Belajar Bersikap Tenang dari Miliarder Tertua di Dunia

Belajar Bersikap Tenang dari Miliarder Tertua di Dunia
(Foto Istimewa)

MEDIASRIWIJAYA.com -  Gelar miliarder tertua di dunia dipegang oleh sosok misterius yang berasal tidak jauh dari Indonesia, yaitu Singapura. Dia adalah Chan Yun Chung, pendiri salah satu perusahaan perkapalan Singapura, Pacific International Lines (PIL).

Chan Yun Chung memagang kunci suksesnya selama ini sangat sederhana, yaitu tenang.

Dilansir dari CNBC, Rabu (5/12), Chan Yun Chung telah menikmati kekayaan karirnya selama delapan dekade. Meski sudah berusia senja, miliader tertua di dunia ini tetap bekerja setiap harinya ke kantor.

Bagi Chang, berdiam diri di rumah bukan pilihan. Meskipun awal tahun ini telah menyerahkan peran ketua eksekutif kepada putranya, Teo Siong Seng, dia tetap bersikeras pergi ke kantor setiap hari di usianya yang telah menginjak 100 tahun.

Sebagai chairman emiratus PIL, Chang Yun Chung mengatakan harus mengunjungi kantor pusat perusahaan Singapura setiap hari untuk menjalankan tugasnya dan memeriksa setiap departemen.

“Saya tidak bisa terlalu lama di rumah, itu sangat membosankan,” ujar Chan Yun Chung.

Menurutnya, ini adalah cara untuk menjaga pikirannya agar tetap aktif dan tetap berhubungan dengan perusahaan yang ia dirikan sejak tahun 1967 itu.

Selain itu, Chang juga harus membimbing anaknya Teo Siong Seng, untuk memegang salah satu dari 20 perusahaan pelayaran top dunia dengan 18.000 karyawan. Teo mengaku selalu berkonsultasi dengan ayahnya 2 kali sehari, di pagi dan siang hari untuk mendapat wawasan dan belajar lebih banyak mengenai kepemimpinan.

“Ketika saya muda, saya merupakan orang yang pemarah. Tapi, ayah saya mengajari satu hal dalam bahasa China, yaitu ‘yi de fu ren’, yang berarti jika anda ingin orang-orang mematuhi anda, bukan karena otoritas, kekuatan atau karena anda galak tetapi karena integritas,” jelas Ketua Eksekutif Pasific International Lines Teo Siong Seng.

“Tetap tenang adalah hal-hal yang saya pelajari dari ayah saya dan sampai saat ini masih terus belajar,” ujarnya.

Itu terbukti sangat penting, ketika tahun 2009, Teo sebagai direktur pelaksana harus mengelola pembajakan salah satu kapal perusahaan oleh perompak di pantai lepas Afrika Timur. Butuh waktu 75 hari untuk akhirnya dapat mengamankan pembebasan awak kapal tersebut.

"Dalam bisnis apa pun, terutama pengiriman, ada banyak hal yang tidak diketahui," kata Teo.

Sumber:okezone