Menatap Asa di Embun 'Toga' dan 'Sorga'

Menatap Asa di Embun 'Toga' dan 'Sorga'
Para ibu dengan tanaman toga dan sorga yang didudidayakan dan dikelola di Desa Karya Mulya Kecamatan Rambang Kapak Tengah (RKT), Kota Prabumulih, Provinsi Sumatera Selatan.

PRABUMULIH, MEDIASRIWIJAYA.com - SEKILAS tak ada yang istimewa dari sosok Entin (30 tahun) salah satu warga di Desa Karya Mulya Kecamatan Rambang Kapak Tengah (RKT), Kota Prabumulih, Provinsi Sumatera Selatan. Seorang ibu rumah tangga dengan tiga anak masih sekolah dan yang tertua sudah mengenyam pesantren di kawasan Provinsi Lampung. Duduk di tenda bersama para ibu lain saat menyambut kedatangan Wakil Walikota Prabumulih dalam rangka peresmian Kawasan Pertanian dan Toga Organik (Pertaganik) oleh Pertamina Asset 2 Limau pada Selasa (1/10/2019).

Entin dengan senyum sumringah dan pasti menatap masa depan anak-anak dan keluarganya.

Namun ketika didekati dan diajak bercengkrama, aura gembira dan sepertinya sangat pasti menapak masa depan terlihat jelas dari wajahnya yang dibalut jilbab biru. "Pasti Bu. Saya sekarang merasa pasti menapak masa depan anak-anak saya. Sebelumnya, jujur saja awalnya saya agak gamang memikirkan nasib anak-anak dengan sekolah mereka. Suami saya hanya seorang guru yang penghasilan cukup alias pas-pasan sebulan. Selama ini saya tidak bisa berbuat apa-apa mau cari tambahan penghasilan," kata Entin memulai cerita ketika dibincangi di sela acara penyambutan Wakil Walikota Prabumulih dan Tim Pertamina EP Asset 2.

Entin adalah warga di Desa Karya Mulya merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Rambang Kapak Tengah (RKT), Kota Prabumulih, Provinsi Sumatera Selatan. Desa yang merupakan peninggalan dari program Transmigrasi Plasma Perkebunan Inti Rakyat (PIR) Kebun Kelapa Sawit PT P Nusantara VII ini memiliki keberagaman suku, budaya dan agama. Meskipun sebelumnya dikenal sebagai daerah penghasil kelapa sawit terbesar di Kota Prabumulih, namun secara perlahan masyarakatnya sudah mulai meninggalkan usaha pertanian kelapa sawit dan beralih menjadi petani karet. Untuk menunjang perekonomian masyarakatnya, warga sekitar juga melakukan usaha bercocok tanam dan beternak unggas, kambing dan sapi. "Tapi hasil dari karet sekarang tidak memadai. Apalagi musim kemarau seperti ini, apa yang bisa diharapkan dari getah karet. Sama seperti yang lain, saya pun menanam sayuran tapi hasilnya memang tidak maksimal karena kami hanya tahu menanam saja tanpa tahu ilmu-ilmu atau teknik menanam yang baik. Sampai akhirnya desa kami mendapat bantuan dari Pertamina dan seperti yang ibu lihat sekarang, kami sudah bergelut dengan tanaman 'toga' dan 'sorga'. Berkat bantuan Pertamina yang mendatangkan pelatih dan kami mengikuti pelatihan-pelatihan. Ini yang membuat saya yakin bahwa akan ada pencerahan masa depan keluarga kami," kata Entin.

Sejak mengikuti pelatihan yang merupakan bagian dari program CRS Pertamina EP Asset 2 Limau Field, Entin mengaku bisa memanfaatkan apa saja yang ada di sekitarnya yang selama ini tak pernah terpikirkan olehnya bahwa itu bermanfaat dan bisa disulap jadi uang. "Bayangin aja Bu, selama ini saya tidak tahu kalau nasi bekas dan basi itu bisa diubah jadi pupuk cair yang kalau di sini kita namai MOL. Belum lagi apa-apa yang sifatnya sampah dan tak berguna selama ini bisa disulap juga jadi bahan campuran pupuk buatan kami sendiri. Pokoknya sekarang ini semua jadi berguna Bu," kata Entin sambil tertawa lepas.

Entin pun mulai berhitung. Dengan tanaman yang baru sekitar tiga bulan digelutinya memang baru menghasilkan rupiah yang tidak seberapa yaitu hanya dalam itungan berbagi hasil bersama beberapa rekan satu kelompok taninya. "Dalam 1 minggu bisa dapat uang sekitar Rp 200 ribu dari hasil penjualan sayur kangkung di kelompok kami. Itu kami kumpulkan dulu. Rencananya masih dipakai buat modal lagi. Tapi dalam waktu dekat kami akan mulai menanam jahe sesuai arahan dari Bapak-Bapak dari Pertamina yang nantinya akan menampung tanaman jahe kami untuk dijual ke pabrik jamu, infonya,"kata Entin seraya menjelaskan hitungannya secara sederhana. Bahwa nanti jika panen sayurannya rutin maka per minggu dia akan mendapatkan uang tambahan yang akan dijumlahkan dalam satu bulan sekitar Rp 1 juta sampai Rp 1.5 juta. Selain tanaman sayur kangkung, juga ada beberapa tanaman cepat panen lain seperti cabe, tomat, seledri dan beberapa sayuran lain. "Kalau nantinya berhasil semua, sesuai dengan informasi yang kami peroleh, penghasilan kami bisa lebih dari angka itu. Insya Allah mudah-mudahan terwujud," harap Entin yang secara gamblang menjelaskan bahwa anaknya yang tertua saat ini sedang menempuh pendidikan di salah satu pondok pesantren di Provinsi Lampung. Besar harapan Entin anaknya bisa menyambung pendidikan ke jenjang strata satu (S1) alias kuliah. "Yakin sih yakin, awalnya dengan gaji suami yang guru PNS selama ini tapi memang kesulitan karena dengan tiga anak hanya mengandalkan gaji suami. Kami harus super prihatin hidupnya. Jika selama ini sayur dan lauk pauk beli tiap hari keluarin uang sekitar Rp 50 ribu maka sekarang uang itu bisa disimpan. Saya tidak perlu lagi beli sayur-sayuran, sudah ada di pekarangan sendiri malah bisa jual seminggu sekali. Sekarang bisa nabung uang belanja tiap hari dikumpulin buat biaya anak-anak sekolah dan merajut masa depan mereka, Pokoknya saya gembira deh. Senang dan penuh percaya diri ke depannya," kata Entin sambil menatap tanaman toganya yang sejuk dan masih berembun.

Adalah Ibu Yoto yang akrab sapaannya sehari-hari, yang juga tinggal di wilayah Karya Mulia ini. Bu Yoto yang usianya sudah di atas 60 tahun namun masih terlihat sangat enerjik ini adalah salah satu Ketua Kelompok Toga yang sudah mengeluti dana bantuan CSR Pertamina EP Asset 2 ini. "Saya bergembira karena bantuan dari Pertamina ini tak pernah putus sejak 2014 lalu. Desa kami ini mayoritas dulunya adalah pendatang dengan mata pencarian berkebun. Alhamdulilah, sekarang ini kami para ibu-ibu di sini sudah mendapatkan hasil sendiri tak mengandalkan suami,"kata Bu Yoto yang terlihat sumringah ketika kelompok toganya didatangi Wakil Walikota Prabumulih untuk melakukan panen perdana tanaman toga awal Oktober 2019 lalu.
Bu Yoto yang menceritakan bahwa suaminya seorang TNI dan sekarang sudah pensiun menjadi satu dari puluhan kepala keluarga yang hijrah ke wilayah ini sebagai transmigran. Posisi sekarang dengan satu anak yang disebutkannya alhamdulilah mendapat kesempatan menempuh pendidikan S2 (strata dua) di luar Sumsel. "Anak saya alhamdulilah dapat beasiswa kuliah di luar Sumsel. Saya bersyukur sekali. Tapi meskipun sudah dapat beasiswa tapi kan perlu juga biaya-biaya tambahan buat dia kuliah selama di sana. Jadi dengan adanya penghasilan seperti ini saya tidak lagi risau memikirkan dari mana dapat uang buat rutin kirim ke anak di sana. Penghasilan kami sudah berkisar Rp 200 ribu per minggu. Itu baru dari penjualan sayuran kangkung dengan areal tanaman yang terbatas ini. Apalagi kalau lahan kami luas, bisa lebih dari itu hasilnya. Pokoknya sekarang banyak rencana yang akan saya buat ke depan. Baik demi kebaikan kami keluarga maupun demi kebaikan teman-teman di sini. Kami gembira karena ke depan sudah ada celah yang bisa kami andalkan untuk menambah pendapatan keluarga," kata Bu Yoto sambil memberikan sirup buah rosella yang ditanam juga di areal toga milik kelompoknya. Bu Yoto pun tak segan berbagi ilmu bagaimana cara mengolah tanaman rosella ini menjadi sirup dan siap dijual. Rosella salah satu jenis tanaman obat yang dibudidayakan untuk diolah jadi minuman rosella, teh mint, kopi stamina dan seje manis (Serai Jeruk Kayu Manis) yang keseluruhan bahannya dipanen dari pekarangan sendiri. Bu Yoto juga dengan mahir menjelaskan beberapa tanaman obat yang dulunya dikira masyarakat tanaman atau rumput liar yang tumbuh di sekitar tempat tinggal mereka. "Ada yang buat stamina, ada buat obat KB, ada buat penyakit kolesterol, asam urat dan sebagainya. Awalnya kami tidak mengetahui jika jenis tanaman yang selama ini kita anggap sebagai rumput atau tanaman liar ternyata memiliki khasiat untuk kesehatan. Misalnya saja tanaman putri malu, tempuyung, stevia, urang aring, ketupang air, sidoguri, bandotan, senggani, pecut kuda, rumput teki dan tanaman obat lainnya. Setelah kami tahu tanaman itu ada manfaatnya maka kami sengaja menanam dan merawat tanaman itu sebagai alternatif pengganti obat untuk kesehatan. Itu semua kami ketahui dari pelatihan yang disampaikan oleh pendamping kelompok," kata Bu Yoto yang sempat membagikan beberapa jenis tanaman obat buat penulis bawa pulang sebagai oleh-oleh dan kenangan dari dia.

Bu Yoto bersama tanaman toga dan sorga yang dikelola bersama tim kelompoknya.

Bagaimana awalnya bisa optimis? "Awalnya memang bantuan yang kami dapat terbatas dalam hal material seperti bibit dan pupuk tapi dengan bekal pelatihan yang gratis didatangkan dari Pertamina, kami dapat ilmu dan itu mulai kami terapkan. Hasilnya, di awal memang cukup makan keluarga saja. Bulan-bulan selanjutnya sudah bisa jual ke pedagang untuk dibawa ke pasar Prabumulih sayuran kami. Kangkung misalnya. Sekarang tiap hari pembeli kangkung sudah bisa dapat dari sini sayurnya. Kami sudah menanam kangkung dengan sistem atau pola yang bisa dipanen dengan waktu yang berbeda. Artinya tiap hari pasti ada kangkung di sini yang bisa dibeli," kata Bu Yoto yang juga mengaku siap menyambut adanya wacana untuk menanam jahe sesuai dengan permintaan pihak ketiga yang akan dimediasi pihak Pertamina EP Asset 2.
Pada kesempatan ini Bu Yoto sempat berbagi cerita yang menurut penulis lumayan juga menyegarkan pikiran sesaat. "Dulu setiap ada kenduri/hajatan atau sedekahan di sini, sisa-sisa makanan abis cuci piring atau perabot langsung dibuang atau buat makanan ayam. Sekarang, para ibu-ibu di sini pada doyan datang ke tempat hajatan hanya untuk melihat banyak apa tidak sisa nasi bekas makan tamu-tamu. Untuk apa? Berbekal ilmu yang diberikan pelatih yang didatangkan Pertamina, kami jadi tahu kalau sisa nasi basi atau nasi bekas itu bisa diolah jadi pupuk cair. Itu MOL yang dijual per kemasan Rp 15 ribu sampai Rp 20 ribu itu, bahan bakunya dari nasi bekas lo. Wah sekarang ini kami di sini merasa semuanya bermanfaat bisa digunakan. Itu dulu ya jadi sampah aja. Sekarang ini semua bisa jadi berguna,"kata Bu Yoto sambil tersenyum sumringah.

Penulis yang merupakan satu dari sekitar 50-an jurnalis dari berbagai media baik cetak, elektronik radio dan televisi serta media online mendapat kesempatan berkunjung ke dua lokasi yaitu di Kab Muba dan Kab Prabumulih. Penulis kebagian di lokasi ini dengan difasilitasi pihak SKK Migas dan Pertamina EP Asset 2. Adalah Kawasan Pendampingan Pertanian dan Toga Organik (Pertaganik) yang dikelola oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) di bawah binaan PT Pertamina EP Asset 2 Limau Field yang saat ini tengah ditekuni oleh sekelompok masyarakat desa setempat.

Suasana kunjungan jurnalis sekaligus panen perdana tanaman toga di Desa Karya Mulya Kecamatan Rambang Kapak Tengah (RKT), Kota Prabumulih, Provinsi Sumatera Selatan.

Salah seorang tim panitia pendamping para jurnalis, Atika Rusy yang juga sebagai Government Relations Analyst menjelaskan bahwa bantuan CSR yang digulirkan Pertamina EP Asset 2 ini sudah sejak 2014 lalu. Awalnya hanya ada 1 kelompok untuk toga ini namun sekarang sudah ada 7 kelompok. "Bantuan CRS diberikan ke semua wilayah kerja Pertamina EP Asset 2 dan field-fieldnya. Bantuan tidak pernah dalam bentuk uang karena CSR itu harus mendidik. Dengan program yang memberdayakan masyarakat, bentuknya langsung bantuan barang serta bimbingan. Targetnya sustainable alias berkelanjutan sehingga masyarakat bisa mandiri," kata Atika seraya menyebutkan bahwa bantuan CSR di wilayah ini awalnya hanya 1 kelompok, sekarang sudah 7 kelompok. Disebutkan Atika, CSR yang digulirkan dengan tujuan bagaimana dampak berganda yang dirasakan masyarakat. Efek berganda (multiplier effect) kegiatan usaha hulu migas di daerah. "Bagaimana KKKS turut memajukan daerah khususnya di sektor-sektor ekonomi, budaya, lingkungan, pendidikan, kesehatan. Misalkan dapat memperlihatkan kontribusi hulu migas pada penguatan keekonomian masyarakat, penguatan pendidikan, pembinaan kelompok tani atau UMKM seperti yang dilakukan di Pertaganik di sini. Ini sebagai bukti bahwa 
tidak hanya DBH (dana bagi hasil) Migas, Industri Hulu Migas ternyata memiliki banyak kontribusi bagi kemajuan daerah seiring dengan program-program pokok yang dicanangkan oleh Pemerintah Daerah," tambah Atika

Peresmian kawasan Pertaganik dan media field trip Pertamina EP Asset 2 Limau Field

Terkait wacana ikut memfasilitasi dengan pihak ketiga yang berminat memasok hasil Pertaganik, disebutkan Atika tentu ada wacara ke ara sana dan sedang menuju. "Tentunya kualitas produk harus selalu unggul dan konsisten. semoga segera terlaksana," ujarnya seraya menambahkan bahwa saat ini pihaknya fokus kepada keberhasilan dan mengupayakannya dengan segenap jiwa. Terkait program lain, tidak terpengaruh keberhasilan di Karya Mulia. Jadi tetap berjalan, program di desa lain banyak mulai dari peternakan hingga pertanian, dari bantuan kesehatan hingga pendidikan. Atika mencontohkan bidang lingkungan, pihaknya selalu melakukan tanam 1000 pohon setiap kali melakukan explorasi atau pengeboran. "Di luar itu pun kami menanam. 
ada bantuan beasiswa sekolah lanjutan bagi putra daerah untuk sekolah di Akamigas. hingga sekarang sudah sekitar 26 anak mendapat beasiswa penuh. Selain itu bantuan pembangunan kelas dan peralatan sekolah juga sering dan berkelanjutan disalurkan oleh field-field di Asset 2. Selanjutnya bidang kesehatan juga salah satu aspek yang kami perhatikan untuk CSR, sunat masal contohnya. selain itu bantuan-bantuan dukungan sponsorship acara kesehatan juga tak henti kami realisasikan. Toga-toga ini sudah sering diorder konsumen di luar Sumsel, Lampung dan Jawa misalnya. Memang belum massive pasarnya di luar Sumsel namun kami yakin dari sedikit akan terus berkembang," kata Atika optimis.

Khusus CSR program Pertaganik ini, tujuh KWT yang dibentuk di Desa Karya Mulya, di antaranya Karya Lestari, Karya Maju, Karya Bersatu, Tempuyung, Turi Putih, Sari Tani dan Bina Bersama telah mengembangkan inovasi pertanian sehat ramah lingkungan berkelanjutan dengan media pemanfaatan pekarangan rumah. Berbagai jenis tanaman sayuran organik (sorga) seperti kangkung, bayam, selada, sawi hijau, kubis, cabai, terong, timun, bawang dan jenis sayuran lainnya tampak tumbuh subur di sejumlah pekarangan rumah warga yang dijadikan sebagai lahan Pertaganik. Selain sayuran, sejumlah tanaman obat keluarga (toga) yang selama ini dianggap sebagai gulma juga dibudidayakan oleh kelompok tani ini untuk diolah menjadi jamu dan obat-obatan herbal. Sayuran dan tanaman organik yang dihasilkan dari kebun ini bisa memenuhi kebutuhan untuk keluarga. Karena warga desa ini tidak perlu lagi membeli di pasar, melainkan tinggal memetik dari pekarangan rumah sendiri.

Tanaman rosella yang tumbuh subuh dan siap menjadi sumber penghasilan keluarga di Desa Karya Mulya.

Selain dapat dinikmati sendiri sebagian hasil panen kebun Pertaganik juga dipasarkan sebagai tambahan penghasilan keluarga. Apalagi sayuran yang dihasilkan lebih terjamin kesegarannya karena pupuk yang digunakan adalah pupuk organik yang tentunya tidak berbahaya bagi kesehatan yaitu dengan nama MOL yang diproduksi para ibu di sini.

Menikmati sirup rosella sambil mengamati berbagai jensi tanaman toga dan sorga di Desa Karya Mulya.

Segarnya sirup rosella karya ibu-ibu di Desa Karya Mulya yang dinikmati para tamu dan undangan,  Selasa (1/10).

Nur Kholik yang ditunjuk PT Pertamina EP Asset 2 Limau Field sebagai pendamping KWT Desa Karya Mulya dengan suka cita pada kesempatan ini berbagi cerita dengan penulis dan para jurnalis lainnya. Ia mengaku program Pertaganik yang sehat ramah lingkungan berkelanjutan memiliki banyak manfaat dibandingkan pertanian konvensional pada umumnya. "Pada dasarnya kedua sistem pertanian ini menggunakan teknik yang sama. Hanya saja yang menjadi perbedaan adalah penggunaan bahan untuk membantu proses pertumbuhan dan hasil tanaman. Seperti yang Anda lihat sendiri hasilnya," katanya di sela kunjungan para jurnalis di lokasi ini, Selasa (1/10).

Lebih jauh Kholik menjelaskan, dalam sistem organik bahan yang digunakan relatif aman karena berbahan dasar dari alam. Sedangkan sistem konvensional lebih cenderung menggunakan bahan-bahan yang mengandung zat kimia untuk mempercepat proses panen tanaman. Akan tetapi sistem ini kurang baik untuk kesehatan tubuh dan lingkungan. Pupuk cair MOL yang diproduksi sendiri oleh KWT untuk digunakan sebagai pengganti pupuk kimia pada tanaman. Selain memberikan arahan atau ilmu tentang Pertaganik, pihaknya juga membekali para kelompok tani tentang ilmu pengolahan pupuk organik, berupa pupuk kompos dan Mikro Organisme Lokal (MOL) sebagai media untuk pengganti pupuk kimia. "Bahan yang digunakan untuk pengolahan pupuk organik dan MOL ini pun juga sangat mudah didapatkan, yakni dari sisa hasil produksi pertanian. Semuanya dapat diolah menjadi pakan, kompos dan pupuk dengan sedikit sentuhan teknologi, salah satunya adalah dengan MOL itu sendiri. Limbah yang dapat digunakan untuk proses pembuatan MOL di antaranya adalah limbah rumah tangga berupa nasi sisa, limbah buah, limbah sayur dan limbah rumah tangga lainnya. Sedangkan limbah dari sisa hasil pertanian di antaranya bonggol pisang, rebung bambu, kulit buah-buahan serta limbah organik dari keong dan limbah udang. Semua sudah tersedia di sini, di tengah kehidupan sehari-hari masyarakat di sini yang dulunya hanya sebagai sampah tersia-sia bahkan dibuang begitu saja," ujar Kholik yang terlihat juga sumringah karena berdasarkan pantauannya masyarakat di sini sudah optimis tidak seperti di awal program yang diterapkan masyarakat terlihat pesimis. Penulis pun ikut optimis karena pada kesempatan ini ikut membeli beberapa ikat sayur kangkung dan MOL yang dijual pada kegiatan peresmian ini. Bebas bahan kimia, itulah yang menjadi daya tarik sehingga penulis pun ikut tertarik untuk membeli selain harga yang ekonomis tentunya.

Salah satu jenis tanaman obat yang selama ini dikira rumput liar dan tak ada gunanya, ternyata bisa menjadi obat mengurangi kadar kolesterol di tubuh.

Mau bukti? Wakil Walikota Prabumulih H Andriansyah Fikri bersama Ketua Tim Penggerak PPK Kota Prabumulih Hj Suryanti Ngesti Rahayu melakukan panen perdana Tanaman Obat Keluarga (TOGA) di Desa Karya Mulia Kecamatan Rambang Kapak Tengah (RKT) Selasa, 1 Oktober 2019Desa Karya Mulia menyediakan beragam jenis TOGA seperti tomat (solanum lycopersium), terong (solanum melongena), kumis kucing (orthosiphon aristatus), lidah buaya (aloe vera), daun pegagan (centella asiatica), lidah mertua (sanseviera), kangkung (ipomoea aquatica) dan banyak lagi. "Warga Desa Karya Mulia sudah menanam aneka jenis TOGA lima bulan yang lalu, dibimbing langsung Yayasan Kurius dari Jawa Barat. Kegiatan ini mendapat dukungan dana Corporate Social Responsibility (CSR) Pertamina Eksplorasi Produksi( EP) II," ujar Wakil Walikota dengan wajah yang juga sumringah. 

Wakil Walikota Prabumulih bersama Ketua Tim Penggerak PKK Kota Prabumulih sumringah sambil mengacungkan jempol ketika berada di tengah hijaunya sayur kangkung yang siap dipanen dan dipasarkan pada panen perdana ini.

Selain panen perdana, Wakil Walikota Prabumulih H Andriansyah Fikri dan Ketua Tim Penggerak PPK Kota Prabumulih Hj Suryanti Ngesti Rahayu mencicipi teh dari tanaman Rosella (Hibiscus Sabdariffa) serta sejumlah kreasi penganan dari tanaman organik, yang dirawat tanpa menggunakan pestisida. "Saya atas nama pribadi dan seluruh jajaran Pemerintahan Prabumulih bangga atas kemampuan warga Desa Karya Mulia, terutama kelompok tani wanita, karena dapat memproduksi TOGA dan SORGA tanpa sentuhan zat kimia,"katanya.

Di tempat yang sama, Ketua Tim Penggerak PKK Kota Prabumulih Hj Suryanti Ngesti Rahayu yang ikut hadir pada kesempatan ini juga berharap panen perdana ini dapat mendongkrak ekonomi di Desa Karya Mulia. "Saya senang dan bangga melihat kemandirian warga terutama kaum wanita dalam mencukupi kebutuhan sayur mayur sendiri," ujar Hj Suryanti optimis. 

Pastilah! Optimis Pak Wakil Walikota Prabumulih, optimis Ketua Tim Penggerak PKK Kota Prabumulih, optimis jajaran manajemen Pertamina EP Asset 2, dan optimis Nur Kholik, tapi lebih optimis Entin, Bu Yoto dan para ibu lain. Optimis menatap asa mereka di sejuknya embun yang menempel di 'toga' dan 'sorga' Desa Karya Mulya Kecamatan Rambang Kapak Tengah (RKT), Kota Prabumulih, Provinsi Sumatera Selatan. (saftarina)