Nilai Tukar Rupiah Terus Menguat, BI: Masih Kemurahan!

Nilai Tukar Rupiah Terus Menguat, BI: Masih Kemurahan!
MEDIASRIWIJAYA.COM/Net

MEDIASRIWIJAYA.COM Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus menguat dalam beberapa hari terakhir. Bank Indonesia (BI) menilai nilai tukar rupiah masih bisa menguat lebih lanjut.

Kemarin, rupiah menguat 0,46% di hadapan greenback di pasar spot. Rupiah sudah menguat dalam 4 hari beruntun. Selama periode tersebut, rupiah menguat 1,39%.

Akibatnya, depresiasi rupiah sejak awal tahun terus melandai. Sejak 1 Januari hingga 16 Oktober, rupiah melemah 7,69%. Beberapa waktu lalu, rupiah sempat melemah di kisaran 10%.

"Rupiah masih undervalued (terlalu murah). Namun masih cukup kompetitif untuk perdagangan," kata Dody Budi Waluyo, Deputi Gubernur BI, dalam acara Pelatihan Wartawan Ekonomi di Solo, Sabtu (17/11/2018). Dody menilai rupiah bisa saja menguat lebih lanjut. Faktor yang bisa menopang penguatan rupiah bisa datang dari dalam dan luar negeri.

Dari domestik, kenaikan suku bunga acuan pada 2 hari lalu. Sejak Mei, BI sudah menaikkan 7 Days Reverse Repo Rate sebesar 175 basis poin (bps).

Kenaikan ini membuat pasar keuangan Indonesia lebih atraktif sehingga menarik arus modal masuk. "Prinsip kita pre-emtif dan ahead the curve tidak lepas. Dengan dasar ini, kita naikkan suku bunga 2 hari lalu. Kita hrs ahead the curve," tegasnya.

Sementara dari sisi eksternal, tambah Dody, ada harapan damai dagang AS-China yang membuat ketidakpastian di pasar keuangan global mereda. Rencananya, Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinpin akan melakukan pembicaraan di sela-sela KTT G20 di Argentina akhir bulan ini.

"Feeling saya positif dengan pertemuan Presiden AS dan Presiden China. ini akan menenangkan pasar keuangan," ujarnya.

Namun, lanjut Dody, ada pula risiko yang membayangi rupiah. Salah satunya adalah perkembangan harga komoditas, utamanya minyak.

"Kalau Timur Tengah perkembangannya tajam, kita tidak bisa bisa tahan outflows terjadi. Eksternal harus kita amati. Namun untuk jangka pendek mudah-mudahan masih positif," tuturnya.

Sumber: CNBC Indonesia