Pasang Tapping Box untuk Optimalisasi Penerimaan Pajak

Pasang Tapping Box untuk Optimalisasi Penerimaan Pajak
Rapat pemantapan pemasangan tapping box di OKI.(foto ist)

KAYUAGUNG, MEDIASRIWIJAYA – Berbagai inovasi terus dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ogan Komering Ilir (OKI) melalui Badan Pengelolaan Pajak Daerah (BPPD) Kabupaten OKI untuk menyerap retribusi pajak daerah. Salah satunya dengan penggunaan teknologi seperti tapping box.

Plt Kepala BPPD Kabupaten OKI, Suhaimi mengungkapkan, rencana penggunaan tapping box ini untuk lebih mengoptimalkan pendapatan daerah dari sektor pajak. Nantinya, lanjut Suhaimi alat ini akan dipasang di beberapa tempat wajib pajak seperti rumah makan, hotel, tempat hiburan dan beberapa tempat lainnya, katanya, melansir fornews, kemarin.

Menurut dia, saat ini pihaknya sedang melakukan sosialisasi sekaligus berkomunikasi dengan wajib pajak terkait pemasangan alat ini. Pada sosialisasi ini pihaknya juga menyampaikan bahwa dengan dipasangnya alat ini maka para wajib pajak secara otomatis akan membayarkan pajak sebesar 10 persen yang akan masuk ke kas daerah.

“Tapping box ini berfungsi untuk menangkap transaksi yang tercetak oleh printer of Sales digunakan wajib pajak, dapat memudahkan memonitor omzet mereka secara online dan real time. Sehingga akurat dan sama dengan pajak 10 persen yang dibayarkan para wajib pajak itu sendiri,” jelasnya.

“Untuk penerapan aplikasi pajak online ini sendiri, Pemkab OKI dalam hal ini BPPD bekerjasama Bank Sumsel Babel Cabang Kayuagung. Namun prosesnya bertahap tergantung ketersediaan alat tersebut,” tambahnya.

Dengan adanya alat ini dirinya mengharapkan akan meningkatkan kesadaran wajib pajak untuk memenuhi kewajiban mereka.

Terkait wajib pajak yang dikenakan kewajiban ini, lanjutnya, adalah yang beromzet Rp9 juta perbulan dan usahanya telah berjalan lebih dari 3 bulan. “Data harus disampaikan oleh wajib pajak, Pajak Hotel meliputi kamar, Jasa pencucian (Loundry), telepon, Faximile, Internet dan service Charge (Biaya pelayanan) serta transportasi yang dikelola hotel, fasilitas olahraga, persewaan ruangan yang dikelola hotel,” tuturnya.

“Untuk Pajak Restoran meliputi penjualan makanan dan minuman, pemakaian ruang rapat atau pertemuan serta jasa boga (Catering). Pajak hiburan meliputi Room Charge (ruang rapat atau pertemuan), harga tanda masuk/karcis/tiket atau sejenisnya, membership atau kartu anggota dan service Charge,” lanjutnya.

Setelah dilakukan sosialisasi ini, pihak BPPD Kabupaten OKI juga akan melakukan pemasangan tanda di tempat-tempat yang telah menyetujui tempat usahanya untuk dipasang alat tapping box. Selain itu, wajib pajak ini juga akan diberikan cindera mata sebagai tanda bahwa wajib pajak tersebut telah menyetujui.

Salah seorang pemilik rumah makan di Kayuagung, H Eddy mengungkapkan bahwa dirinya setuju jika tempat usaha rumah makannya dipasang alat taping box dan dikenakan pajak 10 persen. Bahkan dirinya mengklaim kewajibannya selaku wajib pajak sudah ia laksanakan.

Namun, untuk penerapan ini dirinya mengharapkan agar bisa terlaksana dengan baik. Selain itu, dirinya juga mengharapkan agar pihak badan pengelola pajak untuk turut mensosialisasikan hal ini.

Terpisah, Wakil pemimpin Bank Sumselbabel cabang Kayuagung, RA Syamsul Hidayat menjelaskan pihaknya memang melakukan kerjasama dalam penarikan pajak ini dengan Pemkab OKI. “Kami menyediakan alat itu sudah kami ajukan, sekarang kita sedang menunggu dimana saja seperti rumah makan ataupun hotel dan tempat-tempat yang akan dipasang alatnya,” jelasnya.

Dirinya menuturkan, alat ini akan bekerja secara otomatis menarik pajak dari setiap tempat yang dipasang alat. Dengan begitu, pejalan dari para wajib pajak ini bisa betul-betul dan langsung masuk ke kas daerah. “Taping box ini ketika dia bayar langsung masuk, alat kasirnya akan terkoneksi dengan alat ini. Kalau biasanya mungkin dulu kolektif perbulan, itu juga kalau betul-betul disetor,” ujarnya.(net)