Muhammad Asri diseret Saat Pimpin Aksi Petani Kelapa

Muhammad Asri diseret Saat Pimpin Aksi Petani Kelapa
(Foto Ist)

PALEMBAG, MEDIASRIWIJAYA.com - Koordinator lapangan (Korlap) aksi Aliansi Mahasiswa Petani Kelapa-Kopra (Ampera) Sumatera Selatan, Muhammad Asri diseret, dipukul dan diinjak petugas saat memimpin aksi di halaman Kantor DPRD Sumsel, Kamis (29/11).

"Saya sangat menyayangkan tindakan represif yang dilakukan aparat kepolisian. Dimana saya dan Muslimada diberperlakukan sangat tidak manusiawi ketika melakukan aksi damai menuntut kesejahteraan petani kelapa yang saat ini menjerit karena harga komoditas tersebut sangat murah," katanya, usai diterima anggota DPRD Sumsel.

Ia menjelaskan, petani kelapa-kopra sengaja membawa sabut kelapa sebagai simbol perlawanan terhadap turunnya harga kelapa dan kopra.

Tetapi ketika sedang berusaha masuk ke halaman kantor gedung milik wakil rakyat tersebut, massa aksi dihadang dan saya pun sempat ditahan petugas di lokasi sebelum kemudian dilepaskan, ujarnya.

Dia menambahkan, setelah perwakilan pengunjukrasa diterima wakil rakyat, akhirnya dihasilkan beberapa keputusan yaitu DPRD Sumsel dan Gubernus Sumatera Selatan sepakat akan membentuk satgas penanganan mafia/kartel perdagangan kelapa.

Dalam waktu dekat juga akan membentuk tim riset kelapa dan segera membentuk korporasi dan meyediakan permodalan bagi petani kelapa, tambahnya.

Asri mengatakan pihaknya sangat berharap putusan mediasi tersebut secepatnya segera direalisasikan agar petani kelapa/kopra yang kini semakin menderita akibat harga komoditas tersebut murah, bisa kembali bangkit.

Petani kelapa/kopra menjerit karena harga komoditas tersebut kini harganya hanya Rp700 sampai Rp1.000 per butir dari sebelumnya Rp3.000 per butir sehingga puluhan ribu keluarga petani kini kesulitan memenuhi kebutuhan keluarga. Sedangkan harga kopra dari sebelumnya Rp11.000 per kg menjadi Rp3.000 per kg

"Kondisi ini, tentunya sangat menyulitkan di tengah membengkaknya kebutuhan hidup  petani," kata koordinator Aliansi Mahasiswa dan Petani Kelapa Kopra (Ampera) Muhammad Asri, disampaikan melalui siaran pers, di Palembang, Rabu (28/11).

Menurut dia, kalau pemerintah tidak segera mengintervensi harga komoditas tersebut maka akan melahirkan ribuan warga miskin baru. Dimana khusus di Kabupaten Banyuasin saja terdapat 23.000 kepala keluarga pertani kelapa/kopra dengan luas lahan perkebunan kelapa mencapai 63.000 hektare, belum lagi petani di Musibanyuasin dan Ogan Komering Ilir.

Produksi petani kelapa Kabupaten Banyuasin mencapai 45.000 ton setiap kali panen, tambahnya.

Ia mengatakan, memang harus diakui turunnya harga komoditas tersebut karena pengaruh pasar global, tetapi pemerintah jangan tinggal diam.

"Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 jelas telah mengamatkan keadilan sosial dan menjamin kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia, katanya.

Dia menjelaskan,  aliansi yang merupakan gabungan dari sejumlah organisasi gerakan dan petani kelapa kopra menuntut agar pemerintah segera menaikkan harga kelapa-kopra, bangun industri nasional dan daerah pengolahan kelapa.

Pemerintah juga dituntut mengatur tata niaga perdagangan kelapa, koprasi dan permodalan untuk petani, berantas mafia dan kartel perdagangan kelapa-kopra, ujarnya.

Guna mendorong merealisasikan tuntutan tersebut, Aliansi Mahasiswa dan Petani Kelapa Kopra (Ampera) yang merupakan gabungan organisasi Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND), Serikat Tani Nasional (STN), API Kartini dan Petani Kelapa Bersatu berunjukrasa ke DPRD Sumatera Selatan, Kamis (28/11).

Sebagai wakil rakyat, pihaknya  mengharapkan anggota legislatif siap memperjuangkan tuntutan petani kelapa-kopra yang kini menjerit karena kesulitan dan miskin, kata Asri.(ne)