Pertanian Terpadu Tanpa Pembakaran Lahan

Pertanian Terpadu Tanpa Pembakaran Lahan
Masyarakat memperlihatkan produksi udang windu (foto ist)

OI,  MEDIASRIWIJAYA – Masyarakat di Desa Kuala Sungai Jeruju Kabupaten Ogan Ilir Sumsel, berhasil menerapkan pertanian terpadu yang diantaranya mempraktekkan pengolahan lahan tanpa bakar (PLTB). Praktek yang dimulai sejak awal Februari lalu sudah membuahkan hasil berupa produk pertanian organik.

Fasilitator Mujianto mengatakan praktek pengolahan pertanian tanpa bakar, tanpa menggunakan bahan kimia dilakukan dengan mengedukasi warga dengan membuat pupuk dan pestisida secara alami. Kelompok masyarakat (Pokmas) Cipta Tani Mandiri yang merupakan Desa Peduli Gambut (DPG) memanfaatkan bahan-bahan yang tergolong murah dan mudah didapat seperti dedak, bekatul, limbah ikan, serabut kelapa, brotowali dan bahan lainnya.

“Awalnya desa sempat mengalami penurunan hasil panen (produksi) sekaligus dihadapkan pada permasalahan alih fungsi sementara kebutuhan pangan terus meningkat,” ujarnya, melansir gatra, kemarin.

Selain itu, sambung Mujianto, juga terjadi ancaman degradasi fungsi hayati lahan, pakan udang yang berbiaya mahal sehingga diperlukan pakan alternatif yang lebih menghemat pengeluaran, dan lahan di desa belum dimanfaatkan secara maksimal.

“Dengan melibatkan tokoh masyarakat Ilman Jaya, dan Yan, mengajak masyarakat membentuk kelompok tani, baik usaha pertanian, perikanan, peternakan yang juga memperhatikan kelestarian lingkungan, terutama menjaga kawasan gambut,” ungkapnya.

Atas kekompakkan warga desa itulah dilaksanakan sistem pertanian terpadu satu siklus biologi melalu budidaya perikanan tambak udang windu, ikan bandeng, pertanian sapi, dan pertanian dengan menanam jagung yang ditumpang sarikan dengan tanaman kedelai dengan memanfaatkan lahan tanggul tambak,

“Dilakukan ujicoba tanam jagung di area tambak 2 ha, dengan tanggul tambak lebar 4 meter dan panjang 200 meter. Uji coba tanaman jagung di beberapa lokasi, seperti lokasi tanggul tambak dengan jarak yang jauh dan dekat dari bibir pantai dan hasil panenya sangat bagus,” terangnya.

Pertanian terpadu ini, dalam jangka panjang diharapkan mampu menjadi solusi bagi petani dalam meningkatkan produktivitas lahan dengan integritas program pembangunan dan konservasi lingkungan guna mewujudkan desa swasembada dan mandiri.

Saat ini, kata dia, petani juga diharapkan mampu tercukupi pangan, sandang dan papan tanpa limbah.
“Jagung dapat digunakan untuk pakan alternatif udang windu yang cukup nutrisi, limbah pertanian (batang dan daun tanaman jagung) dapat digunakan untuk pakan ternak sapi, feses/ kotoran sapi dan limbah tambak (kotoran ikan bandeng dan udang windu dapat digunakan untuk memperbaiki hara tanah dan dapat dijadikan sebagai pupuk tanaman jagung,” ujarnya.

Manfaat lainnya, sistem ini juga mampu menghasilkan 4F, yaitu food, feed, fuel, dan fertilizer. Pertanian terpadu dengan menghasilkan pangan dengan komposisi beragam, pemanfaatan limbah pertanian sebagai pakan ternak, mampu menghasilkan biogas dan menjadi pupuk organik baik bentuk cair atau padat.

“Sistem pertanian terpadu ialah salah satu solusi atas ketersediaan lahan yang terbatas dengan pertanian yang intensif. Pertanian terpadu ini juga berkelanjutan sekaligus sebagai edukasi kepada masyarakat,” terang dia.

Selain pemberdayaan, kegiatan edukasi juga dilakukan kepada kalangan pelajar dengan kegiatan pembelajaran lingkungan melalui pendekatan pola pikir siswa sehingga mampu kreatif namun tetap memperhatikan karakteristik lingkungan pendidikan.

“Anak-anak siswa diajak mengenal lebih dekat alam guna menumbuhkan kesadaran melestarikan lingkungan. Anak-anak dikenalkan alam lebih dekat, mengenalk kesatuan hidrologi gambut dan memiliki rasa cinta terhadap alam dan lingkungan,” ujarnya.

Kegiatan ini juga mendapatkan dukungan dari berbagai pihak baik pemerintah daerah, Tim Restorasi Gambut Daerah (TRGD) Sumsel dan pihak lainnya sebagai kerangka penguatan kelembagaan masyarakat desa.(net)