Operasional LRT dan Dukungan Masyarakat

Operasional LRT dan Dukungan Masyarakat
LRT (Foto Ist).

KEBERADAAN LRT bagi masyarakat Sumsel umumnya dan Palembang khususnya merupakan sebuah kebanggaan tersendiri. Pasalnya, di Indonesia saja hanya ada dua provinsi yang memiliki fasilitas ini. Jakarta dan Palembang. Lalu, kenapa sampai saat ini keberadaan kereta canggih ini masih menjadi fenomena terkait besarnya biaya operasional dan masih sepinya penumpang.

Kepedulian pemerintah baik Pusat maupun daerah (Sumsel dan Palembang) tak diragukan lagi terhadap kelangsungan operasional kereta canggih ini. Kebijakan mewajibkan para pegawai Aparat Sipil Negara (ASN) naik LRT sudah diberlakukan baik oleh Pemprov Sumsel maupun Pemkot Palembang. Bahkan kepada seluruh pelajar diimbau agar naik LRT. Ini dalam rangka menyikapi sepinya penumpang sementara fasilitas yang luar biasa megahnya sudah di depan mata bisa dinikmati kita semua.

Bayangkan saja, ketika kita berada di stasiun LRT, sebut saja di Stasiun Bumi Sriwijaya misalnya. Dengan fasilitas yang seperti di negara-negara maju Singapura atau Eropah, kita ketika berada di dalam stasiun betul-betul merasakan kenyamanan yang luar biasa. Lalu, pas keluar sudah berhadapan dengan pusat perbelanjaan yang juga tak kalah modernya, Palembang Icon (Picon). Ini baru di satu titik stasiun saja. Belum di seluruh lokasi stasiun LRT yang semuanya memberikan fasilitas yang sama standarnya.

Belum lagi, koneksi keberangkatan dan kedatangan dengan biaya yang super murah. Bebas macet, AC full dingin, dan pemandangan yang luar biasa dari atas sepanjang jalan menikmati suasana Palembang mulai dari Jakabaring sampai ke Bandara SMB II. Lalu, ketika Lokakarya Peran LRT Dalam Meningkatkan Perekonomian Provinsi Sumatera Selatan dilaksanakan di Hotel Beston Jalan Letkol Iskandar, Selasa (8/10) dengan dihadiri oleh Kepala Dinas Perhubungan Sumatera Selatan Drs. Nelson Firdaus. MM, Direktur Lalulintas dan Angkutan Kereta Api Ir. Dianto Restiawan,  Kepala Balai Pengelolaan Kereta Api Ringan Rosita, Dishub Provinsi Ahmad Wahidin S. ST, ST, MT, Universitas Sriwijaya Prof Dr Ir Erika Bukhari dan PT. KAI Persero Sofan Hidayah. Pada momen ini terungkap bahwa biaya operasional terkait listrik sangat besar. Untuk tarif transisi yang KCI Komputer line, untuk tarif ringnya perbulan 3,5 miliar. Belum biaya-biaya lainnya.

Nah, lalu bagaimana dengan sikap kita sebagai masyarakat. Peran serta kita ditunggu. Meski hanya segelintir kita, per orang Rp 10 ribu atau Rp 5.000 lumayan sebagai wujud partisipasti kita menjaga eksistensi dan keberlangsungan kereta cepat ini. Ayo, kalau bukan kita siapa lagi, kalau bukan sekarang kapan lagi?