Ketika Perempuan Tak Bisa Bersuara

Ketika Perempuan Tak Bisa Bersuara
(Foto ist)

Oleh Yulia Savitri

Resensi Buku

Judul Buku : Kim Ji-Yeong, Lahir Tahun 1982

Penulis : Cho Nam-Joo

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit : Jakarta 2019

Tebal : 192 hlm, 20 cm

 

Sejalan dengan penayangan film adaptasinya di layar lebar November 2019 lalu, novel Kim Ji-Young, Born 1982 turut diterbitkan di Indonesia pada tahun yang sama. Hanya saja, versi Indonesianya judul tersebut berubah menjadi Kim Ji-Yeong, Lahir Tahun 1982. Perubahan yang mencolok karena berkaitan dengan nama tokoh utama.

 

Tema diskriminasi terhadap perempuan dan kesehatan mental yang cukup relevan tampaknya menjadi alasan penerbit Gramedia Pustaka Utama (GPU) untuk menerjemahkannya. Padahal di negara asalnya, novel karya Cho Nam-Joo ini menjadi kontroversi karena menampilkan fakta-fakta patriaki di Korea Selatan. 

 

Kim Ji-Yeong, Lahir Tahun 1982 berkisah tentang kehidupan perempuan muda usia 30-an yang depresi karena ketidakmampuannya menyuarakan isi hati di tengah tekanan lingkungannya. Gejala depresi itu mulai disadari keluarga ketika Kim Ji-Yeong, si tokoh utama, tiba-tiba berbicara bagaikan orang lain. 

 

Ada kala ia mengingatkan orangtuanya seakan mendiang sang nenek yang menyampaikan. Pernah ia menasihati suami seolah-olah ibunya yang menasihati. Kim Ji-Yeong juga dibuat heran ketika berbicara persis kakak perempuannya atau sahabat masa kuliahnya dulu. Bisa dikatakan, sosok perempuan-perempuan lain ini mewakili dirinya untuk berbicara tentang hal-hal yang selama ini sulit diutarakan.  

 

Dae Hyeon, akhir-akhir ini Ji-Yeong sedang sedih. Secara fisik dia memang sudah membaik, tetapi pikirannya resah. Sering-seringlah kau menghibur dan berterima kasih kepadanya,” (hlm 11-12)

 

Diceritakan, Kim Ji-Yeong merasa terpuruk ketika menyadari harus melepas cita-cita dan karir profesionalnya setelah melahirkan. Meski banyak perempuan lain yang bisa menjalani dengan seimbang antara kehidupan keluarga dan pekerjaan, tapi bagi Kim Ji-Yeong tidaklah mudah. Sebab, sejak kecil ia sudah dihadapkan pada pandangan sosial bahwa perempuan Korea harus mengurus sendiri anak dan rumah tangga. 

 

Tak hanya itu, tekanan lain yang dialami Kim Ji-Yeong adalah ia terlahir dalam keluarga yang mengharapkan anak laki-laki. Kelahiran anak perempuan di Korea Selatan masa itu bukanlah suatu kebanggaan. Penulis bahkan menautkan data statistik nasional terkait angka aborsi atas janin perempuan, sehingga menimbulkan ketidakseimbangan perbandingan gender. 

 

Patriaki yang tersistem di Korea Selatan juga memberi luka bagi Kim Ji-Yeong sejak kecil. Aspirasi perempuan benar-benar tidak mendapatkan ruang. Misalnya siswa perempuan tetap disalahkan ketika diganggu siswa laki-laki, mahasiswi tidak direkomendasikan oleh dosen untuk magang di perusahaan ternama, atau juga tidak pernah mendapat promosi kendati diakui sebagai karyawan teladan. Penulis berhasil menuangkan fakta-fakta tersebut dalam balutan fiksi di novel ini. Cukup membantu pembaca untuk memilahnya karena kisah Kim Ji-Yeong dibagi dalam enam bab. Masing-masing bab menceritakan tahun-tahun perjalanan hidupnya sekaligus masalah diskriminasi gender yang terjadi.

Meski Kim Ji-Yeong hanyalah tokoh fiktif, tapi terasa dekat dengan masalah perempuan sesungguhnya. Boleh jadi kondisi itu dialami perempuan-perempuan di dunia. Hanya saja, dari sisi kesehatan mental, karakter Kim Ji-Yeong adalah perempuan yang tidak berani menyuarakan keresahan di saat-saat merasa tak adil. Puncaknya, Kim Ji-Yeong mengalami depresi yang ia sendiri tidak menyadarinya. Sehingga, kisahnya menjadi lebih memilukan. 

Secara umum, konflik yang disajikan sangat bisa membuka mata dunia. Hanya saja novel ini tidak seperti karya fiksi. Terlalu banyak data laporan di dalam sebuah novel. Pembaca disuguhkan data Kementerian Tenaga Kerja Korea tentang pertumbuhan tenaga kerja perempuan, hingga data laporan tentang tingkat partisipasi perempuan dalam perekonomian negara. Di bagian akhir novel dilampirkan pula tulisan dari seorang sarjana bidang kajian perempuan korea. Ia mengkaji dunia misogini dari isi novel. 

Namun, dari data dan kajian yang mengganggu itu tentu menjadi pengetahuan bagi pembaca. Terutama tentang rumitnya persoalan gender, serta pentingnya menjaga kesehatan mental dengan berani bersuara. 

"Apakah Kim Ji-Yeong mampu menemukan kembali suaranya yang hilang? Pembaca buku ini harus bersama-sama mencari jawabannya. Karena kita semua adalah Kim Ji-Yeong." (hlm 190)

Catatan terakhir, Kim Ji-Yeong adalah simbol perempuan yang memilih diam ketika melihat dan merasakan ketidakadilan. Namun, di sisi lain masih ada sosok-sosok perempuan yang memilih bersuara.

Novel ini juga menunjukkan simbol perempuan-perempuan berani itu, seperti ibu Kim Ji-Yeong sendiri, yang sanggup menyuarakan pendapatnya di dalam sistem patriarki keluarga. Adapula teman sekolah Kim Ji-Yeong yang mengacungkan tangan menolak peraturan kelas, atau Kang Hye Soo rekan kerja yang berani melaporkan rekan kerja pria yang memasang perekam di toilet kantor. Mereka menunjukkan bahwa keputusan untuk bersuara dalam lingkup kecil sekalipun adalah keputusan yang benar.

*Anggota AJI Palembang