20 WNA Diamankan Petugas Imigrasi Sumsel

20 WNA Diamankan Petugas Imigrasi Sumsel
MEDIASRIWIJAYA.COM/Ly 20 Orang warga negara (WNA), diamankan petugas Imigrasi Kementerian Hukum dan Ham Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel).

PALEMBANG, MEDIASRIWIJAYA.com - 20 Orang warga negara (WNA), diamankan petugas Imigrasi Kementerian Hukum dan Ham Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), saat sedang melakukan terapi CLM (Cristiano Leong Method) bertempat di Ballroom Hotel Novotel Jalan R Soekamto Palembang, Kamis (9/1).

Ke 20 WNA yang diamankan ini terjaring dalam operasi intelijen Kantor Imigrasi Kelas 1 Palembang. Di mana sebelumnya tim mendapat informasi adanya kegiatan pengobatan yang mengundang terapis dari Malaysia yang dilaksanakan di Hotel Novotel Palembang.

MEDIASRIWIJAYA.com/Ly 

"Dari informasi yang kita dapatkan, ada dugaan 20 orang asing di kota Palembang, kemudian saya panggil Kepala Imigrasi dan saya keluarkan surat perintah laksanakan Operasi Intelijen, selang 6 jam dari operasi intelijen ternyata benar mereka sedang melakukan praktek pengobatan di Novotel, " ungkap Sudirman G Hury, Kakanwil Kemenkumham Sumsel, Kamis (10/1).

20 WNA terdiri dari 9 wanita 11 pria, berdasarkan keterangan 16 orang WNA Malaysia, 1 WNA Inggris Irlandia. 1 WNA Belgia. Dan 2 WNA Hongkong. Ke 20 orang ini, diamankan karena diduga menyalagunakan izin tinggal Keimigrasian Palembang, di mana 20 WNA ini diduga melakukan penyalahgunaan keimigrasian yaitu masuk ke wilayah Indonesia dengan menggunakan Bebas Visa kunjungan (BVK).

Berdasarkan hasil operasi tim mendapatkan 20 orang WNA yang diduga melakukan penyalahgunaan izin tinggal keimigrasian. Selanjutnya ke 20 orang yang dibawa ke kantor wilayah Kementerian Hukum dan HAM Sumatera Selatan untuk diperiksa dan diminta keterangan lebih lanjut.

Dari pemeriksaan pengobatan alternatif Terapi CLM ini, daftarnya melalui online, praktek di Ballroom Hotel Novotel Palembang, dimana mereka buka praktek dari pukul 09.00 wib hingga pukul 16.00 wib. Setidaknya sudah beberapa kota yang mereka kunjungi. "Mereka pernah buka praktek tempat lain seperti Jakarta, Surabaya dan lalu ke Malaysia. Bali dan Medan. Dalam prakteknya mereka hanya menetap dua hingga tiga hari, tapi kalau di Palembang mereka sudah tiga hari, bayarannya dari Rp 4,5 juta ke atas atau tidak terbatas, pendaftaran secara online namanya kemungkinan " jelasnya.

MEDIASRIWIJAYA.com/Ly Passport yang diamankan

Setelah dilakukan pemeriksaan dan wawancara yang mendalam, diperoleh informasi bahwa sebanyak 17 orang mengaku relawan atau volunteer (mahasiswa, fresh graduated, dosen, guru, desainer, hingga instruktur olahraga) kegiatan terapi CLM di Indonesia. Mereka menyatakan bahwa dari kegiatan ini mereka tidak mengharapkan apa pun selain membantu orang lain. Mereka mendapat informasi kegiatan charity terapi CLM di Indonesia ini dari official account Facebook milik CLM, ataupun teman dan keluarga terdekat.

Dari hasil pemeriksaan dapat diidentifikasi satu orang selaku koordinator even selama di Indonesia, sekaligus selaku pekerja di CLM Malaysia yabg bertugas sebagai pengatur keuangan dan satu orang diduga sebagai pemilik dari pengobatan terapi CLM yang bernama Leong Yann Kong WNA Malaysia. Bahkan pemilik terapi CLM ini tahun 2017 pernah dideportasi keluar Indonesia oleh Kantor Imigrasi Jakarta Selatan.

"Kemungkinan yang namanya Leong Yann Kong, sebagai pimpinannya maka disebut Chris Leong method, jadi metode pengobatan Chris Leong. Hasilnya benar atau tidak ada yang komplain belum ada yang komplain masyarakat karena ini baru, " jelasnya.

Langkah ke depan pihak Kanwil Kemenkumham Sumsel, pihaknya akan memproses ke 20 WNA tersebut, sesuai tugas Keimigrasian, melakukan penindakan dan pengawasan keimigrasian, "20 WNA setelah kita cek mereka menyalahi ketentuan UU Imigrasi, dalam paspor hanya kunjungan wisata, mereka ini akan kita proses," ujarnya.

Sementara itu, pemilik dari pengobatan terapi CLM yang bernama Leong Yann Kong WNA Malaysia, mengatakan jika dirinya merupakan generasi ke tiga untuk terapi CLM tersebut, "saya datang hanya untuk jumpa fans di Jakarta dan Surabaya, mereka tanya kalau sakit sendi, mereka lihat video video saya, mereka datang untuk itu saya bantu tolong. Atas permintaan fans ini saya oke karena kita satu hari, saya merasa bangga, sebelum ke Palembang saya ke KL dan Hongkong kalau Palembang ini kota kedua sebelumnya kita di Medan," ujarnya.

Saat disinggung soal pengunaan paspor wisata dikatakannya, “Saya juga tidak tahu itu agensi kita jika dilihat dari surat itu Wiranto itu adalah kementerian apa saya tidak tahu, pengobatan ini saya sudah generasi ke tiga" jelasnya.(Ly)