Pentingnya Segitiga Pengaman Sebagai Isyarat Kendaraan Mogok

Pentingnya Segitiga Pengaman Sebagai Isyarat Kendaraan Mogok
Ilustrasi Pemasangan Segitiga Pengaman (MEDIASRIWIJAYA.COM/Net)

MEDIASRIWIJAYA.COM – Akhir-akhir ini marak dilakukan razia besar-besaran oleh polisi lalu lintas di seluruh Indonesia. Mulai dari motor, mobil, dan lainnya harus melengkapi perlengkapan saat berkendara termasuk diantaranya SIM dan STNK. Tapi tahukah kamu, ketika kendaraanmu mogok dan tidak memasang isyarat mogok pun akan ditilang?

Pengemudi wajib tahu tentang aturan dasar ketika mobil sedang berhenti di bahu, pinggir jalan raya, atau Tol. Sopir harus memasang segitiga pengaman, demi menjaga keamanan dan keselamatan bersama. Isyarat seperti itu pada umumnya menginformasikan bahwa mobil tersebut sedang dalam kondisi darurat. Misal, mogok, pecah ban, dan lain sebagainya. Pemasangan segitiga pengaman terebut, ditujukan untuk memberi peringatan pada kendaraan yang datang dari arah depan atau dari arah belakang. 

Berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 72 Tahun 1993, tentang Perlengkapan Kendaraan Bermotor, sudah diatur tentang bagaimana cara pemasangan segitiga pengaman tersebut. Di dalam pasal 13 dituliskan, segitiga pengaman seharusnya ditempatkan pada permukaan jalan, di depan dan di belakang kendaraan, dengan jarak sekurang-kurangnya 4 meter dari posisi kendaraan berhenti. 

Kemudian jarak segitiga pengaman, dari samping kendaraan tidak boleh lebih dari 40cm. Jika nekat tidak memasang segitiga pengaman saat mobil berhenti, maka siap-siap dikenakan sanksi. 

Ini seperti yang ada pada undang-undang nomor 22 tahun 2009 pasal 298. Bunyi pasal tersebut, setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor yang tidak memasang segitiga pengaman, lampu isyarat peringatan bahaya, atau isyarat lain pada saat berhenti atau parkir, dalam keadaan darurat di jalan, dipidana kurungan paling lama dua bulan atau denda paling banyak Rp 500.000. 

Wah, lumayan kan dendanya? 

Lalu bagaimana sih kriteria segitiga pengaman yang dimaksud?

Kriteria Segitiga Pengaman Dalam Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 72 Tahun 1993, tentang Perlengkapan Kendaraan Bermotor, juga diatur krteria segitiga yang digunakan untuk memberi isyarat berhenti. Seperti yang terdapat dalam pasal 12 ayat dua segitiga pengaman sebagaimana dimaksud harus memenuhi persyaratan sebagai berikut. 
1. Berupa pelat segitiga sama sisi yang dibuat dari bahan yang tidak mudah berkarat dengan panjang sisi sekurang-kurangnya 0,40m dan tepinya berwarna merah yang lebarnya tidak kurang dari 0,05m dengan bagan dalam berlubang 
2. Warna merah sebagaimana dimaksud dalam huruf a, harus dapat memantulkan cahaya, pada waktu terkena sinar lampu 
3. Pada waktu ditempatkan di atas permukaan jalan, posisinya melintang jalan dengan sudut runcing menghadap ke atas,  dan warna merah menghadap ke arah lalu lintas

 

Ilustrasi Tombol Segitiga Pengaman atau Lampu Hazard (MEDIASRIWIJAYA.COM/Net)

 

Itulah tiga kriteria segitiga pengaman yang harus kita patuhi saat kendaraan mogok. Selain itu juga dapat digunakan Lampu hazard atau biasa disebut dengan lampu tanda darurat adalah mode fungsi lampu eksternal pada mayoritas kendaraan bermotor yang dapat diaktifkan untuk membuat lampu sein kiri dan kanan berkedip secara bersamaan yang mengindikasikan bahwa adanya hal darurat atau pemberitahuan untuk berhati-hati kepada pengemudi-pengemudi lain di jalan. Mode lampu hazard dapat diaktifkan dengan menekan tombol hazard yang pada umumnya bergambar segitiga merah di sekitar daerah kemudi. Lampu itu dapat kita temui di samping kemudi mobil dan beberapa kendaraan bermotor.

Info : berbagai sumber