"Setue" Itu kini Kehilangan Tempat

Hutan Adat Desa Tebat Benawa.(foto ist)

Oleh Nila Ertina

SAMPAI akhir tahun 90-an mitos "Setue atau ninek gunong mandika anak" harimau memandikan anak, masih banyak menjadi perbincangan masyarakat di Kota Pagaralam yang berada di kaki Gunung Dempo, berjarak sekitar 282 kilometer dari Kota Palembang ibukota Sumatera Selatan.

Ketika terjadi hujan padahal matahari sedang bersinar terik biasa disebut hujan panas atau hujan zenithal, banyak mitos yang dikait-kaitan masyarakat, salah satunya warga di kawasan Lembah Gunung Dempo. Hujan panas waktunya, "setue" memandikan anak.

Anak-anak biasanya akan memandang ke arah Gunung Dempo ketika hujan panas, tentunya tanpa terkena hujan karena melihat dari beranda rumah atau menggunakan payung. Banyak yang mengaku melihat sosok yang sedang beraktivitas di perbatasan Gunung Dempo dengan perkebunan teh yang luasnya mencapai 1.800 hektare milik PT Perkebunan Nusantara VII, dari kejauhan atau sekitar belasan kilometer orang-orang Besemah menyebutnya "ninek gunong" sedang memandikan anak.

Karenanya, setiap kali hujan panas, orang tua dimasa itu akan melarang anaknya main hujan dengan ancaman ninek gunong sedang memandikan anak nanti sakit. Iyaa..... itu hanya mitos yang tentu sangat sulit untuk memastikan kebenarannya, tetapi penjelasan ilmiah kenapa tidak boleh mandi hujan panas tentu bisa dilakukan pembenaran berbagai alibi yang kontradiksi dengan mitos tersebut.

Kini, mitos tersebut mulai dilupakan bahkan generasi milenial Kota Pagaralam pun tidak tahu kalau ada cerita "setue" memandikan anaknya ketika hujan zenithal. Bisa jadi, hilangnya mitos itu karena memang wilayah jelajah Harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumatrae) sudah dikuasai manusia.

Ikon pariwisata Kota Pagaralam, Tugu Rimau berada 1.820 mdpl merupakan objek wisata kekinian yang ramai dikunjungi wisatawan. Berada di area wisata tersebut, bagi sebagian orang tentunya merasa seakan berada di sejumlah destinasi andalan wisata di pulau Jawa maupun daerah lainnya.

Di lokasi yang berbatasan langsung dengan hutan lindung itu, berdasarkan data BKSDA Sumatera Selatan luasan hutan lindung Gunung Dempo mencapai 28.740 hektare, kini menjadi lokasi favorit wisatawan lokal berkunjung untuk berswafoto menikmati keindahan dengan memandang lanskap alam kota dengan luas wilayah mencapai 633,66 km².

Pengelola juga menawarkan wahana, seperti kereta terbang dan pintu ke langit. Bahkan, pertengahan tahun 2019, Walikota Pagaralam, Alpian Maskoni menyebutkan telah menemui investor untuk membangun kereta gantung dengan lokasi dari venue Paralayang menuju Tugu Rimau.

Sebelumnya, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumsel, melalui Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Lahat Martialis Puspito menjelaskan area wisata Tugu Rimau merupakan salah satu lokasi perlintasan harimau, sehingga idealnya kawasan tersebut tidak diganggu aktivitas lain.

Karena itu, ketika terjadi penyerangan harimau kepada salah seorang wisatawan yang berkemah di lokasi tersebut, pertengahan November 2019 menjadi bukti awal kalau satwa liar di lokasi tersebut merasa sangat terganggu.

Penataan ulang kawasan objek wisata Tugu Rimau dengan mengembalikan ke fungsi awal, menjadi salah satu solusi memberikan kenyamanan pada binatang buas, yang dipastikan bukan hanya harimau  tetapi juga merupakan habitat beruang, dan beragam jenis hewan yang nyaris punah sehingga termasuk dalam fauna dilindungi.

Disebutkan Harimau di Gunung Dempo berasal dari kantong Bukit Dingin seluas 63.000 hektare yang terbentang dari Kabupaten Lahat, Kota Pagaralam, hingga Kabupaten Empatlawang.

Upaya melestarikan adat menjaga keharmonisan alam dengan manusia, sebenarnya terus dijaga masyarakat di kota yang juga menjadi sentra kopi robusta tersebut, Ketua Adat Desa Tebat Benawa Kelurahan Penjalang Kecamata Dempo Selata, Budiono menjelaskan sebagai warga yang pemukimannya berdampingan dengan hutan adat dan hutan lindung, pihaknya  terus berupaya mempertahankan keaslian hutan sebagai upaya menjaga flora fauna yang tumbuh dan berkembang di area tersebut.

Hutan adat Mudek Ayek Desa Tebat Benawa, yang berdampingan dengan  Hutan Lindung Raje Mandare merupakan salah satu habitat harimau di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) masuk wilayah Sumatera Selatan dan Bengkulu.

Luas lahan hutan adat mencapai 335 hektare, yang bukan hanya menjadi habitat Harimau Sumatera, tetapi juga rumah bagi tapir, trenggiling dan satwa langka lainnya. Juga hidup pohon-pohon langka, seperti meranti, rotan dan beragam jenis angrek.

Selama ini, hutan tersebut merupakan penyokong bagi tiga mata air bagi warga yang bermukim di dataran Besemah yaitu Ayek Ringkeh, Ayek Puding dan Ayek Besemah, dikutip dari mongabay.

Kondisi hutan lindung yang mengalami kerusakan, disinyalir mencapai ratusan hektare menjadi salah satu pemicu hilangnya rumah bagi satwa yang dilindungi. Sebagian besar pembalakan liar, dilakukan pendatang dari Kabupaten Lahat dan Muaraenim, yang berkebun kopi di kawasan Hutan Lindung Raje Mandare.

Warga Desa Tebat Benawa, mengaku tidak memiliki kuasa untuk menjaga hutan lindung karena teritori hutan adat desa lah yang menjadi fokus penjagaan mereka.

Konflik harimau dengan manusia di Sumatera Selatan menyebabkan korban luka-luka bahkan hingga tewas mulai dari wisatawan yang berkemah di kawasan Tugu Rimau yang luka, petani di kawasan Tanjungsakti, Kuswanto (57) yang tewas saat beraktivitas di kawasan hutan, kemudian Marta Rolani (24) yang diserang harimau sehingga mengalami luka di paha. Selanjutnya, warga Kabupaten Lahat yang berkebun di kawasan hutan Desa Tebat Benawa, Yudiansah Harianto (40), ditemukan dalam kondisi memprihatinkan tewas dengan hanya tersisa tulang belulang saja di kebun kopi yang digarapnya.

Kemudiam petani yang berkebun di kawasan Hutan Seribu Kecamatan Kota Agung Kabupaten Lahat, Mustadi (50) pada Kamis (12/12/2019) juga ditemukan tewas.Bergeser ke Kabupaten Muaraenim, seorang ibu muda yang sedang mandi, tidak jauh dari pemukiman penduduk, bernama Sulistiawati (30) warga Dusun V, Desa Padang Bindu, Kecamatan Panang Enim, Kabupaten Muaraenim, Sabtu (28/12/2019) juga ditemukan tewas akibat diserang harimau.

Ayo Jaga Hutan

Terkait dengan maraknya, serangan harimau terhadap manusia sejak akhir tahun 2019, tentunya menjadi bukti kalau masalah ketidakseimbangan alam telah terjadi. Karenanya, satwa liar, seperti harimau yang tergolong bukan hewan yang agrsif terhadap manusia menyerang akibat  habitatnya diganggu.

Direktur Eksekutif  Wahana Lingkungan Hidup Indonesia  (Walhi) Sumsel, Hairul Sobri mengatakan eksploitasi di wilayah Kabupaten Lahat, Kabupaten Muara Enim juga Kota Pagaralam yang dilakukan oleh perusahaan tambang batu bara,  dan perusahaan-perusahaan lainnya di lokasi hutan lindung menjadi penyebab hilangnya rumah bagi habitat binatang buas.

Eksploitasi hutan tersebut, menyebabkan kerusakan parah di sejumlah kawasan hutan Bukit Barisan. Akibatnya,  bukan hanya binatang buas yang terganggu, namun juga terjadi longsor dan banjir akibat hutan dibabat habis.

Seluas-luasnya hutan yang dirambah masyarakat, tentu luasan areanya tidak akan lebih signifikan berpengaruh pada keseimbangan alam dibandingkan dengan industri pertambangan. Apalagi, warga dalam hal ini yang bertani masih mementingkan kearifan lokal, dengan menanami kembali lahan yang mereka pakai, untuk petanian, sebut dia.

Bukan hanya industri pertambangan, tetapi perkebunan dan  eksploitasi panas bumi menjadi penyebab utama habitat satwa liar terdesak, akibat berkurang bahkan hilangnya rumah mereka.

Dia menjelaskan, masifnya permukaan lahan tambang dan perkebunan di Kabupaten Lahat, telah terjadi sejak 2010. Begitu juga dengan pembukaan tambang di Kabupaten Muaraenim dan Empatlawang.

Aktivitas penambangan dan perluasan perkebunan tersebut menjadi penyebab utama terdesaknya habitat binatang buas, dimana ekosistem alam mengalami kerusakan yang jika tidak segera disadari maka akan menghabiskan sumber daya alam.

BKSDA menyebutkan penyebaran Harimau Sumatera di Pulau Andalas ini, terdeteksi ada 27 kantong dengan jumlah 400 ekor harimau.

Khusus di Sumatera Selatan, terdapat delapan kantong harimau, dengan dihuni sebanyak 15 ekor harimau, dan sebaran kantongnya meliputi kawasan hutan lindung di Kota Pagaralam, Lahat, Muaraenim dan OKU Selatan.

Menjaga kelestarian alam, khususnya menjaga hutan lindung menjadi langkah tepat untuk tetap mempertahankan satwa dan tanaman langka pada setiap hutan lindung.

Pemerintah hendaknya, lebih peka dan tegas untuk membatasi eksploitasi hutan yang menjadi kekayaan alam Indonesia dengan menerbitkan regulasi pro kelestarian hutan dan mengutamakan kepentingan rakyat adalah satu keharusan bagi bangsa ini, agar bisa terus menikmati karunia yang luar biasa dari sang pencipta.