Kelola Kas Masjid Dengan Baik, Jangan Biarkan Mengendap

Kelola Kas Masjid Dengan Baik, Jangan Biarkan Mengendap
MEDIASRIWIJAYA.COM/Net Ilustrasi

MEDIASRIWIJAYA.com - Dana infaq atau kas masjid harus mengalami perputaran. Perputaran dana menandai pengelolaan yang baik dana masjid. Demikian disampaikan Kepala Bagian (Kabag) Kesra setda Ogan Komering Ulu (OKU), Kadarisman.

Dalam pengelolaan manajemennya pula, kata Kadarisman, masjid jangan memikirkan diri (masjid) sendiri. Dalam arti kata begini, jelas Kadar, uang kas masjid itu tentu akan terus bertambah. Nah, jika bangunan fisik masjid sudah maksimal, tidak perlu lagi-lah mencari-cari celah untuk merehab lagi.

Misal, mengganti keramik yang sudah ada dengan yang baru. “Kan itu manfaatnya kurang. Lebih baik kasihkan atau sumbangkan ke masjid lain yang perlu pembangunan,” katanya.

Dan ini menurutnya, masih kerap terjadi di beberapa masjid yang ada di daerah ini. “Ya, ada masjid yang bagus, tapi karena banyak duit, mulai mencari celah rehab sana sini. Padahal yang lama sudah bagus,” jelas dia.

Dalam hal ini, pengurus masjid diingatkan untuk tidak melulu fokus bangun masjid. Dana kas atau infaq masjid juga bisa disalurkan ke bidang sosial, selain untuk keperluan sehari-hari. Seperti menyantuni jamaah yang kurang mampu dari segi ekonomi, dan lain sebagainya. Dengan begitu, uang infaq yang masuk masjid manfaatnya benar-benar dirasakan umat. Dan menjadi amal jariyah bagi yang berinfaq.

Dicontohkan lagi, misal suatu masjid ada saldo 50 juta. Nah, itu harusnya cepat disalurkan bukan untuk ditumpuk. “Infaq orang yang jariah itu harusnya cepat disalurkan, bukan untuk ditumpuk. Kalau uang infaq itu belum digunakan, apakah sudah jadi amal.

Nah, manajemen masjid modern, ya seperti itu. Yakni tidak memikirkan masjid kita sendiri. Di tempat lain, malah sudah memikirkan di belahan bumi lain,” jelasnya. Mengendapnya kas masjid alias atau tidak jika tidak cepat disalurkan, bisa menimbulkan banyak efek negatif.

Bisa jadi, kalau ada pengurus yang tak amanah, dana itu disalahgunakan untuk kepentingan pribadi. Atau dipinjamkan ke sesama pengurus sendiri. “Di satu tempat, malah ada yang dipinjamkan pada orang. Padahal peruntukannya bukan untuk itu, walaupun ada kesepakatan pengurus,” bebernya.

Apakah di OKU sudah ada masjid yang menerapkan pola manajemen macam itu? Setahu Kadar, belum terlihat masjid yang menerapkan pola seperti ini.

“Sekarang ini masjid cenderung memikirkan masjidnya sendiri. Tidak memikirkan tempat lain. Inilah peran dan tanggung jawab Dewan Masjid untuk membina keorganisasian masjid,” tandasnya.

Sumber:Sumselupdate