Peringati Hari Perempuan Internasional, Lawan Kekerasan dan Aturan Diskriminatif

Peringati Hari Perempuan Internasional, Lawan Kekerasan dan Aturan Diskriminatif
(Foto ist)

 *Perempuan Berdaulat atas Dirinya

PALEMBANG, MEDIASRIWIJAYA – Peringatan Hari Perempuan Internasional (IWD), 8 Maret 2020 dilakukan gabungan organisasi perempuan, masyarakat sipil dan profesi di Kota Palembang dengan menyelenggarakan Gerak Bersama Melawan Kekerasan dan Melawan Semua Aturan Diskriminatif- Perempuan Berdaulat atas Dirinya.

Direktur Eksekutif Women Crisis Centre, Yeni Izi Roslaini mengatakan pihaknya merayakan IWD dengan sejumlah kegiatan dan bekerja sama dengan organisasi sekawan lainnya di Sumatera Selatan.

“Tema IWD tahun ini, Gerak Bersama Melawabn Kekerasan dan Melawan Semua Aturan Diskriminatif dengan subtema Perempuan Berdaulat atas Dirinya,” kata dia dalam siaran pers, Minggu (8/3).

Ia menjelaskan, kegiatan berlangsung mulai pukul 09.00 WIB sampai 17.00 WIB dengan melibatkan Forum Komunitas Perempuan Akar Rumput (FKPAR) Sumatera Selatan dan Organisasi Masyarakat Sipil di Propinsi Sumatera Selatan.

Sejumlah acara disiapkan, mulai dari aksi simpatik kaum perempuan, panggung kreasi seni sampai dengan bincang-bincang dengan menghadirkan empat orang pemantik dari perwakilan WCC Palembang, Rumah Ibu, AJI Palembang dan budayawan, ujar dia.

Dia menambahkan, perayaan dilaksanakan di Kambang Iwak Park dan Hotel Swarnadwipa, Senin (9/3).

Perhelatan tersebut, akan dihadiri sekitar 200 orang perwakilan dari organisasi yang telah sepakat dengan tema tersebut, yaitu WCC Palembang, FKPAR, Rumah Ibu, Solidaritas Perempuan Palembang, LBH Palembang, LBH APIK Sumsel, AJI Palembang, Lentera Jiwa, Walhi Sumsel, tambah dia.

Sementara peringatan IWD, diawali dengan aksi protes buruh perempuan pabrik garmen di New York Amerika Serikat pada 8 Maret 1857, yang menuntut perbaikan lingkungan kerja karena sangat tidak manusiawi, upah yang sangat rendah dan perlakuan berbeda manajemen perusahaan antar buruh perempuan dan lelaki, menjadi langkah pertama bagi perempuan pekerja untuk menentukan sikap dan berjuang demi memanusiakan manusia dan kesetaraan gender, dimana saat itu, perempuan cenderung hanya dianggap budak.

Momentum perlawanan buruh perempuan itu, akhirnya menjadi pemantik semangat ribuan buruh yang terpendam setelah puluhan tahun dengan kondisi bekerja yang sangat tidak manusiawi tersebut. Mereka telah mematangkan diri dalam sebuah organisasi buruh perempuan yang melawan ketidakadilan dan penindasan di lingkungan pabrik tempat bekerja, karena itu tepat 8 Maret 1908 di tempat yang sama (New York) sedikitnya 15.000 buruh perempuan melakukan unjukrasa menuntut jam kerja diperpendek dan hak suara pada saat pelaksanaan pemilihan.

Tuntutan hak berpolitik dengan berperan aktif dalam pemilihan itu ditanggapi baik Partai Sosialis Amerika yang waktu itu langsung merespon tuntutan buruh perempuan dengan melibatkan mereka dalam kegiatan politik.

Sampai kini peringatan hari perempuan internasional atau IWD terus bergema di seluruh belahan dunia dengan isu utama "eachforequal" atau kesetaraan, di Indonesia gerakan perempuan semakin masif pasca tumbangnya orde baru sehingga perayaan hari perempuan internasional juga menjadi momentum untuk menyuarakan dan menuntut penyelesaian berbagai masalah perempaun Indonesia.(ert/rel)

Peringati Hari Perempuan Internasional, Lawan Kekerasan dan Aturan Diskriminatif

 *Perempuan Berdaulat atas Dirinya

PALEMBANG, MEDIASRIWIJAYA – Peringatan Hari Perempuan Internasional (IWD), 8 Maret 2020 dilakukan gabungan organisasi perempuan, masyarakat sipil dan profesi di Kota Palembang dengan menyelenggarakan Gerak Bersama Melawan Kekerasan dan Melawan Semua Aturan Diskriminatif- Perempuan Berdaulat atas Dirinya.

Direktur Eksekutif Women Crisis Centre, Yeni Izi Roslaini mengatakan pihaknya merayakan IWD dengan sejumlah kegiatan dan bekerja sama dengan organisasi sekawan lainnya di Sumatera Selatan.

“Tema IWD tahun ini, Gerak Bersama Melawabn Kekerasan dan Melawan Semua Aturan Diskriminatif dengan subtema Perempuan Berdaulat atas Dirinya,” kata dia dalam siaran pers, Minggu (8/3).

Ia menjelaskan, kegiatan berlangsung mulai pukul 09.00 WIB sampai 17.00 WIB dengan melibatkan Forum Komunitas Perempuan Akar Rumput (FKPAR) Sumatera Selatan dan Organisasi Masyarakat Sipil di Propinsi Sumatera Selatan.

Sejumlah acara disiapkan, mulai dari aksi simpatik kaum perempuan, panggung kreasi seni sampai dengan bincang-bincang dengan menghadirkan empat orang pemantik dari perwakilan WCC Palembang, Rumah Ibu, AJI Palembang dan budayawan, ujar dia.

Dia menambahkan, perayaan dilaksanakan di Kambang Iwak Park dan Hotel Swarnadwipa, Senin (9/3).

Perhelatan tersebut, akan dihadiri sekitar 200 orang perwakilan dari organisasi yang telah sepakat dengan tema tersebut, yaitu WCC Palembang, FKPAR, Rumah Ibu, Solidaritas Perempuan Palembang, LBH Palembang, LBH APIK Sumsel, AJI Palembang, Lentera Jiwa, Walhi Sumsel, tambah dia.

Sementara peringatan IWD, diawali dengan aksi protes buruh perempuan pabrik garmen di New York Amerika Serikat pada 8 Maret 1857, yang menuntut perbaikan lingkungan kerja karena sangat tidak manusiawi, upah yang sangat rendah dan perlakuan berbeda manajemen perusahaan antar buruh perempuan dan lelaki, menjadi langkah pertama bagi perempuan pekerja untuk menentukan sikap dan berjuang demi memanusiakan manusia dan kesetaraan gender, dimana saat itu, perempuan cenderung hanya dianggap budak.

Momentum perlawanan buruh perempuan itu, akhirnya menjadi pemantik semangat ribuan buruh yang terpendam setelah puluhan tahun dengan kondisi bekerja yang sangat tidak manusiawi tersebut. Mereka telah mematangkan diri dalam sebuah organisasi buruh perempuan yang melawan ketidakadilan dan penindasan di lingkungan pabrik tempat bekerja, karena itu tepat 8 Maret 1908 di tempat yang sama (New York) sedikitnya 15.000 buruh perempuan melakukan unjukrasa menuntut jam kerja diperpendek dan hak suara pada saat pelaksanaan pemilihan.

Tuntutan hak berpolitik dengan berperan aktif dalam pemilihan itu ditanggapi baik Partai Sosialis Amerika yang waktu itu langsung merespon tuntutan buruh perempuan dengan melibatkan mereka dalam kegiatan politik.

Sampai kini peringatan hari perempuan internasional atau IWD terus bergema di seluruh belahan dunia dengan isu utama "eachforequal" atau kesetaraan, di Indonesia gerakan perempuan semakin masif pasca tumbangnya orde baru sehingga perayaan hari perempuan internasional juga menjadi momentum untuk menyuarakan dan menuntut penyelesaian berbagai masalah perempaun Indonesia.(ert/rel)