Sunah Rasulullah SAW Menyambut Kelahiran Buah Hati

Sunah Rasulullah SAW Menyambut Kelahiran Buah Hati
Rasulullah SAW memberikan tuntunan khusus menyambut kelahiran buah hati.(Foto ist)

JAKARTA, MEDIASRIWIJAYA.com – Adab merupakan hal yang tak lepas dari ajaran agama. Pentingnya adab sangat diperlukan dalam laku sikap, dalam aspek apapun. Salah satunya adalah ketika menyambut kelahiran anak, lantas bagaimana menyambut kelahiran anak berdasarkan adab Islam? 

Hal pertama yang perlu dilakukan adalah berdoa. Adapun doa dilantunkan guna bersyukur atas keberkahan rezeki berupa anak. Doa juga merupakan hal sederhana nan baik yang perlu dilakukan. Salah satu doa menyambut kelahiran anak adalah sebagai berikut: 

بَارَكَ اللهُ لَكَ فِي المَوهُوبِ لَكَ , وَشَكَرْتَ الوَاهِبَ , وَبَلَغَ أَشُدَّهُ , وَرُزِقْتَ بِرَّهُ

"Barakallah fii al mauhubi laka, wa syakarta al-wahiba, wa balagha asyuddahu, wa ruziqta birrahu."  

Yang artinya: "semoga Allah memberkahi anak yang dianugerahkan kepadamu, semoga kamu bisa mensyukuri Sang Pemberi (Allah), semoga cepat besar dan dewasa, dan engkau mendapatkan baktinya si anak,". 

Adab selanjutnya adalah mengazani tepat di telinga kanan dan iqamat di telinga kiri anak. Pemberian azan dan iqamat ketika anak baru lahir ini guna memperkenalkan anak akan kalimat yang pertama kali didengar, yakni kalimat kebaikan. Kalimat kebaikan ini juga bisa menjaga sang bayi dari segala gangguan setan yang terkutuk.

Menahnik bayi dengan kurma dan mendoakan keberkahan atasnya juga dianjurkan oleh Rasulullah. Tahnik sendiri merupakan aktivitas memasukkan kunyahan atau lumatan buah kurma ke dalam mulut bayi yang baru lahir dan menggosokkannya dengan lembut di langit-langit mulut bayi sampai seluruh bagian dari mulut bayi tersebut terolesi dengan sari buah kurma. 

Adapun kurma sendiri adalah penghasil glukosa yang sangat baik dan bagus untuk kesehatan bayi. Hal ini juga sebagaimana diamini dunia medis. 

Mentahnik bayi dengan kurma dapat memperkuat otot-otot mulut bayi sehingga bayi akan kuat menyusu pada ibunya. Dan ketika bayi kuat menyusu, maka diharapkan air susu ibunya akan menjadi lancar dan berlimpah.

Selanjutnya adalah memberi nama yang baik untuk sang anak. Nama adalah doa, karena hakikat nama kepada anak adalah agar dia dikenal dan memuliakannya. 

Islam menganjurkan agar tidak salah dalam memberikan nama pada anak-anaknya. Karena sedikit banyak nama tersebut akan memperngaruhi kehidupan sang anak di kemudian hari.

Adab lainnya adalah mencukur rambut anak. Dalam kitab al-Istidzkar karya Ibnu Abdi al-Barr disebutkan bahwa maksud mencukur rambut bayi yang baru lahir dapat didamakan sebagai aktivitas membuang kotoran dari bayi. 

Penyukuran rambut sang anak dilakukan setelah pelaksanaan aqiqah. Hal tersebut berdasarkan hadis dari Samurah RA,Rasulullah SAW bersabda: 

الْغُلَامُ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيقَتِهِ يُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ السَّابِعِ وَيُسَمَّى وَيُحْلَقُ رَأْسُهُ

"Al-ghulamu murtahanun biaqiqatihi yudzbahu anhu yauma as-sabi'i wa yusamma wa yuhlaqu ra'suhu,". Yang artinya: "setiap anak tergadai dengan aqiqahnya, disembelih di hari ketujuh, diberi nama, dan dicukur kepalanya,". (https://khazanah.republika.co.id/)