Dampak Perubahan Iklim Picu Ledakan Populasi Tikus

Dampak Perubahan Iklim Picu Ledakan Populasi Tikus
Ilustrasi Tikus (MEDIASRIWIJAYA.COM/Net)

MEDIASRIWIJAYA.COM – Kita tentu menyadari bawa beberapa tahun terakhir mengalami perubahan iklim yang cukup drastis. Namun tahukah Anda bahwa perubahan iklim juga berpengaruh terhadap tingkat populasi tikus? Para ilmuwan telah memperkirakan kenaikan suhu secara global sebesar 2 derajat celcius pada akhir abad ini. Peningkatan suhu ini rupanya memberikan kondisi berkembang biak paling subur bagi tikus.

Dilansir dari laman kompas, Bobby Corrigan, seorang pakar tikus dari Cornell University, menjelaskan bahwa hewan pengerat seperti tikus memiliki masa kehamilan yang sangat cepat, yaitu 14 hari. Tikus juga hanya membutuhkan waktu satu bulan setelah dilahirkan untuk bereproduksi.

Ini artinya, satu tikus hamil dapat menghasilkan 15.000 hingga 18.000 tikus baru dalam waktu kurang dari satu tahun. Ini bukan peringatan pertama. Para ahli, mulai dari pakar pengerat hingga ahli biologi, telah mewaspadai efek perubahan iklim terhadap lonjakan reproduksi hewan pengerat.

Pasalnya, tikus terkenal dengan kemampuannya untuk menularkan berbagai penyakit, seperti pes atau sampar, leptospirosis, diare, demam, hingga keracunan makanan. Bahkan, kuman penyakit di kotoran tikus yang mengering mampu menyebar dan menempel pada makanan rumah.

Penyakit-penyakit di atas bisa berdampak pada kematian. Sebagai contoh, pada tahun 2011, 13 orang warga Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, meninggal akibat leptospirosis. Kemudian pada tahun 2016, sudah ada 40 kasus warga Jakarta yang menderita leptospirosis.

Namun, bencana ini sudah dimulai. Di Amerika, panggilan ke layanan pengendalian hama mengalami peningkatan hingga lebih dari 60 persen. Kemudian, beberapa kota di Selandia Baru menjadi pusat perkembangan biak yang subur bagi tikus karena mereka mengalami salah satu musim panas terpanas dalam sejarah.

“Di beberapa tempat, kita melihat peningkatan sepuluh kali lipat dalam populasi hewan pengerat," kata Dr Graeme Elliott, dari Departemen Konservasi Selandia Baru, seperti yang diberitakan News Week pada Minggu (04/11/2018).