Gempa dan Tsunami Palu. Ini Penjelasan Ilmiahnya

Gempa dan Tsunami Palu. Ini Penjelasan Ilmiahnya
ilustrasi (net)

PALU,MEDIASRIWIJAYA.com -  Begitu mendengar berita ttg gempa, melalui WA saya kontak Dr. Mudrik Daryono, peneliti di Geoteknologi LIPI yg disertasinya salah satunya ttg Sesar Palu-Koro. 'Itu gempa yg kamu tunggu, Drik?. 'Ya dan bukan, pak!'. Lantas sy buka WA Keluarga Geotek LIPI, yg sdh ramai dg berita gempa dan tsunami Palu, karena medsos melaporkan ada tsunami bahkan disertai video. Ada pendapat menarik dari Dr. Nugroho Dwi Hananto, marine geophysicist dari Geoteknologi LIPI yg kini ditugaskan di Oseanografi LIPI. Dr. Nugroho menduga penyebab tsunami adalah longsoran mengingat bentuk batimetri di Teluk Palu yg berbentuk lembah sempit dan curam. Bentuk ini bukti adanya Sesar Palu-Koro yg mengiris teluk itu. Boleh jadi dugaan Nugroho benar.

Data dari situs USGS  mendorong saya untuk menyimpulkan bahwa tak akan ada tsunami, karena mekanis pusat gempa menunjukkan hampir murni _strike slip_ (sesar mendatar). Nyaris sempurna, meski ada sedikit komponen gerakan vertikal (USGS, 2018). Kalau toh ada tsunami,  mungkin kecil saja, begitu dugaan saya.

Gempa Palu M7.4, terletak di utara kota Palu dan  berada di Sesar Palu-Koro yg memanjang hampir utara-selatan. Sesar aktif ini membelah Sulawesi menjadi dua bagian: barat dan timur. Di bagian utara khususnya di Teluk Palu, kenampakan sesar ini di bawah laut, berupa lembah sempit dan curam.  Diujung selatan sesar ini menyatu dg Sesar Matano yg memanjang hampir barat-timur, dan kemudian menyatu dg Sesar Sorong yg panjang itu. Sejatinya, banyak bagian di wilayah kita yg terkoyak-koyak oleh sesar-sesar aktif. Di sepanjang sesar-sesar itu serpihan-serpihan lempengan tektonik bergerak sebagai respon terhadap tumbukan tiga lempeng raksasa: Eurasia, Pasifik dan Indo-Australia. Serpihan lempengan di Sulawesi  itu lah yg kini menyebabkan gempa di Palu.

Pada dasarnya BMKG sangat beralasan menghentikan peringatan tsunami 30 karena gempa memiliki gerakan mendatar.  Selain itu posisi gempa yg sangat dekat dg pantai 'seharusnya' tsunami akan datang segera setelah gempa terjadi. Boleh jadi kurang dari 10 menit.

Lantas bgm menjelaskan adanya tsunami? Saya kira pendapat Dr. Nugroho Hananto perlu mendapat perhatian mengingat kemungkinan longsor pada dinding lembah teluk Palu yg curam sangatlah mungkin terjadi.

 

Setiap kejadian adalah pembelajaran. Beberapa waktu yg lalu, kita mendapat pelajaran dari Gempa Lombok yg muncul bertubi-tubi dan itu tak biasa? Earthquake swarm? Kenapa? Adakah aktivitas magmatik ikut ambil peran seperti kejadian serupa di Jepang?

Kini, tsunami di Palu. Adakah longsoran (yg mungkin tak pernah terpikirkan) ikut ambil bagian? Itu semua tentu membutuhkan jawaban ilmiah dg bukti-bukti  lapangan yg kuat. Itu tak sulit dilakukan.  Kalau benar itu krn longsoran, tentu ke depan hal tsb harus masuk dalam skenario dlm early warning system. Boleh jadi ada penyebab lain, dan itu pun harus kita gali. Jangan sampai kita kehilangan momentum dan kita biarkan saja tanpa jawaban....

Barangkali menarik mengintip Jepang. Bayangkan negeri yg pernah sangat tertutup itu, memulai belajar gempa menjelang akhir abad ke-19 dari Barat (baca: Inggris).  Berkali-kali hancur krn gempa, tp terus bangkit dg jawaban baru. Ketika tahun 1891 terjadi gempa Nobi yg menelan korban > 7000 jiwa, maka dibentuk Earthquake Disasater Prevention Investigation Council. Th 1919, Jepang menetapkan Urban Building Law. Ketika Tokyo rata dg tanah tanah akibat gempa Kanto 1 Sep 1923, maka  jawaban Jepang mendirikan Earthquake Research Institute (ERI) di Univ. Kyoto. ERI sangatlah terkenal.... Sejumlah respon penting dibuat Jepang setiap ada kejadian gempa, termasuk beberapa kali merevisi Building Law,  antara lain merespon gempa Kobe 1995. Terakhir ketika gempa dan tsunami Tohoku terjadi pada th 2011, maka berdirilah IRIDeS (International Research Institut of Disaster Science) di Univ. Tohoku. Begitulah Jepang menjawab bencana.

Kembali saya tekankan bahwa tak banyak yg kita ketahui dg baik prilaku sesar-sesar aktif di Indonesia. Sangat sedikit.  Rasanya sdh saatnya kita merespon setiap kejadian dengan dg program yg lebih terencana agar tidak terkejut-kejut acapkali  gempa dan tsunami datang...

Wallahu A'lam. Dili, 290918/Hery Harjono. (Share medsos)