Sabu 5,8 Kilo Berhasil Digagalkan Ditresnarkoba Polda Sumsel

Sabu 5,8 Kilo Berhasil Digagalkan Ditresnarkoba Polda Sumsel
foto:mediasriwijaya.com/lily

Jaringan Bandung dan Kendari

PALEMBANG, MEDIASRIWIJAYA. COM - Direktorat Reserse Narkoba (Ditresnarkoba) Polda Sumsel, berhasil gagalkan pengiriman narkotika jenis sabu, bahkan kepolisian Polda Sumatera Selatan (Sumsel), berhasil mengamankan 7 dari 8 tersangka jaringan Bandung Jawa Barat ini beserta narkotika jenis sabu sebanyak 5,8 Kilogram, Kamis (21/2). 

Adapun 7 dari 8, tersangka yang berhasil ditangkap Ditresnarkoba Polda Sumsel dan Avsec Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang yaitu tersangka Eka Chandra Hidayatulah (23) warga Desa Cibeber Kecamatan  Cikalong Jawa Barat (Jabar), tersangka Nova Nuryana bin Beben (25) dan Tersangka Asep Erik Mulyana Bin Gunawan (30) Keduanya warga Kampung Cisarua Desa Neglasari Kecamatan Cisompet Kabupaten Garut Jabar, tersangka Derek Enjang Bin Amin Sutarmin (28) warga Komplek Gading Tutuka Residen Blok M-9 Kecamatan Cangkuang Bandung Jabar, tersangka Diki Purnama Bin Rusmana (21) warga Kampung Cisarua Desa Neglasari Kecamatan Cisompet Kabupaten Garut Jabar. Tersangka Riski Bin Jajak (28) warga Jadikan Dago No 16 Jabar. Dan Ribut Haryanti bin Lili Hambali (49) warga Jalan Cikaso No 38 Kota Bandung Jabar.

Dari tangan ke 7 dari 8 tersangka, ini petugas mengamankan narkotika jenis sabu, sebanyak 9 bungkus dengan berat bruto 5,8 Kilogram. 6 unit handphone berbagai merek. 5 buah Kartu Tanda Penduduk (KTP) palsu. 1 buah timbangan digital. Dan 1 buah lembar tiket atas nama Eka Candra.

 "Hari ini kita merilis, pengungkapan jaringan peredaran narkoba, ini di luar dugaan kita rupanya mereka jaringan Kendiri, yang dikoordinator oleh Nova" ungkap Kapolda Sumsel Irjen Pol Zulkarnain, Jumat (22/2).

Masih dijelaskan Kapolda Sunsel, keberhasilan pengungkapan jaringan peredaran narkotika asal Jawa Barat ini berawal jajaran informasi dari Petugas Avsec Bandara Internasional SMB 2 Palembang yang berhasil mengamankan tersangka Eka Candra, pada Kamis (21/2) pukul 11.30 wib, ketika hendak berangkat menumpang pesawat dengan tujuan Kendiri Sulawesi Tenggara, dengan membawa satu paket sabu dengan berat bruto 673 gram.

Petugas langsung melakukan penyelidikan, dari nyanyian tersangka Eka inilah diketahui ada 4 tersangka lagi yang mengunakan kereta api menuju Lampung, mengetahui itu petugas langsung bergerak cepat menangkap 4 tersangka Nova Nuryana, tersangka Asep Erik, tersangka Diki Purnama dan tersangka Deden Enjang, saat berada di Stasiun Kereta Api Kertapati dengan barang bukti 5 bungkus sabu dengan berat bruto 3,206 gram, bahkan pelaku ini sempat membuang barang bukti di toilet laki- laki Bandara Internasional SMB 2 Palembang sebanyak 2,016 gram.

Terakhir dua tersangka, Ribut dan tersangka Riski berhasil diringkus setelah mobil carteran mereka terjaring petugas gabungan Ditresnarkoba Polda Sumsel dan Polres OKI Timur. Di sini petugas tidak menemukan barang bukti.

foto:lily

Sementara  1 tersangka (tersangka ke 8) atas nama Darman alias Away, berhasil lolos dari kejaran Petugas Ditresnarkoba Polda Sumsel, tapi tersangka Darman yang membawa kabur 8 bungkus narkoba diamankan Ditresnarkoba Polda Sulawesi Tenggara. 

"Jadi tersangka ini ada 8 dimana 7 tersangka sudah diamankan, 1 tersangka diamankan di bandara, 4 tersangka di stasiun kereta api, dan 2 tersangka di jalan menuju Lampung, dan kelompok ini tampaknya sudah ada 1 yang lolos ke Kendari dengan membawa 8 paket. "Alhamdulillah sudah ditangkap di sana" ujarnya.


Modus para tersangka menyelundupkan narkoba, dengan menggandakan identitas (KTP) palsu, dan disimpan melalui selangkangan para tersangka. Ternyata ada kesamaan dengan jaringan Surabaya Jawa Timur, Letto cs. 

"Kami lagi pengembangan untuk mengungkap ini, harapan saya ini juga bisa dihukum mati seperti kelompok Letto cs, kita juga akan terapkan TPPU, apa yang mereka miliki akan kita sita karena semuanya hasil kejahatan dari narkoba" jelasnya.

Sementara itu. Tersangka Nova Nuryana, mengakui jika dirinyalah yang mengkoordinir rekan- rekannya, dengan dikendalikan bos besar Teo yang menetap di Australia. "Pengiriman dari Padang dan Lampung jalur udara, mereka ini kawan sekampung dan dua dikenali Teo, tapi kita orang Bandung semua, saya baru satu kali diupah Rp 20 juta, kalau mereka Rp 8 juta, kita tidak punya basecamp, kita hanya dihubungi saja. Adapun yang memerintah saya, Teo dia kayak orang Cina - cina gitu tinggalnya di Australia" ujarnya.(Ly)