Kementerian PUPR Kirimi Ratusan Insinyur Muda Bantu Lombok

Kementerian PUPR Kirimi Ratusan Insinyur Muda Bantu Lombok
(Foto Istimewa)

JAKARTA, MEDIASRIWIJAYA.com - Pemerintah terus melakukan berbagai upaya untuk membantu korban terdampak gempa di Lombok, Nusa Tenggara Barat, salah satunya dengan mengirim sebanyak 400 insiyur muda untuk mendampingi masyarakat.

"Ratusan insinyur muda tersebut adalah Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) tahun 2017 yang ditugaskan untuk menjadi pendamping masyarakat dalam membangun rumah tahan gempa di Pulau Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB)," kata Menteri PUPR Basuki Hadimuljono saat memberikan pengarahan kepada para CPNS yang akan ditugaskan di Pulau Lombok, di Jakarta, dikutip dari portal berita setkab.go.id, Selasa.

Dia menjelaskan, mulai 1 September akan dilaksanakan perbaikan rumah warga yang roboh diguncang gempa sesuai arahan Wakil Presiden Jusuf Kalla dan ditargetkan selesai dalam waktu enam bulan.

Perbaikan rumah yang rusak,  akan dilakukan dengan melibatkan masyarakat secara gotong royong, dengan pendampingan dari tenaga fasilitator. “Rumah harus dibangun dengan kualitas yang lebih baik, mampu menahan guncangan gempa karena potensi gempa terjadi di masa mendatang tetap ada,” ujarnya.

Basuki menambahkan, dalam melakukan pendampingan akan dibentuk tim fasilitator yang terdiri dari 9-10 orang yang bertanggung jawab untuk pendampingan rehabilitasi dan rekonstruksi 100-150 unit rumah.

Banyaknya jumlah dan luas sebaran rumah yang rusak membutuhkan tenaga fasilitator yang banyak pula, tambahnya.

Ia memperkirakan kebutuhan tenaga pendamping untuk perbaikan sekitar 74 ribu unit rumah diperlukan sebanyak 2.000 tenaga fasilitator.

“Oleh karena itu, Kementerian PUPR juga mengajak keterlibatan mahasiswa teknik PTN/PTS untuk menjadi bagian dari tim fasilitator sebagai bagian dari kuliah kerja nyata (KKN) mahasiswa dalam mempercepat proses rehabilitsi dan rekonstruksi,” katanya.

Sementara Dirjen Cipta Karya Danis H. Sumadilaga mengatakan alokasi anggaran untuk rumah rusak berat Rp50 juta, rusak sedang Rp30 juta dan mengalami kerusakan ringan Rp10 juta per unit rumah.

Perkuatan struktur rumah tidak hanya diperlukan pada rumah yang mengalami rusak berat saja namun rumah-rumah dengan kategori rusak sedang dan rusak ringan. Hal ini dikarenakan hampir seluruh rumah yang rusak disebabkan tidak memiliki struktur bangunan yang baik seperti tidak adanya kolom dan tulangan besi, katanya.

Selanjutnya ia menambahkan,  fasilitas publik seperti pasar, sekolah, rumah ibadah, puskesmas dan rumah sakit ditargetkan bisa kembali berfungsi melayani, Desember 2018.

Sampai kini, identifikasi dan verifikasi kerusakan beragam fasilitas publik terus dilakukan, dan sebanyak 330 unit sekolah yang rusak yang terdiri dari 14 Taman Kanak, 175 Sekolah Dasar dan  67 SMP/MTs serta 74 SMA/MA. Sedangkan rumah ibadah sebanyak enam rusak, rumah sakit, Puskesmas, Puskesdes, dan Posyandu  sebanyak  118 rusak, sedangkan untuk Pasar  sebanyak 22 juga rusak.(net)