 100 Persen Traktor dan Mobil Bermesin Diesel

Ujicoba Biodiesel 100 Persen Traktor dan Mobil Bermesin Diesel
TEKS FOTO - Kementan Uji Coba Biodiesel 100 Persen pada Traktor Menteri Pertanian Amran Sulaiman saat uji coba penggunaan biodiesel 100 persen pada traktor di kantornya Senin (15/4). 

JAKARTA, MS - Kementerian Pertanian (Kementan) menggelar uji jalan penggunaan biodiesel 100 persen (B100) terhadap 50 mobil dan traktor bermesin diesel. Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengungkapkan uji coba penggunaan biodiesel bagi Kementerian Pertanian sebenarnya bukan hal baru. Demikian dilansir dari laman cnnindonesia.com.

Sejak tiga tahun lalu, Kementan telah menguji coba penggunaan biodiesel pada lima mobil dengan jarak tempuh 6 ribu kilometer (km). Berdasarkan hasil uji coba awal, Amran mengklaim tidak ada gangguan terhadap mesin. 

Dalam uji coba sebelumnya, tim juga tidak melakukan penyesuaian mesin. Selain ramah lingkungan, penggunaan biodiesel juga diklaim lebih hemat dibandingkan solar. "Dari uji coba 6 ribu km, 1 liter biodiesel bisa menempuh 13,1 km sedangkan 1 liter solar 9,6 km," ujar Amran dalam acara peluncuran di kantornya, Senin (15/4).

Secara nominal, lanjut Amran, biaya yang dikeluarkan B100 hanya Rp732 per km. Biaya tersebut dibuat dengan asumsi harga biodiesel  Rp8.400 per liter.

Harga tersebut jauh jika dibandingkan dengan solar. Pasalnya kalau menggunakan bahan bakar tersebut dengan asumsi harga Rp9.600 per liter total biaya bahan bakar mencapai Rp1.000 per km. "Artinya, penggunaan B100 bisa menghemat 25 hingga 30 persen dibandingkan solar," ujarnya.

Amran mengungkapkan uji coba akan dilakukan selama satu sampai dua tahun. Jika tidak ada masalah maka penggunaan B100 akan dikomersialkan. 

Adapun produksi B100 saat ini masih terbatas oleh Kementan. Jika berhasil diimplementasikan, Amran menyebut Indonesia dapat menghemat devisa dari substitusi impor solar. Secara politis, penggunaan B100 juga bisa menjadi senjata untuk melawan diskriminasi Uni Eropa terhadap produk CPO. Pasalnya, jika permintaan Uni Eropa turun, Indonesia akan menyerap sendiri produksi CPO domestik. "Mungkin ekspor CPO kami kurangi. Kami lihat negara mana yang bersahabat, negara yang agak resek akan kami kurangi (ekspor) duluan," ujarnya. (net)