Dinkes Target 95 Persen Sasaran Imunisasi MR Meski Baru Capai 29 Persen

Dinkes Target 95 Persen Sasaran Imunisasi MR Meski Baru Capai 29 Persen
(saft/mediasriwijaya.com)

PALEMBANG, MEDIASRIWIJAYA.com -  Meski baru 29 persen realisasi imunisasi Measles dan Rubella (MR) di Kota Palembang, Dinas Kesehatan (Dinkes) optimis dapat mencapai sasaran 95 persen dari target 400 ribu anak yang harus diimunisasi. Hingga saat ini, pihaknya terus melakukan sosialisasi dan mengkampanyekan sekolah, Puskesmas dan kecamatan yang tersebar di Kota Palembang.

"Memang sempat terjadi keraguan di masyarakat atas kehalalan vaksin yang digunakan untuk imunisasi MR, tetapi setelah ada fatwa MUI akhirnya dibolehkan. Awal September kita kembali mengkampanyekan pentingnya imunisasi tersebut," ujar Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Palembang, dr Letizia Kamis (20/9/18) usai pembukaan evaluasi pencapaian kampanye imunisasi MR tingkat Kota Palembang.


(saft/mediasriwijaya.com)

Ia menyebutkan, saat adanya penundaan pemberian imunisasi MR ini, akibatnya baru 29 persen saja yang terealisasi. Angka ini kata Letizia sangat terhambat. Namun pihaknya masih menunggu aturan pusat apakah imunisasi tersebut dilanjutkan apa tidak. "Imunisasi ini upaya kita untuk mencegah adanya virus MR dan tadi saya liat sudah ada anak yang cacat dan terkena dampak dari tidak imunisasi MR. Melalui sosialisasi ini diharapkan masyarakat dapat mengerti dan mengikuti imunisasi MR," imbuhnya.

Letizia menjelaskan,  penyakit rubella merupakan penyakit infeksi menular melalui saluran pernapasan yang disebabkan oleh virus. Penyakit ini Kata dia,  bisa menyebabkan kebutaan, radang otak,  paru, kelainan jantung hingga katakan kongenital. "Tidak ada pengobatan untuk penyakit ini tapi bisa dilakukan pencegahan melalui imunisasi MR, " jelasnya.  

Sementara itu Osa Triwindi (32) ibu dari Abrar ziljian Ahmad, penderita katarak dan tuna rungu (tuli) yang hadir dalam sosialisasi dan kampanye imunisasi MR mengatakan, anaknya Abai (namanya kerap disapa sudah diketahui ada kelainan sejak dalam kandungan. Osa menceritakan, ia terkena campak saat empat minggu kehamilannya. "Bermula dari terkena bintik-bintik merah pada tangan dan kaki saya, tetapi saat itu saya belum mengetahui kalau saya hamil meskipun sudah terlambat. Karena khawatir, akhirnya saya melakukan tes kehamilan dan ternyata sudah empat minggu usia kehamilan saya. Dari sana saya bersama suami langsung ke dokter untuk melakukan pencegahan, tetapi terlambat karena dokter memvonis sudah 80 persen terkena campak," bebernya.

Dokter sempat menyarankan untuk mengugurkan, lanjut Osa, tetapi ia tidak ingin mengambil risiko tersebut. "Saya takut karena untuk pertanggungjawaban dengan Allah, karena sebelumnya saya sempat keguguran. Mungkin ini takdir saya, makanya saya berharap kepada ibu di luar sana untuk bisa mencegah sebelum terjadi," kata Osa. 

Diakui Osa, terkena campak tersebut karena ia kerap bersentuhan dengan anak-anak karena Osa merupakan pebisnis pakaian anak-anak. "Sekarang harus mengenakan kacamata plus 20, karena di usianya 3 bulan Abai dioperasi katarak dan untuk pendengaran Abai menggunakan alat bantu pendengaran yang tida murah, yang biasa saja harganya Rp20 juta. Tapi aheus bagaimana lagi, mungkin ini sudah takdir Abai, tapi paling tidak ibu-ibu di luar sana bisa melakukan pencegahan dengan imunisasi MR," tukasnya. (saft)